Kamis

#bacabuku Misbehavior Richard Thaler (versi Gemini)

Infografis Ekonomi Perilaku: Manusia vs Econ

Antara Manusia dan Makhluk Bernama "Econ"

KRISIS 2007-08 HOMO ECONOMICUS HOMO SAPIENS OPTIMASI + KESEIMBANGAN = EKONOMI

Antara Manusia dan Makhluk Bernama "Econ"

Selama empat dekade, semenjak ana masih nyantri pascasarjana, ana udah sibuk mikirin kisah-kisah macem ini, tentang ribuan cara manusia melenceng dari makhluk fiktif yang ada di model-model ekonomi. Ana nggak pernah bermaksud bilang kalau ada yang salah sama manusia; kita semua kan cuma bani Adam—homo sapiens. Masalahnya justru ada di model yang dipakai sama para ekonom, sebuah model yang ngeganti homo sapiens sama makhluk fiktif bernama homo economicus, yang ana suka singkat jadi Econ. Dibandingin sama dunia fiktif para Econ ini, Manusia (Humans) emang banyak banget "salah tingkahnya", dan itu artinya model ekonomi sering ngasilin ramalan yang meleset, ramalan yang mudaratnya bisa jauh lebih serius daripada sekadar bikin sekelas santri ngambek. Hampir nggak ada ekonom yang bisa meramal datangnya krisis moneter 2007–08, dan parahnya lagi, banyak yang ngira kalau kehancuran dan dampaknya itu adalah hal yang mustahil qadarullah terjadi.

Ironisnya, keberadaan model formal yang dibangun di atas gagal paham soal perilaku manusia inilah yang bikin ilmu ekonomi punya reputasi sebagai ilmu sosial yang paling berkuasa—berkuasa dalam dua hal. Yang pertama itu shahih nggak bisa dibantah: dari semua pakar ilmu sosial, ekonom itu yang paling punya pamor buat ngarahin kebijakan publik. Malah, mereka kayak memonopoli urusan ngasih fatwa kebijakan. Sampai belum lama ini, pakar ilmu sosial lain jarang banget diajak duduk bareng, dan sekalinya diajak musyawarah, mereka cuma ditaruh di meja anak-anak kalau lagi kumpul keluarga.

Hal kedua, ekonomi juga dianggap sebagai ilmu sosial yang paling kuat secara keilmuan (intelektual). Kekuatan itu muncul karena ekonomi punya satu teori dasar yang menyatu, yang faktanya hampir semua hal lain turun dari situ. Kalau antum nyebut frasa "teori ekonomi," orang-orang langsung paham maksud antum. Nggak ada ilmu sosial lain yang punya fondasi semacam itu. Teori-teori di ilmu sosial lain biasanya spesifik banget—buat ngejelasin kejadian di situasi tertentu doang. Malah, para ekonom sering qiyas (menganalogikan) bidang mereka sama ilmu fisika; kayak fisika, ekonomi dibangun dari beberapa dalil atau premis inti.

Dalil inti dari teori ekonomi itu ya manusia selalu memilih dengan cara optimasi (mencari yang paling afdal). Dari semua barang dan jasa yang bisa dibeli keluarga, mereka pasti milih yang paling bagus sesuai isi dompet. Terus, keyakinan para Econ saat milih itu diasumsikan bebas dari bias (bersih). Maksudnya, kita milih berdasarkan apa yang disebut ekonom sebagai "ekspektasi rasional." Kalau orang-orang yang baru buka ikhtiar bisnis rata-rata yakin peluang sukses mereka 75%, ya angka itu dianggap estimasi yang akurat untuk persentase riil yang beneran bakal sukses. Econ itu nggak punya sifat takabur (terlalu PD).

Dalil soal optimasi dengan batasan anggaran ini, digabung sama satu lagi mesin utama teori ekonomi, yaitu keseimbangan (equilibrium). Di pasar bebas ketika harga bisa naik-turun sesukanya, harga itu bakal berfluktuasi sedemikian rupa sampai pasokan sama dengan permintaan. Biar gampangnya, kita bisa rumusin: Optimasi + Keseimbangan = Ekonomi. Ini racikan yang dahsyat, nggak ada ilmu sosial lain yang bisa nandingin.

OPTIMASI MUSTAHIL MARKET CRASH 1987 S. I. F. s

Cacatnya Dalil Teori Ekonomi

Tapi ada masalah nih, akhi: dalil-dalil yang jadi tempat bersandarnya teori ekonomi itu cacat.

Pertama, masalah optimasi yang dihadapi orang awam itu seringnya terlalu ribet buat dipecahin, bahkan nyaris mustahil. Sekadar jalan ke supermarket lumayan gede aja udah nyodorin jutaan kombinasi barang yang masuk budget belanja keluarga. Apa iya keluarga bener-bener milih kombinasi yang paling afdhal? Dan pastinya, kita ngadepin masalah yang jauh lebih berat daripada sekadar belanja, kayak milih karier, cicilan KPR, atau nyari jodoh (zawj). Kalau ngelihat tingkat kegagalan di semua urusan tadi, susah rasanya buat hujjah (berargumen) kalau semua pilihan itu udah optimal.

Kedua, keyakinan yang jadi landasan manusia pas milih sesuatu itu nggak luput dari bias. Sifat takabur (overconfidence) mungkin nggak ada di kamus ekonom, tapi itu udah jadi tabiat manusia yang terbukti, dan masih ada segudang bias lain yang udah dicatat sama para psikolog.

Ketiga, ada banyak faktor yang dilupain sama model optimasi ini, kayak kisah ujian 137 poin ana tadi. Di dunia para Econ, ada daftar panjang hal-hal yang dianggap nggak penting. Nggak bakal ada Econ yang sengaja beli makan malem porsi kuli buat hari Selasa cuma gara-gara dia kebetulan lagi kelaperan pas belanja hari Ahad. Rasa lapar antum di hari Ahad mestinya nggak ada hubungannya sama porsi makan antum buat hari Selasa. Seorang Econ juga nggak bakal maksain ngabisin makan porsi raksasa di hari Selasa pas dia udah kenyang, cuma gara-gara sayang udah bayar dan takut mubazir. Buat seorang Econ, duit yang udah kepakai buat beli makanan di masa lalu itu nggak relevan buat mutusin seberapa banyak yang harus dimakan sekarang. Seorang Econ juga nggak bakal ngarep dapet kado di hari dia nikah atau lahir. Emang apa ngaruhnya sebuah tanggal? Malah, para Econ bakal gagal paham sama seluruh konsep kado-kadoan. Econ pasti tahu kalau fulus (uang tunai) itu kado paling afdal; penerimanya bebas beli apapun yang optimal. Tapi kecuali antum nikah sama seorang ekonom, ana sih nggak nyaranin antum ngasih mentahan ke istri antum pas anniversary. Eh dipikir-pikir, walaupun istri antum ekonom, kayaknya ini tetep ide yang kurang barakah.

Antum tahu, dan ana juga tahu, kalau kita ini nggak hidup di dunianya para Econ. Kita hidup di dunianya Manusia. Dan karena kebanyakan ekonom juga manusia, mereka sebenernya juga sadar kok kalau mereka nggak hidup di dunia Econ. Adam Smith, bapak pemikiran ekonomi modern, secara terang-terangan ngakuin fakta ini. Sebelum nulis kitab fenomenalnya, The Wealth of Nations, beliau nulis kitab lain yang khusus ngebahas hawa nafsu ("passions") manusia, sebuah kata yang sama sekali nggak nongol di kitab ekonomi manapun. Econ itu nggak punya hawa nafsu; mereka cuma mesin optimasi berdarah dingin. Bayangin aja Mr. Spock di film Star Trek.

Meski begitu, model perilaku ekonomi yang berbasis asusmsi bahwa populasi cuma diisi Econ ini malah laku keras, ngangkat ilmu ekonomi ke puncak kejayaannya kayak sekarang. Bertahun-tahun, banyak kritik yang ditepis gitu aja pakai sekumpulan uzur (alasan) yang lemah dan penjelasan alternatif yang nggak masuk akal buat nutupin bukti-bukti lapangan yang memalukan. Tapi satu per satu, kritik-kritik ini dijawab lewat sederet penelitian yang menaikkan level taruhannya. Kalau cuma soal nilai ujian sih gampang dikibas. Tapi bakal susah nutup mata dari penelitian yang merekam pilihan-pilihan konyol dalam urusan berisiko tinggi kayak tabungan hari tua, milih cicilan rumah, atau main saham. Dan mustahil juga buat nutup mata dari rentetan booming, gelembung ekonomi (bubble), dan kebangkrutan yang kita saksikan di pasar modal mulai dari 19 Oktober 1987, hari ketika harga saham global anjlok lebih dari 20% tanpa ada kabar buruk yang riil. Habis itu disusul sama gelembung dan kehancuran saham teknologi, yang buru-buru berubah jadi gelembung harga properti, yang pas meledak, bikin krisis moneter sedunia.

A B UJI ACAK TERKENDALI EKSPERIMEN ALAMI

Waktunya Muhasabah: Ekonomi yang Memanusiakan Manusia

Udah saatnya kita berhenti cari-cari alasan. Kita butuh pendekatan riset ekonomi yang lebih kaffah, yang ngakuin eksistensi dan relevansinya Manusia. Kabar baiknya, kita nggak perlu ngebuang semua ilmu yang kita punya soal gimana ekonomi dan pasar bekerja. Teori yang dibangun pakai asumsi kalau semua orang itu Econ tetep nggak boleh dibuang. Itu tetep kepakai sebagai titik awal buat bikin model yang lebih nyata. Dan di beberapa situasi khusus, misal pas masalah yang dihadapi orang-orang itu gampang, atau pas pelaku ekonominya punya keahlian khusus yang tinggi, maka model Econ ini bisa jadi perkiraan yang lumayan pas buat kejadian di dunia nyata. Tapi nanti antum bakal lihat, situasi-situasi kayak gitu tuh jatuhnya cuma pengecualian (rukhshah), bukan aturan bakunya.

Lagian, banyak lho kerjaan ekonom itu sekadar ngumpulin dan ngulik data soal gimana pasar bergerak, kerjaan yang dilakukan dengan sangat teliti dan ngandalin ilmu statistik yang mumpuni. Dan yang penting, sebagian besar riset ini nggak bergantung sama asumsi kalau orang-orang selalu berbuat optimal. Ada dua alat riset yang muncul selama 25 tahun terakhir yang nambah banget amunisi para ekonom buat belajar tentang dunia.

Pertama, pemakaian eksperimen Uji Acak Terkendali (randomized control trial), yang udah lama diandelin di cabang ilmu lain kayak kedokteran. Biasanya riset ini neliti apa yang terjadi kalau sekelompok orang dapet "perlakuan" (treatment) tertentu.

Kedua, pendekatan lewat eksperimen alami (misal pas ada jamaah yang masuk sebuah program, dan yang lain nggak) atau teknik ekonometrika cerdik yang bisa mendeteksi efek treatment padahal nggak ada yang sengaja merancang situasinya buat tujuan itu.

Alat-alat baru ini ngelahirin banyak studi tentang masalah-masalah penting buat umat. Treatment yang diteliti itu macem-macem: mulai dari sekolah yang lebih tinggi, ngaji di kelas yang santrinya dikit atau diajar guru yang lebih jago, dikasih jasa konsultan manajemen, dibantuin nyari kerja, dimasukin ke bui, pindah ke lingkungan yang miskinnya lebih dikit, dapet asuransi kesehatan dari Medicaid, dan sebagainya. Riset-riset ini jadi dalil kalau antum bisa belajar banyak tentang dunia tanpa harus memaksakan model optimasi, dan di beberapa kasus ngasih bukti shahih buat diuji ke model-model tersebut dan ngelihat apakah hasilnya beneran cocok sama respons manusia yang asli.

Buat sebagian besar teori ekonomi, asumsi kalau semua pelakunya selalu ngelakuin hal yang paling optimal itu sebenernya nggak terlalu krusial, sekalipun orang yang diteliti bukan ahli. Misalnya, ramalan kalau petani bakal makai pupuk lebih banyak pas harganya turun, itu insyaallah aman-aman aja, walaupun banyak petani yang lambat ngerubah kebiasaan ngikutin pasar. Ramalan itu aman karena sifatnya nggak presisi: yang diramal cuma arah perubahannya doang. Ini tuh ibarat meramal kalau buah apel jatuh dari pohon, jatuhnya pasti ke bawah bukan ke atas. Ramalannya emang bener sejauh ini, tapi ya nggak sepresisi hukum gravitasi juga.

Ekonom baru kena batunya pas mereka bikin ramalan yang spesifik banget, yang nyender mutlak pada asumsi kalau semua orang itu canggih banget ngurus duit. Balik lagi ke contoh petani tadi. Katakanlah ilmuwan nemuin kalau petani tuh bakal lebih sejahtera kalau ngurangin atau nambahin porsi pupuk dari takaran tradisi. Kalau kita nganggep semua orang bakal otomatis ngelakuin hal yang bener selama mereka dapet info yang pas, berarti nggak perlu ada resep kebijakan apa-apa, cukup sebar aja infonya gratis. Terbitin temuannya, bikin petaninya gampang ngakses, dan biarin sihir pasar bebas yang ngurus sisanya.

Kecuali kalau semua petani itu Econ, jelas ini fatwa yang menyesatkan. Mungkin perusahaan pangan raksasa multinasional bakal gercep nerapin hasil riset terbaru, tapi gimana dengan kelakuan petani gurem di India atau Afrika?

Sama halnya, kalau antum yakin semua orang bakal nabung dengan takaran yang pas banget buat pensiun, persis kayak kelakuan para Econ, dan dari situ antum berkesimpulan nggak perlu repot-repot bantu orang nabung (misal, dengan bikin program pensiun), berarti antum melewatkan ladang pahala buat bikin hidup banyak orang lebih sejahtera. Dan, kalau antum beriman kalau gelembung finansial itu mustahil secara teori, padahal antum ini gubernur bank sentral, antum bisa bikin kekhilafan besar—seperti yang, alhamdulillah dengan ikhlas diakui Alan Greenspan pernah kejadian sama beliau.

Kita emang nggak perlu berhenti nyiptain model-model abstrak yang mendeskripsikan perilaku Econ imajiner itu. Tapi, kita harus berhenti berasumsi kalau model-model itu adalah gambaran perilaku yang akurat, dan berhenti ngambil keputusan kebijakan berlandaskan analisis cacat macem itu. Dan kita harus mulai tawadhu memperhatikan faktor-faktor yang tadinya dianggap nggak nyambung itu, yang ana singkat jadi SIFs (Supposedly Irrelevant Factors).

EKONOMI MURNI PSIKOLOGI SOSIAL EKONOMI PERILAKU

Lahirnya Ilmu Ekonomi Perilaku

Susah emang ngubah selera orang soal menu sarapan, apalagi ngubah pikiran mereka soal masalah yang udah diulik seumur hidup. Bertahun-tahun, banyak ekonom yang ngeyel dan menolak ajakan buat ngebangun model mereka di atas karakter manusia yang lebih akurat. Tapi berkat masuknya rombongan ekonom muda kreatif yang berani ngambil risiko dan mendobrak tradisi kolot ngurus ilmu ekonomi, mimpi buat nyiptain versi teori ekonomi yang lebih kaya kini mulai terwujud. Bidang ini sekarang dikenal sebagai "ekonomi perilaku" (behavioral economics). Ini bukan ilmu sempalan: ini tetep ilmu ekonomi, cuma ekonomi yang disuntik dosis kuat dari ilmu psikologi yang bagus dan ilmu sosial lainnya.

Alasan utama masukin Manusia ke teori ekonomi itu murni buat ningkatin akurasi ramalan yang dibikin pakai teori tersebut. Tapi ada berkah lain yang dateng kalau kita ngeleburin manusia beneran di dalamnya. Ekonomi perilaku ini jauh lebih menarik dan lebih asyik ketimbang ekonomi biasa. Ini tuh ilmu yang nggak bikin sumpek pikiran.

Ekonomi perilaku sekarang udah jadi cabang ilmu ekonomi yang subur, dan praktisinya bisa antum temuin di hampir semua universitas top di seluruh dunia. Belakangan ini, ekonom perilaku dan ilmuwan perilaku secara umum mulai dapet porsi kecil di lingkar pembuat kebijakan. Di tahun 2010, pemerintah Inggris ngebentuk Behavioural Insights Team, dan sekarang negara-negara lain ikut-ikutan gerakan bikin tim khusus dengan mandat buat masukin temuan dari ilmu sosial lain ke dalam perumusan kebijakan publik. Dunia bisnis juga mulai ikutan melek, pada sadar kalau paham kelakuan manusia secara mendalam itu sama pentingnya buat nyuksesin bisnis kayak paham laporan keuangan dan manajemen operasional. Ya gimana nggak, perusahaan kan yang jalanin Manusia, karyawan dan customernya juga Manusia.

Kitab ini adalah riwayat tentang gimana itu semua terjadi, setidaknya dari kacamata ana. Walau ana nggak ngerjain semua risetnya—antum tahu lah, ana ini agak mager buat yang gitu-gitu—tapi ana ada di sana pas awal-awal dan jadi bagian dari pergerakan yang ngelahirin bidang ini. Ngikutin petuahnya Amos, bakal banyak hikayat (cerita) di lembar-lembar berikutnya, tapi niat utama ana cuma mau ngisahin gimana ini semua bermula, dan ngejelasin beberapa ibrah (pelajaran) yang kita dapet di jalan. Nggak heran sih, banyak banget debat panas sama kaum tradisionalis yang keukeuh ngebela cara lama jalanin ilmu ekonomi. Debat-debat itu pas dijalanin emang nggak selalu asyik, tapi kayak pengalaman safar yang ambyar, kejadian itu malah jadi cerita seru di kemudian hari, dan kewajiban kita buat tempur di medan itu udah bikin ilmu ini makin kokoh.

Layaknya sebuah kisah, urutan kitab ini nggak maju lurus-lurus aja dengan satu ide ngalir mulus ke ide berikutnya. Banyak ide yang mendidih di waktu yang beda-beda dan kecepatan yang beda juga. Hasilnya, susunan bab kitab ini ana bikin campuran antara urutan waktu (kronologis) sama topik. Ini mukadimah (preview) singkatnya.

Kita mulai dari paling awal, balik ke masa ana masih nyantri pascasarjana, ngumpulin daftar contoh kelakuan nyeleneh yang rasanya nggak masuk di model yang ana pelajarin pas ngaji. Bagian pertama kitab ini didedikasikan buat tahun-tahun awal pas masih "tersesat di padang belantara", dan nyeritain beberapa ujian yang dilempar sama orang-orang yang meragukan faedah ikhtiar ini. Habis itu kita pindah ke sederet topik yang menyita sebagian besar perhatian ana di 15 tahun pertama karier riset ana: akuntansi mental, menahan hawa nafsu (self-control), keadilan, dan tata keuangan (finance). Niat ana mau ngejelasin apa yang ana dan temen-temen pelajarin, biar antum juga bisa makai bashirah (wawasan) itu buat lebih paham tentang sesama Manusia. Tapi mungkin juga ada hikmah yang berguna soal gimana cara mencoba ngerubah jalan pikiran orang tentang suatu hal, terutama pas mereka udah telanjur nyaman menjaga status quo. Nanti, kita bahas ikhtiar riset yang lebih baru, dari kelakuan supir taksi New York City, urusan milih pemain buat liga National Football League (NFL), sampai kelakuan peserta di kuis TV berhadiah gede. Di akhir nanti kita bakal mendarat di London, di Jalan Downing Nomor 10, dengan sederet cobaan dan peluang seru mulai bermunculan. Nasihat ana buat antum pas baca kitab ini cuma satu: berhentilah baca kalau udah kerasa nggak asyik lagi. Kalau antum paksain juga, wah, itu namanya antum cuma lagi salah tingkah (misbehaving).

Infaq Imam Ahmad Rahimahullah

Widget Komik Sedekah ...