TERJEMAHAN TAFSIR SURAH AL-BAQARAH AYAT 254
(KOMBINASI TAFSIR ATH-THABARI DAN AL-QURTHUBI)
Nas Al-Qur'an dan Terjemahan
Pembahasan mengenai tafsir firman Allah Ta'ala: "Hai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian, sebelum datang hari di mana tidak ada lagi jual beli, persahabatan, dan syafaat (pertolongan). Dan orang-orang kafir, merekalah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah: 254).
Abu Ja'far (Imam Ath-Thabari) berkata: Maksud Allah dari ayat ini adalah, "Wahai orang-orang yang beriman, keluarkanlah harta kalian di jalan Allah dari rezeki yang udah Kami kasih. Bersedekahlah, dan tunaikan hak-hak (seperti zakat) yang udah diwajibkan buat kalian." Hal senada juga disampein sama Ibnu Juraij berdasarkan riwayat yang sampai ke kita:
(Hadis 5760): Al-Qasim bercerita kepada kami, Al-Husain bercerita kepada kami, Hajjaj bercerita kepadaku dari Ibnu Juraij tentang ayat "infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan", dia bilang: "Ini mencakup zakat wajib maupun sedekah sunnah."
Tafsir Ath-Thabari: Investasi Masa Depan
Tentang penggalan: "sebelum datang hari di mana tidak ada lagi jual beli, persahabatan, dan syafaat". Allah tuh seakan bilang: "Ayo, jadikan harta kalian sebagai investasi masa depan di sisi Allah selagi masih di dunia! Caranya gimana? Pake buat berjuang di jalan Allah, sedekah buat orang miskin dan yang butuh, dan bayar zakat yang udah diwajibkan." Lewat harta itu, kita ibarat lagi "ngebeli" kemuliaan yang udah Allah siapin buat orang-orang yang dekat dengan-Nya. Lakuin ini sekarang, mumpung kalian masih punya akses buat "transaksi" lewat infak yang Allah anjurkan dan perintahkan.
Kenapa? "sebelum datang hari tidak ada jual beli". Maksudnya, nanti bakal datang suatu hari di mana kita udah nggak bisa lagi "ngebeli" posisi mulia pakai harta yang kita punya di dunia. Hari Kiamat itu adalah hari pembagian rapot (balasan, pahala, atau hukuman), bukan lagi hari buat kerja, nyari duit, atau milih antara taat dan maksiat. Di hari itu, udah nggak ada lagi jalan buat beli tiket VVIP ke surga pakai uang atau amal baru. Waktunya udah habis.
Terputusnya Koneksi Jaringan di Akhirat
Terus, Allah juga ngasih tahu kita nih, bahwa pada hari itu—di samping kita udah nggak bisa beramal atau nyari rida Allah pakai harta (karena memang duit udah nggak laku di sana)—itu adalah hari di mana hubungan circle pertemanan udah nggak bisa nolong lagi kayak di dunia. Kalau di dunia, sohib atau bestie kan bisa ngebela kita kalau ada masalah, nge-back up kalau ada yang niat jahat. Nah, Allah bikin kita sadar kalau di akhirat nanti, privilege koneksi pertemanan itu hangus. Nggak ada satu pun yang berani ngelawan keputusan Allah buat nolongin temannya. Malah sebaliknya, “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa,” (QS. Az-Zukhruf: 67).
Selain nggak bisa pakai harta atau kekuatan fisik, dan hilangnya support system dari teman-teman dekat, Allah juga menegaskan bahwa mereka nggak punya backing-an (syafaat) di hadapan Allah kayak zaman di dunia. Di dunia kan lumrah orang minta tolong dilobiin karena status keluarga, tetangga, atau teman tongkrongan. Di akhirat, semua networking jalur dalem itu batal total! Kayak curhatannya orang-orang yang masuk neraka nanti: "Maka kami tidak mempunyai pemberi syafaat seorang pun, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab." (QS. Asy-Syu'ara: 100-101).
Kekhususan Syafaat & Makna Kafir = Zalim
وَكَانَ قَتَادَةُ يَقُولُ فِي ذَلِكَ بِمَا:- (٥٧٦١) - حَدَّثَنَا بِهِ بِشْرٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ، قَالَ: حَدَّثَنَا سَعِيدٌ، عَنْ قَتَادَةَ فِي قَوْلِهِ: "يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ"، قَدْ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّ نَاسًا يَتَحَابُّونَ فِي الدُّنْيَا، وَيَشْفَعُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ، فَأَمَّا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَلَا خُلَّةَ إِلَّا خُلَّةُ الْمُتَّقِينَ.
وَأَمَّا قَوْلُهُ: "وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ"، فَإِنَّهُ يَعْنِي تَعَالَى ذِكْرُهُ بِذَلِكَ: وَالْجَاحِدُونَ لِلَّهِ الْمُكَذِّبُونَ بِهِ وَبِرُسُلِهِ="هُمُ الظَّالِمُونَ"، يَقُولُ: هُمُ الْوَاضِعُونَ جُحُودَهُمْ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهِ، وَالْفَاعِلُونَ غَيْرَ مَا لَهُمْ فِعْلُهُ، وَالْقَائِلُونَ مَا لَيْسَ لَهُمْ قَوْلُهُ. وَقَدْ دَلَّلْنَا عَلَى مَعْنَى "الظُّلْمِ" بِشَوَاهِدِهِ فِيمَا مَضَى قَبْلُ بِمَا أَغْنَى عَنْ إِعَادَتِهِ.
Sebagai catatan penting, gaya bahasa ayat soal "nggak ada syafaat" ini kelihatannya umum buat semua orang, tapi sebenarnya konteksnya spesifik. Maksud ayat "tidak ada jual beli, persahabatan, dan syafaat" itu berlakunya hanya untuk orang-orang yang kafir kepada Allah. Kenapa? Karena buat orang-orang yang beriman dan jadi wali-wali Allah, mereka itu dikasih keistimewaan buat ngasih syafaat (pertolongan) satu sama lain atas izin Allah. Pembahasan soal ini udah pernah kita bedah mendalam sebelumnya, jadi nggak perlu diulang di sini.
Qatadah juga punya pendapat soal ini melalui riwayat: (Hadis 5761): Bisyr bercerita kepada kami, Yazid bercerita kepada kami, Sa'id bercerita kepada kami dari Qatadah mengenai ayat ini: "Allah itu Maha Tahu kalau manusia di dunia sering bangun koneksi, saling sayang, dan saling ngebela/melobi satu sama lain. Tapi pas hari kiamat nanti, semua koneksi pertemanan itu putus, kecuali pertemanannya orang-orang yang bertakwa."
Nah, untuk kalimat penutup: "Dan orang-orang kafir, merekalah orang-orang yang zalim," maksud Allah di sini adalah: orang-orang yang ngeyel, menolak kebenaran, dan mendustakan Allah beserta rasul-Nya itulah yang disebut "orang-orang zalim". Secara logika, mereka zalim karena mereka menempatkan penolakan mereka secara offside (tidak pada tempatnya), melakukan hal yang harusnya nggak boleh dilakuin, dan ngomongin hal yang nggak pantas buat diucapin. (Buat makna "Zalim" secara bahasa udah pernah dibahas lengkap sama dalilnya di bagian sebelumnya, jadi kita skip pengulangannya).
Dialog Kritis & Rasa Syukur Atha bin Dinar
فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ: وَكَيْفَ صُرِفَ الْوَعِيدُ إِلَى الْكُفَّارِ وَالْآيَةُ مُبْتَدَأَةٌ بِذِكْرِ أَهْلِ الْإِيمَانِ؟ قِيلَ لَهُ: إِنَّ الْآيَةَ قَدْ تَقَدَّمَهَا ذِكْرُ صِنْفَيْنِ مِنَ النَّاسِ: أَحَدُهُمَا أَهْلُ كُفْرٍ، وَالْآخَرُ أَهْلُ إِيمَانٍ، وَذَلِكَ قَوْلُهُ: "وَلَكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ". ثُمَّ عَقَّبَ اللَّهُ تَعَالَى ذِكْرُهُ الصِّنْفَيْنِ بِمَا ذَكَّرَهُمْ بِهِ، بِحَضِّ أَهْلِ الْإِيمَانِ بِهِ عَلَى مَا يُقَرِّبُهُمْ إِلَيْهِ مِنَ النَّفَقَةِ فِي طَاعَتِهِ وَفِي جِهَادِ أَعْدَائِهِ مِنْ أَهْلِ الْكُفْرِ بِهِ، قَبْلَ مَجِيءِ الْيَوْمِ الَّذِي وَصَفَ صِفَتَهُ. وَأَخْبَرَ فِيهِ عَنْ حَالِ أَعْدَائِهِ مِنْ أَهْلِ الْكُفْرِ بِهِ، إِذْ كَانَ قِتَالُ أَهْلِ الْكُفْرِ بِهِ فِي مَعْصِيَتِهِ وَنَفَقَتُهُمْ فِي الصَّدِّ عَنْ سَبِيلِهِ، فَقَالَ تَعَالَى ذِكْرُهُ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا أَنْتُمْ مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ فِي طَاعَتِي، إِذْ كَانَ أَهْلُ الْكُفْرِ بِي يُنْفِقُونَ فِي مَعْصِيَتِي= مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ فَيُدْرِكَ أَهْلُ الْكُفْرِ فِيهِ ابْتِيَاعَ مَا فَرَّطُوا فِي ابْتِيَاعِهِ فِي دُنْيَاهُمْ= وَلَا خُلَّةٌ لَهُمْ يَوْمَئِذٍ تَنْصُرُهُمْ مِنِّي، وَلَا شَافِعَ لَهُمْ يَشْفَعُ عِنْدِي فَتُنْجِيَهُمْ شَفَاعَتُهُ لَهُمْ مِنْ عِقَابِي. وَهَذَا يَوْمَئِذٍ فِعْلِي بِهِمْ جَزَاءً لَهُمْ عَلَى كُفْرِهِمْ، وَهُمُ الظَّالِمُونَ أَنْفُسَهُمْ دُونِي، لِأَنِّي غَيْرُ ظَلَّامٍ لِعَبِيدِي.
وَقَدْ:- (٥٧٦٢) - حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ أَبِي سَلَمَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ سُلَيْمَانَ، يُحَدِّثُ عَنْ عَطَاءِ بْنِ دِينَارٍ أَنَّهُ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي قَالَ: "وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ"، وَلَمْ يَقُلْ: "الظَّالِمُونَ هُمُ الْكَافِرُونَ".
Abu Ja'far menyimpulkan: Penempatan kalimat "Dan orang-orang kafir, merekalah orang-orang yang zalim" di akhir ayat ini jadi bukti kuat banget atas pendapat kita tadi. Ini ngekonfirmasi kalau ancaman "nggak ada pertemanan dan syafaat" itu emang khusus di-targetin buat orang-orang kafir. Makanya, ayat ini dipungkas dengan statement tersebut.
Pesan tersiratnya kira-kira begini: "Kami (Allah) menghalangi orang-orang kafir buat dapat bantuan dari teman-temannya atau syafaat dari kerabatnya, dan Kami sama sekali nggak zalim pas ngelakuin itu ke mereka. Karena itu semua murni konsekuensi (karma) dari kekafiran mereka sendiri waktu di dunia. Justru orang kafir itu sendiri yang menzalimi dirinya sendiri, karena kelakuan mereka yang bikin mereka layak dapat hukuman dari Tuhannya."
Kalau ada yang nanya kritis: "Kok ancamannya ditujukan buat orang kafir, padahal pembukaan ayatnya manggil orang beriman?"
Jawabannya logis banget: Ayat sebelumnya (Al-Baqarah 253) kan ngebahas dua kubu manusia, yaitu kubu orang kafir dan kubu orang beriman ("Tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada yang kafir"). Nah, di ayat 254 ini Allah menindaklanjuti status kedua kubu tersebut. Allah memotivasi orang beriman buat berinfak sebagai sarana mendekatkan diri dan sebagai support materi buat menghadapi ancaman musuh (orang kafir), sebelum datangnya hari kiamat. Di sisi lain, Allah juga ngasih peringatan soal nasib musuh-musuh-Nya, karena orang-orang kafir itu kan loyalitas hartanya dipakai buat maksiat dan ngehalangin jalan Allah.
Jadi intinya Allah bilang: "Hai orang beriman, berinfaklah kalian di jalan-Ku pakai harta yang Aku kasih, mengingat orang kafir berinfak buat maksiat. Lakukan sekarang sebelum kiamat datang, hari di mana orang kafir menyesal pengen beli kesempatan yang mereka sia-siakan di dunia. Hari di mana mereka nggak punya bekingan teman buat ngelawan azab-Ku, dan nggak punya lobi syafaat buat kabur. Hukuman ini adil karena kekafiran mereka, merekalah yang menzalimi diri sendiri, bukan Aku yang menzalimi mereka."
Keren banget ya! Sampai-sampai Atha bin Dinar (Hadis 5762) bersyukur banget pas baca penutup ayat ini, dia bilang: "Alhamdulillah Allah berfirman 'Dan orang-orang kafir, merekalah orang-orang yang zalim', dan Allah nggak bilang 'Orang-orang zalim, merekalah orang-orang yang kafir'." (Karena kalau dibalik, semua orang yang berbuat dosa/zalim bakal dicap kafir).
Tafsir Al-Qurthubi: Zakat, Sedekah & Jihad
(Mulai masuk Tafsir Al-Qurthubi).
Menurut Al-Hasan, infak di sini maksudnya khusus zakat wajib. Tapi menurut Ibnu Juraij dan Sa'id bin Jubair, infaknya nyakup zakat wajib sekaligus sedekah sunnah. Ibnu Athiyyah berkomentar: "Pendapat kedua ini memang benar, tapi kalau kita lihat konteks ayat sebelumnya yang bahas peperangan dan bagaimana Allah ngebela orang beriman dari serangan musuh, maka anjuran infak di sini lebih condong ke infak buat jihad di jalan Allah (fii sabilillah)." Argumen ini makin kuat pas ngebaca ending ayat: "Dan orang-orang kafir, merekalah orang-orang yang zalim". Seolah perintahnya: Lawanlah mereka pakai tenaga fisik dan sokongan dana finansial!
Aku (Al-Qurthubi) nambahin: Dengan penafsiran ini, budget donasi yang dikeluarin itu statusnya bisa jadi "wajib", bisa juga jadi "sunnah", tergantung lagi urgen/darurat buat kondisi jihad atau nggak. Intinya, Allah nyuruh hamba-Nya buat sharing rezeki dan nikmat-Nya, sekaligus ngasih warning keras buat nggak pelit sampai ajal tiba; hari di mana transaksi jual-beli dan top-up pahala udah closed. Kayak penyesalan yang Allah sebut di ayat lain: "Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau menunda (kematianku) sedikit waktu lagi, maka aku akan bersedekah." (QS. Al-Munafiqun: 10).