Kamis

#bacabuku Neper Split Bagian Tiga

Infografis: Email Sakti & Tangga Perubahan

EMAIL SAKTI & TANGGA CNU

Jurus Terakhir Menundukkan Negosiasi

Email Sakti Anti-Kacang

Nggak ada yang lebih bikin emosi (ngeselin) daripada dikacangin (dicuekin). Ditolak itu emang pait, tapi nggak dapet balesan sama sekali itu nyeseknya sampai ke tulang. Antum jadi ngerasa nggak dianggap, macem orang yang nggak eksis (hidup). Dan itu bener-bener mbuang waktu antum. Kita semua pasti pernah ngalamin: Antum ngirim email ke jamaah yang lagi antum prospek buat bisnis, eh malah di-ghosting (diabaikan). Antum ngirim email follow-up yang ahsanu (sopan), eh dianggurin lagi. Terus harus ngapain dong?

Antum provokasi biar keluar kata "Nggak" pake email satu kalimat ini.

"Apa antum udah nyerah sama proyek ini?"

Intinya, email satu kalimat ini nge-rangkum (ngambil inti sari) pertanyaan berorientasi "Nggak" yang paling top dan mainin sunnatullah keengganan manusia buat nerima kerugian (loss aversion). Jawaban "Nggak" yang dituntut dari email itu ngasih ke pihak seberang rasa aman dan ilusi kalau mereka pegang komando, sekaligus mancing (ngedorong) mereka buat negasin posisi mereka dan njelasin alasannya ke antum.

GHOSTING EMAIL SAKTI

Ancaman Terselubung & Insting Manusia

Yang nggak kalah penting, ini ngasih ancaman terselubung kalau antum siap walk out (ninggalin meja) dengan syarat antum sendiri. Buat nyegah itu kejadian—buat motong kerugian mereka dan mbuktiin kuasa mereka—insting alami pihak seberang itu bakal ngebales detik itu juga dan ngasih bantahan. Nggak kok, prioritas kita belum berubah. Kita cuma lagi riweuh (repot) banget dan...

Kalau antum udah jadi orang tua, antum pasti udah ngamalin taktik ini pake insting alamiah. Apa yang antum lakuin pas bocah-bocah pada bandel ogah diajak pulang dari rumah/taman/mall? Antum bilang, "Ya udah. Abi/Umi pulang duluan ya," terus antum mulai jalan ngejauh. Ana berani taruhan, lebih dari separo kejadian mereka bakal njerit, "Nggak, tungguin!" terus lari ngejar antum. Fitrahnya manusia nggak ada yang mau ditinggalin.

Nah, mungkin ini kesannya macem adab yang kurang ajar buat ngomong sama jamaah di urusan bisnis, tapi antum wajib buang jauh-jauh rasa suuzhan itu. Ini nggak kurang ajar kok, dan walau emang kedengarannya to the point (lugas), ini dibungkus rapi pake tameng keamanan kata "Nggak."

Dikacangin itulah yang aslinya kurang ajar. Ana berani sumpah kalau ana udah sukses ngamalin taktik ini nggak cuma di Amerika Utara, tapi juga ke jamaah di dua budaya beda (Arab dan Cina) yang terkenal pantang (ogah) banget bilang "Nggak."

WALK OUT! "NGGAK, TUNGGU!"

Hikmah Penting: Taktik Anti-Sok Manis

Ngamalin tools (taktik) dari bab ini di keseharian itu emang berat buat banyak orang karena ini terang-terangan nabrak salah satu SOP pergaulan (doktrin sosial) masyarakat yang paling gede. Yaitu, "Jadilah orang yang baik (sok manis)."

Kita udah ngubah sikap "sok manis" jadi alat buat ngelumasin roda pergaulan, padahal aslinya itu cuma kedok (tipu daya). Kita pura-pura sopan dan ogah debat biar bisa ngejalanin hari dengan gesekan sekecil mungkin. Tapi gara-gara kita jadiin sikap manis ini sekadar pelumas, kita malah nyedot habis makna aslinya. Senyum dan anggukan bisa aja aslinya nyimpen arti "Bebasin ana dari sini, ya Allah!" sama gedenya kayak arti "Seneng bisa ketemu antum."

Sikap macem gitu itu kiamat (mati kutu) buat negosiator suhu, yang justru dapet kuasa lewat kemampuannya mahamin posisi pihak seberang dan ngeduk info soal hawa nafsu dan kebutuhan lawannya. Ngeduk info itu berarti wajib bikin pihak seberang ngerasa aman dan pegang komando. Dan walau kedengarannya agak aneh (kontradiksi), cara buat nyapai ke makom itu adalah dengan bikin pihak seberang nolak sepakat, bikin mereka nggarisin batesan mereka sendiri, buat negasin maunya mereka lewat apa yang nggak mereka mau.

Pas antum niat ngamalin tools di bab ini, ana saranin antum nganggep ini sebagai "Taktik Anti-Sok Manis." Bukan berarti antum jadi orang yang dzalim (nggak baik), tapi lebih ke jadi orang yang jujur (otentik). Mancing kata "Nggak" itu bakal ngelupas topeng plastik kata "Iya" yang penuh kepalsuan dan bawa antum langsung ke masalah inti (apa yang bener-bener jadi taruhan).

JUJUR TOPENG "SOK MANIS"

7 Hikmah Mantap Sepanjang Jalan

Di sepanjang jalan ini, inget terus hikmah-hikmah mantap ini:

Putusin kebiasaan (hobi) nyoba mancing orang buat bilang "iya." Maksa ngejar kata "iya" bikin jamaah otomatis pasang kuda-kuda (defensif). Saking jatuh cintanya kita denger kata "iya," kita jadi buta sama rasa defensif yang aslinya juga kita rasain pas ada orang yang maksa kita buat ngomong hal yang sama.

"Nggak" itu bukan kiamat (kegagalan). Kita udah keburu didoktrin kalau "Nggak" itu musuh bebuyutannya "Iya" dan makanya itu kata yang wajib dihindarin sejauh mungkin. Tapi aslinya kata itu seringnya cuma bermakna "Tunggu dulu" atau "Ana masih kurang sreg nih." Belajar nerima (dengerin) kata itu dengan lapang dada (kalem). Itu bukan bubarnya majelis negosiasi, tapi justru mukadimahnya (awal).

"Iya" emang tujuan akhir (goal) negosiasi, tapi jangan dijadiin inceran di awal. Maksa minta kata "Iya" kecepetan di dalem obrolan—"Bapak suka minum air putih nggak, Pak Smith?"—bikin dia langsung curiga dan ngecap antum macem sales yang nggak bisa dipercaya (kang kibul).

Ngomong "Nggak" bikin lawan antum ngerasa terlindungi, aman sentosa, dan pegang kendali, jadi sengaja pancing aja. Lewat njabarin apa yang nggak mereka mau, pihak seberang lagi mbangun batesan zona aman mereka dan dapetin rasa pede sama nyaman buat mulai dengerin antum. Makanya nanya "Ana nelpon di waktu yang kurang pas nggak nih?" itu jatuhnya selalu lebih ahsanu (baik) ketimbang "Bapak ada waktu luang sebentar buat ngobrol?"

Kadang satu-satunya jalan (ikhtiar) buat bikin pihak seberang mau dengerin dan nyambung sama antum adalah dengan maksa (mancing) mereka ngomong "Nggak." Itu artinya dengan sengaja ngasih label ngawur (salah) ke salah satu emosi atau kemauan mereka, atau ngasih pertanyaan konyol (nggak masuk akal)—macem, "Kelihatannya antum emang niat bikin proyek ini ambyar (gagal) ya"—yang cuma bisa dijawab pake bantahan (jawaban negatif).

Negosiasi (Bujuk) di alam bawah sadar (dunia) mereka. Ngebujuk itu bukan perkara seberapa cerdas, seberapa licin, atau seberapa kenceng otot antum. Ini murni soal gimana caranya pihak seberang yakin seyakin-yakinnya kalau solusi yang antum ajuin itu aslinya ide mereka sendiri. Jadi jangan hajar mereka pake dalil (logika) mutlak atau adu urat. Lempar pertanyaan yang mbukain jalan ke tujuan antum. Inget, ini bukan panggung buat nampang (ego) antum.

Kalau ada calon jamaah (partner) bisnis yang ngacangin antum, samperin mereka bawa pertanyaan berorientasi "Nggak" yang lugas dan to the point, yang ngasih sinyal kalau antum udah rela buat balik kanan (cabut). Nanya "Apa antum udah nyerah sama proyek ini?" itu saktinya macem ada karomahnya (ngasih keajaiban).

Dua Kata Mentransformasi Negosiasi

PANCING DUA KATA YANG LANGSUNG MENTRANSFORMASI (NGUBAH) NEGOSIASI APA AJA

Di bulan Agustus tahun 2000, gerombolan kelompok militan Islam Abu Sayyaf di Filipina selatan nyiarin kabar kalau mereka berhasil nyiduk agen CIA. Padahal faktanya nggak seviral itu, dan tawanannya juga nggak seberharga yang dibayangin pemberontak.

Abu Sayyaf nyulik Jeffrey Schilling, pemuda Amerika umur dua puluh empat tahun yang lagi mampir melancong deket markas mereka di Pulau Jolo. Pemuda asli California ini mendadak jadi sandera dengan banderol harga (tebusan) $10 juta nempel di kepalanya.

Waktu kejadian itu, ana ngejabat sebagai Agen Khusus Pengawas (SSA) yang masuk ke Unit Negosiasi Krisis (CNU) elite punya FBI. CNU ini ibarat pasukan khususnya dunia negosiasi. Unit ini nempel (kemitraan) sama Tim Penyelamat Sandera (HRT) FBI. Dua-duanya ini aset tim respons antiteroris tingkat nasional. Isinya dedengkot-dedengkot (yang terbaik dari yang terbaik).

Markas CNU ada di Akademi FBI di Quantico, Virginia. Akademi FBI ini udah kadung nempel sama panggilan "Quantico." Mau diakuin bener atau salah, Quantico udah punya nama (reputasi) sebagai salah satu pusat kiblat, kalau bukan pusat utamanya ilmu penegakan hukum. Kalau ada negosiasi yang lagi buntu dan tim negosiator di lapangan disuruh nyari wangsit (petunjuk) nanya apa tanggapan "Quantico," nah CNU inilah yang mereka hubungin.

Pulau Jolo (Krisis) F B I C N U Quantico (Solusi)

Tangga BCSM & Keajaiban "Bener Banget"

CNU yang ngerumusin taktik andalan super sakti di dunia negosiasi krisis berisiko tinggi, namanya Model Tangga Perubahan Perilaku (Behavioral Change Stairway Model/BCSM). Model ini ngedabarin lima anak tangga—mendengarkan aktif, empati, rapport (kedekatan), pengaruh, dan perubahan perilaku—yang nuntun negosiator mana aja dari sekadar kuping (dengerin) sampai ke tahap ngendaliin perilaku.

Sanad (asal-usul) ilmu dari model ini bisa ditarik balik ke psikolog gede Amerika, Carl Rogers. Beliau berpendapat kalau perubahan yang haq (nyata) itu cuma bisa kejadian kalau sang terapis nerima kondisi kliennya apa adanya—pendekatan yang masyhur dengan sebutan unconditional positive regard (penghargaan positif tanpa syarat). Sayangnya, kayak yang dijabarin Rogers, mayoritas jamaah tumbuh besar bawa mindset kalau kasih sayang, pujian, dan validasi (persetujuan) itu bersyarat, tergantung apa kita ngomong dan ngamalin apa yang jamaah lain (utamanya orang tua kita) anggap bener. Makanya, karena mayoritas dari kita ini cuma ngerasain penghargaan yang bersyarat, kita numpuhin kebiasaan (hobi) nyembunyiin sifat asli dan isi kepala kita, milih mpoles omongan kita sekadar buat nyari muka (persetujuan) tapi aslinya pelit banget kalau disuruh buka-bukaan hati.

Inilah sebabnya kenapa dari sekian banyak silaturahmi (interaksi) sosial, dikit banget yang bener-bener berujung ke perubahan kelakuan. Coba antum bayangin pasien langganan penyakit jantung koroner parah yang lagi pemulihan habis operasi bedah jantung. Pak Dokter bilang ke pasien: "Operasi ini bukan obat mujarab lho Pak. Satu-satunya jalan buat bener-bener manjangin umur Bapak ya cuma dengan ngamalin perubahan gaya hidup kayak gini..." Si pasien yang lagi euforia (seneng) ngerespon: "Siap, siap, siap, pasti Dok! Ini kesempatan (hidup) kedua saya. Saya janji bakal tobat (berubah)!"

Terus, apa mereka beneran tobat? Riset demi riset mbuktiin, ternyata nggak, nggak ada yang berubah; dua tahun habis mereka dioperasi, lebih dari 90 persen pasien sama sekali nggak ngubah kebiasaan buruk (gaya hidup) mereka.

Walaupun taruhan di negosiasi harian antum bareng anak, bos, atau klien biasanya nggak segede taruhan nyawa di negosiasi sandera (atau krisis kesehatan), tapi iklim (suasana) kejiwaan yang dibutuhin buat nyapai perubahan mendarah daging—bukan cuma sekadar nurut karena kepepet—itu ya persis sama aja.

Kalau antum sukses nuntun jamaah naik ke Tangga Perubahan Perilaku, di mana tiap anak tangga diikhtiarkan buat ngebangun tsiqoh (kepercayaan) dan silaturahmi yang makin rapet, nanti bakal ada titik temu (momen terobosan) di mana unconditional positive regard ini beneran nancep (terbangun) dan di situlah antum bisa mulai nebar pangaruh (nyetir) mereka.

Habis bertahun-tahun ngerombak (menyempurnakan) BCSM bareng taktik-taktiknya, ana berani mentoring (ngajarin) siapa aja gimana caranya nembus ke titik itu. Tapi, kayak yang udah dihafal di luar kepala sama para dokter jantung, dan yang akhirnya disadarin sama rombongan sarjana lulusan kampus bisnis yang dicekoki kitab negosiasi paling legendaris sedunia, Getting to Yes, antum kemungkinan besar belum nyampe ke titik itu kalau kata yang sering antum denger dari lawan itu baru sebatas "iya."

Entar juga antum bakal paham, kalau aslinya dua kata termanis yang barokah di negosiasi apa pun itu sebenernya adalah
"Bener banget." (That's right.)

90% GAGAL BERUBAH 1. DENGERIN 2. EMPATI 3. RAPPORT 4. PENGARUH 5. PERILAKU GOAL! "BENER BANGET"


Infografis: Epifani Halus & Kisah Schilling

BIKIN "PENCERAHAN HALUS"

Membongkar Isi Kepala & Seni Tawar Menawar

Misi Penyelamatan & Komando JTTF

BIKIN "PENCERAHAN (EPIFANI) HALUS"

Ana ini emang udah di-kodrat-kan buat nanganin kasus Schilling ini. Ana sempet dinas (ngabisin waktu) di Filipina dan punya rekam jejak (sanad) lumayan dalem urusan terorisme waktu dulu di New York City pas ditugasin di Satgas Terorisme Gabungan (JTTF).

Beberapa hari habis Schilling keciduk jadi sandera, partner ana Chuck Regini sama ana langsung terbang ke Manila buat pegang komando negosiasinya. Bareng sama Jim Nixon, dedengkot tertinggi FBI di Manila, kita ngadain musyawarah bareng petinggi-petinggi militer Filipina. Mereka ridho nyerahin (ngasih) wewenang ke kita buat nyetir negosiasinya. Terus kita langsung gas pol. Salah satu dari kita bakal manggul beban nentuin strategi negosiasi buat pihak FBI yang sekaligus mewakili pemerintah Amrik. Dan qadarullah, amanah itu jatoh ke ana. Dikasih support sama jamaah kolega ana, tugas ana itu ngerumusin strateginya, minta acc (persetujuan), dan ngamalin di lapangan.

Berkah dari nanganin kasus Schilling ini, ana akhirnya bakal diangkat jadi negosiator penculikan internasional kelas wahid punya FBI.

MANILA TOP SECRET JTTF

Abu Sabaya: Sosiopat Haus Kamera

Lawan tanding (musuh utama) kita itu Abu Sabaya, gembong pemberontak yang turun gunung langsung buat nego duit tebusan Schilling. Sabaya ini pentolan (veteran) pergerakan pemberontak yang punya track record berdarah. Kelakuannya persis macem penjahat di film-film, paket komplit teroris-sosiopat-pembunuh berdarah dingin. Dia punya daftar dosa isinya pemerkosaan, pembunuhan, sampai penggal kepala. Dia hobi ngerekam amalan (aksi) kejinya di video terus disetor ke media Filipina.

Sabaya selalu nongol pake kacamata item, bandana (ikat kepala), kaos oblong item, plus celana loreng. Dia mikirnya itu bikin gaya dia kelihatan lebih macho. Kalau antum nyari foto teroris Abu Sayyaf dari era itu, antum pasti nemu satu orang yang pamer pake kacamata item. Ya itu si Sabaya.

Sabaya ini gila kamera (cinta mati sama media). Dia nyimpen nomer kontak reporter Filipina di speed dial hapenya. Nanti mereka bakal nelpon dan nanya pake bahasa Tagalog, bahasa ibu si Sabaya. Tapi si Sabaya ini bakal sok-sokan ngejawab pake bahasa Inggris gara-gara dia pengen suaranya didenger sedunia lewat CNN.

"Mereka itu harusnya ngebikinin film soal ana," gitu bacotnya ke wartawan.

Di mata ana, Sabaya ini murni businessman kejam yang punya ego segede benua. Bener-bener hiu haus darah. Sabaya paham betul kalau dia lagi main di lapak jual-beli komoditas (barang dagangan). Si Jeffrey Schilling ini di matanya cuma barang yang ada harganya. Berapa fulus yang bisa dia peres dari nyawa ini? Dia bakal ngetes pasar, dan niat ana adalah ngasih dia "kejutan" (surprise) yang nggak bakal dia senengin. Sebagai agen FBI, niat ana cuma ngebebasin sandera dan nyeret penjahat ini ke meja hijau.

EGO SOGEDE BENUA MEDIA CALL HAUS DARAH

Kalkulasi Bisnis & Duit Palsu Khadafi

Salah satu rukun (aspek krusial) dari setiap negosiasi itu adalah ngulik gimana pihak musuh ngerumusin banderol posisinya. Sabaya mbanderol fulus tebusan $10 juta murni pake kalkulasi (hitungan) bisnis.

Pertama, pemerintah Amrik waktu itu lagi ngeluarin sayembara ngasih $5 juta buat siapa aja yang bisa ngasih info yang berujung ke penangkapan buronan sisa kasus pemboman World Trade Center tahun 1993. Otaknya Sabaya mikir (berdalil), kalau Amrik aja rela buang $5 juta murni buat nangkep musuhnya, harusnya mereka berani bayar jauh lebih mahal buat nebus warga negaranya sendiri.

Kedua, faksi saingan Abu Sayyaf baru-baru ini dikabarin dapet kucuran dana $20 juta hasil nyandera enam bule Eropa Barat. Bos diktator Libya, Muammar Khadafi, yang turun tangan bayarin pake kedok "bantuan pembangunan." Yang bikin tambah konyol, sebagian gede dari duit tebusan itu ternyata dibayar pake duit palsu. Itu jadi celah buat Khadafi buat permaluin pemerintah Barat sekaligus ngalirin duit "halal" ke kelompok militan yang sepaham sama dia. Ana jamin dia ngakak terus nginget kejadian itu sampai ajal ngejemput dia.

Tapi ya tetep aja, harga pasar udah kadung dipatok. Sabaya ngitung-ngitung dan nemu angka kalau nyawa Schilling itu seharga $10 juta. Masalahnya, si Jeff Schilling ini cuma cowok dari keluarga kerah biru (pekerja biasa). Mentok-mentok emaknya mungkin cuma sanggup ngumpulin $10.000. Dan pemerintah Amrik udah pasti nggak sudi ngeluarin fulus sepeser pun. Tapi kita bakal ngasih lampu hijau (izin) buat pura-pura bayar asalkan itu jadi bagian operasi "jebakan" (sting).

Kalau kita bisa mancing Sabaya masuk ke lapak (sistem) tawar-menawar saling-saut, kita punya sistem bargaining yang udah shahih (terbukti manjur) setiap saat. Kita bisa neken harga dia sampai nyentuh titik yang kita pengenin, narik sanderanya keluar, dan langsung gelar operasi "jebakan" itu.

$5 JUTA BURONAN WTC $10 JUTA NYAWA SANDERA FAKE! FAKE! HAHAHA!

Tembok Beralasan "Ganti Rugi Perang"

Berbulan-bulan Sabaya batu banget ogah ngalah. Dia bawa-bawa dalil kalau umat Islam di Filipina udah kenyang dizalimi (dijajah) selama lima ratus tahun, sejak misionaris Spanyol nyebarin agama Katolik ke Filipina di abad keenam belas. Dia ngabsen satu per satu sejarah berdarah kekejaman yang pernah kejadian ke nenek moyang Islamnya. Dia ngasih pencerahan kenapa Abu Sayyaf niat banget ngebangun negara Islam di Filipina selatan. Dia ungkit juga soal hak nangkep ikan yang dilanggar. Pokoknya apa aja masalahnya, dia karang-karang terus dia jadiin senjata.

Sabaya maunya dibayar $10 juta sebagai kompensasi ganti rugi perang—bukan duit tebusan lho ya, tapi murni ganti rugi perang. Dia istiqomah megang teguh tuntutannya dan nutup pintu rapet-rapet buat sistem tawar-menawar saling-saut yang niatnya mau kita pake buat ngakalin dia.

Dan sesekali dia nyeletuk ngasih ancaman kalau dia lagi asyik nyiksa Jeff Schilling.

GANTI RUGI PERANG $10.000.000 500 TAHUN HAK IKAN

Benjie si Patriot Filipina

Sabaya negosiasinya langsung head-to-head sama Benjie, seorang perwira militer Filipina. Mereka tek-tokannya pake bahasa Tagalog. Kita meriksa transkrip obrolan yang udah diterjemahin ke bahasa Inggris terus kita racik jadi wejangan (masukan) buat Benjie. Ana gonta-ganti shift bolak-balik ke Manila buat mandorin obrolan dan ngatur strateginya. Ana ngasih arahan ke Benjie buat nanya apa urusannya si Schilling sama dendam kesumat (konflik) lima ratus tahun antara kaum Muslim sama Filipina. Dia (Benjie) ngasih tau Sabaya kalau fulus $10 juta itu nggak masuk akal (mustahil).

Nggak ngaruh pendekatan macem apa pun yang kita pake buat ngajak Sabaya "mikir logis" kenapa Schilling nggak ada hubungannya blas sama tuntutan "ganti rugi perang" itu, omongan kita selalu masuk kuping kiri keluar kuping kanan.

Momen terobosan dapet kata "bener banget" pertama kita qadarullah justru kejadian pas ana lagi negosiasi adu urat sama si Benjie. Benjie ini aslinya pahlawan dan patriot Filipina tulen. Dia ini komandan Pasukan Aksi Khusus Kepolisian Nasional Filipina dan udah kenyang makan asam garam baku tembak. Berkali-kali Benjie sama pasukannya dikirim buat misi penyelamatan nyandera, dan track record-nya masyaallah mengkilap. Pasukannya ini emang pantes ditakuti. Mereka jarang banget sudi bawa borgol (lebih suka tembak mati).

Benjie pengennya ngadepin Sabaya pake otot (tangan besi) dan ngomong blak-blakan nggak pake basa-basi. Sementara kita pengen ngajak Sabaya ngobrol dalem buat mbongkar apa isi kepalanya si musuh ini. Malah, niat kita tuh pengen ngebangun rapport (kedekatan emosi) bareng si musuh. Buat Benjie, pendekatan macem gitu itu najis (memuakkan) banget.

Benjie ngasih tau kita kalau dia butuh istirahat. Kita udah maksa dia kerja (meres tenaganya) hampir dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu berturut-turut selama beberapa minggu. Dia pengen rehat kumpul sama keluarganya di pegunungan arah utara Manila. Kita ngasih acc (izin), tapi pake syarat ketat kalau kita boleh ngekor ngikutin dia dan nyita waktunya beberapa jam di hari Sabtu sama Minggu buat nggodok (bahas) strategi negosiasi.

TANGAN BESI (OTOT) OBROLAN & RAPPORT VS

Terobosan: Pencerahan (Epifani) Halus

Sabtu malem itu kita lagi asyik mojok di dalem perpustakaan vila (kediaman musim panas) dubes Amrik, sibuk ngulik strategi. Pas ana lagi asyik nyeramahin Benjie soal pentingnya ngebangun kedekatan dan silaturahmi kerja, sekalipun itu sama musuh yang naudzubillah bahayanya macem Sabaya, ana bisa ngelihat urat mukanya Benjie mulai ngerut nahan marah. Ana langsung nyadar, Wah, ana kudu negosiasi dulu nih sama si Benjie.

Chris: "Antum aslinya gedeg (benci) banget kan sama si Sabaya ini?" kata ana, ngebuka obrolan pake lemparan label.

Benjie langsung numpahin semua uneg-unegnya ke ana. "Ya iyalah ana benci!" ngegasnya. "Dia itu tukang bunuh sama pemerkosa. Pernah ya dia nongol di frekuensi HT kita pas kita lagi nembakin meriam ke markas dia, eh dia malah nantangin bilang 'suara meriam antum ini ibarat musik dangdut (merdu) di kuping ana.' Terus ana juga pernah denger suaranya nyerobot masuk ke radio kita, lagi pesta pora ngerayain kemenangan sambil berdiri nepetin jasad salah satu ikhwan pasukan ana."

Ledakan amarah Benjie itu aslinya wujud lain dari kata "bener banget." Pas dia ngeluarin (ngakuin) rasa amarahnya, ana ngamatin pelan-pelan gimana dia mulai bisa ngendaliin emosinya dan balik adem. Walau performa dia sejauh ini emang udah mantap, tapi dari detik itu juga Benjie mendadak berubah wujud jadi superstar beneran. Dia berevolusi (mekar) jadi negosiator yang masyaallah bakatnya luar biasa.

"Negosiasi" antara ana sama Benjie ini aslinya nggak beda seujung kuku pun dari negosiasi lain antar jamaah kolega yang lagi bentrok soal strategi. Sebelum antum bisa ngebujuk (ngeyakinin) mereka buat ngebuka mata ngelihat visi (tujuan) antum, antum wajib ngeluarin kata-kata pancingan yang bisa bikin mereka nyaut, "Bener banget."

Terobosan dapet "bener banget" ini sunnatullah-nya jarang banget muncul di menit-menit awal negosiasi. Kemunculannya itu halus banget (nggak kerasa) di mata lawan bicara pas kejadian, dan tau-tau mereka udah ridho (nerima) apa yang antum omongin. Buat mereka, itu ibarat dapet hidayah (pencerahan halus).

"BENER BANGET!" EPIFANI HALUS = EVOLUSI SUPERSTAR


#bacabuku Neper Split Bagian Tiga

Infografis: Email Sakti & Tangga Perubahan EMAIL SAKTI & TANGGA CNU ...