Senin

#bacabuku Publikasi Nobel Keputusan

Infografis: Efek Framing dan Teori Prospek

EFEK FRAMING & TEORI PROSPEK:
Gimana Cara Kita Ngemas Sesuatu

Masalah 1: Wabah Penyakit Asia

200 SELAMAT 400 MATI ? AGEN RASIONAL (LOGIS)? EFEK FRAMING

Di Gambar 2, sifat yang sama (tinggi total dari tumpukan balok) gampang banget ditangkep mata di satu gambar, tapi susah di gambar lain, padahal dua-duanya punya info yang sama persis, akhi. Ya sebenernya pengamatan ini biasa aja sih – nggak bikin kaget juga kalau ada ciri tertentu dari sebuah rangsangan yang langsung ngeh kita lihat, sementara yang lain kudu dihitung-hitung dulu (kayak ngitung warisan pake ilmu faraid, hehe). Atau ciri yang sama bisa langsung kelihatan di satu tampilan barang, tapi di tampilan lain harus mikir dulu.

Tapi, pas masuk ke bab ngambil keputusan, pengamatan kayak gini ngasih tantangan lumayan berat buat teori agen rasional (yang nganggep manusia selalu logis). Asumsi yang bilang kalau pilihan kita nggak bakal goyah cuma gara-gara variasi hal-hal receh dari opsi atau hasilnya itu, disebut extensionality atau invariance. Nah, invariance (konsistensi) ini tuh rukun pentingnya rasionalitas, yang sayangnya sering dilanggar pas kita ngeliat efek framing, contohnya kayak di kasus Penyakit Asia ini:

Masalah 1 – Penyakit Asia

Bayangin deh, Amerika Serikat lagi siap-siap ngadepin wabah penyakit Asia yang aneh banget, qadarullah diperkirakan bakal bikin 600 orang meninggal. Ada dua program alternatif yang diusulin buat ngelawan penyakit ini. Anggap aja hitung-hitungan ilmiah dari konsekuensi program-program ini tuh udah qath'i (pasti) kayak gini:

  • Kalau Program A yang dipakai, insya Allah 200 orang bakal selamat.
  • Kalau Program B yang dipakai, ada peluang sepertiga (1/3) kalau 600 orang bakal selamat semua, dan peluang dua pertiga (2/3) kalau nggak ada yang selamat sama sekali.

Antum bakal pilih program yang mana nih?

Di versi soal yang ini, mayoritas responden pada milih program A, yang nunjukin kalau mereka itu cari aman (nggak mau ambil risiko). Terus ada responden lain, yang dipilih acak, dapet pertanyaan dengan mukadimah cerita yang sama, tapi pilihan jawabannya dikemas beda:

  • Kalau Program A’ yang dipakai, 400 orang bakal meninggal.
  • Kalau Program B’ yang dipakai, ada peluang sepertiga (1/3) nggak ada yang meninggal, dan peluang dua pertiga (2/3) 600 orang bakal meninggal.

Eh, lha kok mayoritas responden sekarang malah milih program B’, pilihan yang justru berani nerjang risiko. Padahal ya akhi, aslinya nggak ada bedanya sama sekali esensi dari dua versi itu, tapi nyatanya kata-katanya bikin bayangan dan penilaian di kepala kita jadi beda. Ini paling gampang dilihat di pilihan yang udah "pasti", soalnya hasil yang udah yaqin (pasti) itu bobotnya jadi kerasa lebih gede di hati kita dibandingin hasil yang cuma sekadar punya peluang gede atau sedang.

Makanya, kepastian "nyelamatin orang" itu masya Allah kelihatan menarik banget, dan kepastian "orang meninggal" itu rasanya naudzubillah banget, pengen dijauhin. Reaksi perasaan spontan inilah yang bikin orang condong ke A daripada B, dan milih B’ daripada A’. Mirip kayak di Gambar 2a dan 2b, beda cara nyampein hasil itu bakal menonjolkan fitur tertentu dari suatu keadaan, sambil nutupin fitur yang lainnya.

Kasus Operasi Medis & Hak Asuh Anak

90% SURVIVE 10% DIE FRAMING MEDIS (MCNEILL) + - HAK ASUH ANAK (SHAFIR)

Pertanyaan soal gimana nentuin apakah dua masalah keputusan itu ‘sama’ atau beda, sebenernya nggak ada jawaban mutlaknya. Buat ngehindarin pusing mikir ini, ana sama Tversky ngebatesin efek framing ini cuma buat bedanya pilihan dalam masalah yang, kalau dipikir-pikir lagi sambil tafakur, sebenernya persis sama. Kasus Penyakit Asia ini lolos uji: responden yang disuruh ngebandingin dua versi tadi hampir selalu sepakat kalau tindakan yang harus diambil ya sama aja di kedua situasi itu. Orang-orang juga sepakat kalau receh banget rasanya ngebiarin detail kata-kata luaran doang nentuin pilihan yang urusannya nyawa, hidup dan mati.

Di demonstrasi lain yang lumayan masyhur soal betapa memalukannya efek framing ini, McNeill, Pauker, Sox, sama Tversky bikin orang milih beda antara operasi atau terapi radiasi, cuma dengan ngejelasin statistik hasilnya pake istilah "tingkat keselamatan" atau "tingkat kematian". Karena denger "tingkat keselamatan jangka pendek 90%" itu rasanya lebih adem dan nggak semenakutkan "langsung mati 10%", framing keselamatan ini bikin jauh lebih banyak orang milih operasi. Dan antum tau nggak? Efek framing ini juga sama parahnya ngena ke dokter-dokter yang udah sepuh dan pengalaman, nggak cuma ke pasien awam aja. Subhanallah.

Shafir pernah ngasih responden soal, di mana mereka disuruh meranin qadhi (hakim) yang lagi nentuin hak asuh anak dari orang tua yang lagi cerai (talak). Masing-masing orang tua dikasih daftar sifat-sifatnya. Nah, deskripsi orang tua yang satu dibikin lebih rame dari yang lain: ada lebih banyak sifat jeleknya, tapi juga lebih banyak sifat bagusnya. Instruksinya divariasiin nih. Ada responden yang ditanya, permintaan hak asuh mana yang harus diterima? Yang lainnya ditanya, mana yang harus ditolak? Uniknya, deskripsi yang lebih rame itu malah menang di dua instruksi tadi, mungkin karena responden pada fokus ke banyak kelebihannya pas mikir siapa yang harus dapet hak asuh, tapi juga fokus ke banyak kekurangannya pas mikir siapa yang harus ditolak.

Berpikir Mendalam & Teka-Teki Isomorf (Menara Hanoi)

SISTEM 2 (MTHOUGHTFUL) ISOMORF (MENARA HANOI) 137 X 24 = 3.288 KETERBATASAN KOGNITIF

Terus, ada studi gede-gedean dari LeBoeuf dan Shafir yang waktu itu mau terbit, nguji klaim lama yang bilang kalau efek framing ini bisa berkurang (dalam desain antar-subjek) buat orang-orang yang skor 'butuh mikir'-nya (need for cognition) tinggi. Nyatanya di studi yang lebih luas ini, efek aslinya nggak keulang tuh. Tapi, LeBoeuf dan Shafir nunjukin kalau antum itu tipe yang suka mikir dalem (thoughtful), antum bakal lebih istiqomah (konsisten) di desain dalam-subjek, yaitu pas tiap responden dihadapin ke dua versi soal sekaligus. Hasil ini tuh sejalan sama analisis kita sekarang. Responden yang Sistem 2 (sistem mikir rasional)-nya aktif itu lebih mungkin sadar ada ikatan antara dua versi tadi, dan mastikan jawaban mereka tetep konsisten. Banyak mikir itu nggak ngasih faedah apa-apa kalau nggak ada petunjuknya, makanya hal ini nggak ngaruh ke performa di desain antar-subjek.

Jadi ya, efek framing ini nggak cuma monopoli di bab ngambil keputusan aja: Simon dan Hayes juga nulis pengamatan yang mirip-mirip di bab mecahin masalah (problem solving). Mereka bikin kumpulan teka-teki, yang aslinya secara teori sama persis kayak masalah menara Hanoi, dan nemuin kalau teka-teki yang 'isomorf' (bentuknya beda tapi intinya sama) ini tingkat kesulitannya beda-beda banget. Contohnya nih, kondisi awal dan target akhirnya digambarin di dua versi sebagai tiga monster yang lagi megang bola beda warna. Proses pindahnya digambarin di satu versi sebagai perubahan warna bola, dan di versi lain sebagai bola yang dioper dari satu monster ke monster lain. Eh, teka-tekinya jauh lebih gampang dipecahin pas dikemas pakai konsep gerak/oper-operan. Penulisnya ngasih komentar, “Sebenernya mungkin aja subjek nyari perumpamaan yang paling simpel menurut kriteria tertentu, atau nerjemahin semua masalah itu ke satu bentuk baku yang sama…” tapi “subjek ternyata nggak mau pake strategi alternatif itu walau sebenernya bisa, dan malah milih nrima aja gambaran paling gampang yang disodorin ke mereka…”

Sikap nerima aja (pasrah) sama bentuk soal yang disodorin tuh kayaknya udah jadi sunnatullah (prinsip umum), yang berlaku buat teka-teki tadi, buat Gambar 2, dan buat efek framing standar lainnya. Orang itu nggak ujug-ujug ngebayangin tinggi menara yang bisa dibangun dari tumpukan balok, dan nggak otomatis ngubah nalar teka-teki atau masalah keputusan di kepala mereka. Tapi yang menarik, ada beberapa sistem indera dan kognitif kita yang punya kemampuan terbatas buat bikin perumpamaan baku buat jenis rangsangan tertentu. Contohnya, kalau kita udah pernah lihat wajah seseorang dari satu sudut, kita bakal ngenalin dia dari sudut lain, terus kita juga bakal bisa ngenalin versi foto hitam putihnya, atau bahkan cuma sekadar sketsa garis doang. Tapi ya, sehebat-hebatnya sistem ngenalin muka yang dikasih Allah ini, tetep ada batasannya: performanya bakal ngedrop banget kalau disuruh ngenalin wajah yang akrab tapi posisinya diputer atas-bawah. Mekanisme otak kita yang ngurusin bahasa juga punya kemampuan luar biasa buat nyingkirin detail-detail luar dan langsung nangkap inti ucapan orang, tapi ini juga terbatas kemampuannya. Jarang banget dari kita yang bisa langsung ngeh kalau ‘137 x 24’ dan ‘3.288’ itu angka yang ‘sama persis’ tanpa corat-coret ngitung panjang lebar dulu. Intinya mah, konsistensi absolut (invariance) itu mustahil diraih sama akal manusia yang fana ini, wallahu a'lam.

Gara-gara invariance ini mustahil, kita jadi ragu banget sama kebenaran model pilihan rasional dalam nggambarin dunia nyata. Tanpa adanya sistem yang mantap buat ngasilin gambaran standar yang bener, keputusan insting kita bakal disetir sama hal-hal yang bikin fitur tertentu di suatu situasi lebih gampang dicerna. Fitur yang gampang dicerna bakal ngaruh ke keputusan, sementara yang susah dicerna ya bakal dicuekin aja. Sayangnya nih ya, nggak ada dalil yang jamin kalau fitur yang paling gampang dicerna itu pasti fitur yang paling penting buat bikin keputusan yang baik.

Perubahan Atau Keadaan: Teori Prospek

WARNA SAMA ILUSI KONTRAS ICE WARM HOT TINGKAT ADAPTASI (PATOKAN)

Fitur umum dari sistem indera kita adalah diciptakan buat nekenin hal-hal yang berubah dan berbeda biar gampang kerasa. Persepsi itu butuh patokan (reference-dependent): sifat dari sesuatu yang lagi kita fokusin itu sebenernya cerminan dari seberapa beda (kontras) barang itu sama sesuatu yang ada sebelumnya atau barengan sama dia. Gambar 5 itu ngasih ilustrasi soal ketergantungan patokan di mata kita. Dua kotak di dalemnya itu sebenernya cahaya aslinya sama, tapi di mata kita kelihatannya beda terangnya. Maksud dari contoh ini tuh buat nunjukin kalau terang-gelapnya suatu area itu nggak cuma murni dari seberapa banyak cahaya yang masuk ke mata antum dari area itu doang. Penilaian mata kita soal terang-gelap juga butuh yang namanya nilai patokan (biasanya disebut tingkat adaptasi), yang dipengaruhi sama seberapa terang area tetangganya.

Nilai patokan buat dibandingin sama rangsangan yang lagi kita rasain sekarang, itu juga nyimpen riwayat adaptasi kita sama rangsangan sebelum-sebelumnya. Contoh yang sering dipake itu pake tiga ember air beda suhu, dijejerin dari yang dingin di kiri, yang panas di kanan, terus yang anget kuku di tengah. Pas di fase adaptasi, tangan kiri dicelupin ke ember dingin, yang kanan ke ember panas. Lama-lama, rasa dingin dan panas yang awalnya nusuk banget itu mulai memudar. Nah, pas kedua tangan diangkat terus dicelupin bareng ke ember tengah, yang kerasa malah tangan kiri kepanasan, sementara tangan kanan kedinginan. Masya Allah.

Ketergantungan Patokan & Kesalahan Bernoulli

KEKELIRUAN BERNOULLI PATOKAN TEORI PROSPEK

Fakta-fakta soal gimana indera kita beradaptasi ini bener-bener nempel di pikiran ana sama Tversky pas kita mulai bareng-bareng neliti soal ngambil keputusan di bawah ancaman risiko. Dikasih ilham dari analogi persepsi indera tadi, kita nebak kalau cara orang ngevaluasi hasil keputusannya itu juga butuh patokan. Tapi ana sadar, konsep "butuh patokan" ini nggak sejalan sama tafsir standar dari Expected Utility Theory (Teori Utilitas yang Diharapkan), teori yang kebetulan lagi masyhur banget di bab ini. Kelemahan ini tuh bisa dirunut balik ke kitab (esai) jenius yang ngenalin versi pertama dari teori utilitas tersebut (Bernoulli).

Salah satu tujuan Bernoulli itu pengen ngasih rumusan baku buat insting kita yang ngerasa masuk akal kalau orang miskin beli asuransi, sedangkan orang kaya yang jualan asuransinya. Dia berhujah kalau nambahnya utilitas (nilai manfaat) dari tambahan harta itu berbanding terbalik sama harta awal yang dipunya. Nah, dari asumsi psikologis yang masuk akal ini, dia nyimpulin kalau fungsi utilitas harta itu bentuknya logaritmik. Terus dia ngusulin, kaidah ngambil keputusan yang bener buat pilihan-pilihan berisiko itu adalah dengan memaksimalkan utilitas harapan dari harta (moral expectation). Dalil ini berhasil ngejawab apa yang dicari Bernoulli: hal ini bisa ngejelasin kenapa orang takut risiko, plus bedanya sikap orang kaya sama orang miskin pas ngadepin risiko. Teori utilitas harapan yang dia bawa ini masih jadi madzhab utama buat urusan milih di tengah risiko. Bahasa esainya Bernoulli itu sifatnya preskriptif (ngomongin apa yang paling masuk akal buat dilakuin), tapi teorinya juga diniatin buat ngegambarin pilihan dari cowok-cowok berakal secara nyata. Kayak kebanyakan kajian modern soal ngambil keputusan, di esai Bernoulli ini nggak ngakuin kalau ada benturan antara teori (yang seharusnya) sama realita deskriptif. Ide yang bilang kalau orang ngevaluasi hasilnya murni pakai utilitas aset akhir aja, udah dipertahanin jadi pegangan dalam ilmu ekonomi selama ampir 300 tahun. Ini luar biasa sih, padahal sebenernya gampang banget buat ngebuktiin kalau ide ini salah; ana biasa nyebut ini Kekeliruan Bernoulli.

Model Bernoulli ini cacat karena dia nggak pake patokan (reference-independent): dia berasumsi kalau nilai yang dikasih ke suatu kondisi kekayaan itu nggak berubah-ubah, nggak peduli sama seberapa kaya orang itu awalnya. Asumsi ini jelas nabrak prinsip dasar persepsi indera, di mana rangsangan yang efektif itu bukan seberapa tinggi level rangsangan barunya, tapi seberapa beda rangsangan itu sama tingkat adaptasi yang udah ada di kita. Kalau dikiasin pakai persepsi tadi, yang ngebawa utilitas itu ya kemungkinan besar adalah pundi-pundi untung ruginya, bukan sekadar jumlah akhir hartanya. Dan petunjuk ini alhamdulillah didukung kuat banget sama bukti kajian eksperimen maupun observasi. Kajian kita kali ini bakal bersandar di dua eksperimen pikiran, persis kayak apa yang ana sama Tversky bikin pas kita ngerumusin model milih berisiko yang kita namain Teori Prospek (Prospect Theory).

Yang berubah gara-gara harta di teorinya Bernoulli itu cuma respon terhadap perubahan harta. Variasi ini digambarin lewat lengkungan fungsi utilitas harta. Fungsi kayak gitu nggak bakal bisa digambar kalau utilitas harta itu bergantung sama patokan, karena kalau gitu utilitas nggak cuma dipengaruhi harta saat ini, tapi juga sama level patokan harta asalnya.



Infografis: Teori Prospek dan Efek Framing

EFEK FRAMING & TEORI PROSPEK:
TITIK PATOKAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Masalah 2 & 3: Dilema Taruhan Berisiko

50% WIN $150 LOSE $100 MASALAH 2 TITIK PATOKAN SURE -$100 GAMBLE MASALAH 3

Masalah 2

Antum mau nggak nerima taruhan (undian) ini?
• Peluang 50% buat menang $150
• Peluang 50% buat rugi $100
Kira-kira pilihan antum bakal berubah nggak kalau total harta antum lagi berkurang $100?

Bakal dikit banget yang mau ngambil taruhan di Masalah 2 ini, akhi. Bukti eksperimen nunjukin kalau kebanyakan orang bakal nolak taruhan yang peluang menang dan ruginya seimbang, kecuali kalau potensi menangnya itu minimal dua kali lipat dari potensi ruginya. Jawaban buat pertanyaan kedua ya jelas laa (enggak).

Sekarang coba tafakur (renungkan) Masalah 3:

Masalah 3

Antum bakal milih yang mana?
Rugi $100 udah pasti (yaqin)
atau
• Peluang 50% menang $50 dan peluang 50% rugi $200
Kira-kira pilihan antum bakal berubah nggak kalau total harta antum lagi nambah $100?

Di Masalah 3 ini, taruhannya kelihatan jauh lebih menggoda daripada rugi yang udah pasti. Hasil eksperimen nunjukin kalau kecenderungan berani ambil risiko ini dipegang sama mayoritas responden buat pilihan model begini. Di sini lagi-lagi, ide yang bilang kalau perubahan harta total sebanyak $100 bakal ngaruh ke pilihan, itu nggak bisa kita anggap serius.

Masalah 2 dan 3 mancing pilihan yang beda banget, tapi dari sudut pandang mazhab Bernoulli, perbedaan ini murni cuma framing effect (efek pengemasan kata): kalau disampein pakai patokan harta akhir, kedua masalah itu cuma beda di bagian semua nilainya lebih rendah $100 di Masalah 3 – yang pastinya ini cuma variasi sepele yang nggak ngaruh apa-apa.

Ana sama Tversky udah neliti banyak pasangan pilihan model begini pas awal-awal kita ngaji soal pilihan berisiko, dan kita nyimpulin kalau perpindahan mendadak dari yang awalnya takut risiko jadi berani ngambil risiko itu nggak masuk akal kalau cuma dijelasin pakai fungsi utilitas harta. Pilihan-pilihan itu rupanya ditentuin sama sikap kita pas ngadepin untung dan rugi, yang diukur secara relatif ke sebuah titik patokan (reference point), tapi teorinya Bernoulli dan murid-murid penerusnya itu nggak masukin titik patokan ini.

Teori Prospek: Fungsi Nilai Asimetris (Gambar 6)

GAINS (UNTUNG) LOSSES (RUGI) VALUE (NILAI) TITIK PATOKAN CEKUNG (AMAN) CEMBUNG (BERANI) LOSS AVERSION (LEBIH CURAM)

Makanya, kita ngajuin teori risiko alternatif, di mana yang ngebawa utilitas (nilai manfaat) itu adalah untung dan ruginya – alias perubahan hartanya, bukan kondisi akhir hartanya. Teori Prospek ngerangkul ide kalau pilihan itu bergantung sama patokan, dan masukin parameter tambahan yang emang dibutuhin gara-gara asumsi ini.

Ramalan khas dari Teori Prospek ini ngikutin bentuk dari fungsi nilainya, yang bisa antum lihat di Gambar 6. Fungsi nilai ini ditentuin dari untung-rugi dan punya empat ciri khas:

Bentuknya cekung di ranah keuntungan, bikin orang condong milih aman (takut risiko).

Bentuknya cembung di ranah kerugian, bikin orang berani nerjang risiko.

Yang paling penting, kurva fungsinya itu patah tajem pas di titik patokan, dan nunjukin loss-averse (rasa benci banget sama kerugian) – turunnya lebih curam pas rugi dibandingin naiknya pas untung, kira-kira selisih faktornya 2 sampai 2,5 kali lipat.

Beberapa kajian ngasih isyarat kalau fungsi di dua ranah ini lumayan pas kalau dideketin pakai fungsi pangkat (power functions) yang eksponennya mirip-mirip, dua-duanya di bawah angka satu.

Tapi ya, fungsi nilai ini nggak dirancang buat ngegambarin pilihan pas ngadepin kerugian yang gede banget dibandingin total aset, di mana kebangkrutan atau nyaris bangkrut itu bisa kejadian (naudzubillah).

Kekeliruan Bernoulli & Framing Harta

KEKELIRUAN BERNOULLI FOKUS PERUBAHAN HARTA

Kekeliruan Bernoulli – asumsi yang bilang kalau pembawa utilitas itu kondisi akhir – nggak cuma terbatas pas ngambil keputusan di bawah risiko aja. Kenyataannya, kesesatan soal nggak perlunya patokan (reference-independence) ini udah mendarah daging di gambaran standar peta ketidakpedulian (indifference maps). Buat seorang psikolog, ini bikin pusing kepala; kok bisa peta-peta ini nggak masukin gambaran soal barang-barang yang lagi dipegang sama si pengambil keputusan saat ini – yang kalau di Teori Prospek mah ini qiyas (sepadan) sama titik patokannya. Parameter ini nggak dimasukin, ya pastinya karena teori konsumen ngerasa itu nggak penting.

Framing Harta (Sudut Pandang Kekayaan)

Ide yang bilang kalau pembawa utilitas itu perubahan harta, bukan posisi aset, disebut-sebut sebagai fondasi utamanya Teori Prospek. Pernyataan ini ngasih isyarat kalau pilihan itu selalu dibikin dengan nimbang-nimbang untung rugi, bukan hasil akhirnya, tapi dalil itu kudu dikasih syarat ketentuan berlaku. Kajian soal aksesibilitas dan framing yang udah dijabarin sebelumnya ngasih usulan alternatif yang lebih wasathiyah (tengah-tengah), di mana:

  • Masalah keputusan bisa dirumusin pakai patokan harta keseluruhan, atau pakai patokan perubahannya.
  • Dua rumusan ini bisa bikin kita milih hal yang beda.

Masalah 4

Coba antum taksir berapa total harta antum, kita sebut aja H (Harta).
Mana dari situasi ini yang lebih menarik hati antum:
Antum punya Harta (H)
atau
Peluang 50% antum punya Harta – $100, dan peluang 50% antum punya Harta + $150

Eksperimen santai pakai masalah model begini konsisten ngasilin kecenderungan tipis buat milih harta yang belum pasti itu, dan ngasih kesan kuat kalau taruhan yang disebut di soal itu receh banget, nggak ngaruh blas.

Kalau dilihat dari kondisi akhir hartanya, Masalah 4 ini sebenernya identik sama Masalah 2. Lebih lanjut lagi, setelah tafakur, kebanyakan responden bakal sepakat kalau bedanya dua masalah itu nggak bawa akibat apa-apa – terlalu sepele buat dijadiin alasan milih hal yang beda. Makanya, selisih pilihan yang kelihatan di dua masalah ini udah menuhin dalilnya framing effect.

-$100 FOKUS UNTUNG-RUGI TOTAL HARTA (H) HARTA BESAR (NETRAL)

Akal-akalan aksesibilitas yang ngasilin efek framing ini tuh gampang dimengerti. Taruhan di Masalah 2 itu kemungkinan besar bakal mancing kita ngevaluasi emosi yang nyambung sama hasil di depan mata, dan susunan katanya nggak bakal ngingetin kita buat mikir total harta kita secara keseluruhan. Sebaliknya, susunan di Masalah 4 ngebawa kita mikir kalau ketidakpastian itu remeh banget dibandingin sama total Harta (H), dan nggak nyebut-nyebut soal untung rugi sama sekali. Dari sudut pandang ini, nggak heran lah kalau dua masalah itu ngasilin gambaran yang beda di kepala, yang ujung-ujungnya bikin pilihan yang beda juga.

Selama berabad-abad, teorinya Bernoulli dan para penerusnya dipakai buat masalah keputusan di mana hasilnya hampir selalu dibahas pakai istilah untung-rugi, tanpa nyebutin secara gamblang soal kondisi harta sekarang atau harta akhir. Asumsi tersirat dari penerapan teori utilitas harapan ini adalah hasil yang dibilang untung atau rugi itu pertama-tama diubah dulu bentuknya jadi kondisi aset akhir, baru dievaluasi pakai gambaran itu. Mengingat pembahasan soal framing tadi, dugaan soal perubahan bentuk ini bener-bener nggak masuk akal, dan bedanya respon yang kita lihat di Masalah 2 sama Masalah 4 itu ngasih bukti langsung yang ngebantah asumsi tersebut.

Hujah yang sama juga berlaku buat arah sebaliknya. Bayangin deh ada orang yang mau ngambil keputusan terus cuma disodorin Masalah 4. Teori Prospek nganggep ada operasi 'ngedit' di awal, di mana prospek-prospek ini dikemas ulang pakai istilah yang lebih simpel, sebelum dievaluasi. Tapi Masalah 2 itu bukan versi lebih simpel dari Masalah 4; di Masalah 2 disebutin ada untung ruginya, padahal di Masalah 4 nggak disinggung sama sekali.

Pembahasan soal framing ini ngasih gambaran kalau Masalah 4 itu bakal dievaluasi sesuai apa adanya yang tertulis – yaitu pakai patokan kondisi harta. Kenyataannya, emang ada sih beberapa pilihan di dunia nyata yang dibikin pakai framing ini. Khususnya, para penasihat keuangan dan analis keputusan tuh sering banget ngotot ngerumusin hasil pakai istilah aset pas mereka lagi nyari tahu maunya klien. Nah, Teori Prospek ini kayaknya nggak bakal akurat kalau disuruh ngegambarin keputusan yang dibikin pakai framing harta gini.

Mau di eksperimen atau di dunia nyata, mayoritas keputusan kita itu dikemas pakai bingkai untung rugi. Emang belum ada kajian yang sistematis soal pilihan-pilihan yang orang bikin pakai framing harta, tapi salah satu sifat penting dari pilihan model ini nggak usah diraguin lagi: rata-rata orang bakal lebih santai/netral sama risiko (risk neutrality) dibandingin kalau hasil yang sama dikemas pakai bingkai untung rugi.

Framing harta ini bikin orang jadi netral ngadepin risiko lewat dua cara:

Pertama, framing ini ngapus semua omongan soal kerugian, makanya hilang juga rasa benci/takut rugi (loss aversion) itu.
Kedua, kalau dikiaskan sama prinsip persepsi indera yang biasa kita kenal, hasil dari taruhan kecil-kecilan bakal kelihatan remeh banget kalau disandingin sama konteks harta keseluruhan yang nominalnya jauh lebih gede.

Kalau formulasinya Bernoulli ini udah ketahuan kelirunya sebagai model deskriptif buat pilihan berisiko (kayak yang udah kita bahas di sini), kenapa model ini awet banget dipertahanin sampai sekian lama? Jawabannya ya mungkin karena ngasih nilai utilitas ke harta itu adalah salah satu bentuk rasionalitas (akal budi), makanya ini sejalan sama asumsi umum soal rasionalitas di dalam teori-teori ekonomi.

Masalah 5: Perubahan Jangka Pendek vs Keadaan Akhir

4 JUTA 3 JUTA SI A (RUGI/SEDIH) 1 JUTA 1.1 JUTA SI B (UNTUNG/BAHAGIA)

Coba perhatiin Masalah 5 ini, akhi.

Masalah 5

Ada dua orang dapet laporan bulanan dari pialang (broker) mereka:
Si A dikasih tahu kalau hartanya turun dari 4 juta jadi 3 juta.
Si B dikasih tahu kalau hartanya naik dari 1 juta jadi 1,1 juta.

“Siapa di antara dua orang ini yang lebih pantes buat merasa puas/bersyukur sama kondisi keuangannya?”
“Siapa yang hari ini lebih bahagia?”

Masalah 5 ini nekenin betapa kontrasnya tafsiran soal utilitas di teori-teori yang matokin hasil akhir sebagai "kondisi" versus sebagai "perubahan". Di mazhabnya Bernoulli, cuma pertanyaan pertama doang yang masuk akal, dan cuma hasil jangka panjang yang ada harganya. Sebaliknya, Teori Prospek itu peduli sama hasil jangka pendek, dan fungsi nilainya itu seolah-olah nyerminin antisipasi dari seberapa kuat dan gimana bentuk emosi yang bakal dirasain pas momen perpindahan dari satu kondisi ke kondisi lain.

Dari dua konsep utilitas ini mana yang lebih manfaat? Buat urusan ngegambarin dunia nyata (deskriptif), ide yang mikir pendek itu yang menang, tapi kalau ngomongin adab/norma buat ngambil keputusan yang masuk akal, ya pandangan jangka panjang yang lebih diutamakan. Definisinya mazhab Bernoulli soal hasil yang relevan itu emang pas banget kalau dimasukin ke model agen yang rasional.

Tapi patut dicatet nih ya, kalau cuma peduli tok sama jangka panjang itu bisa-bisa bikin teorinya jadi kaku, karena toh hidup ini nggak cuma dijalani buat masa depan doang. Utilitas itu nggak bisa ditalak (dipisahin) dari emosi, dan emosi itu dipicu sama perubahan. Teori pilihan yang nutup mata sepenuhnya dari perasaan—kayak rasa pedihnya pas rugi dan penyesalan pas bikin salah—itu nggak cuma nggak realistis buat dunia nyata. Tapi ujung-ujungnya juga bakal ngasilin nasihat yang gagal maksimalkan utilitas dari hasil yang bener-bener dirasain langsung – alias utilitas kayak yang diyakini sama Bentham. Wallahu a'lam.



Infaq Imam Ahmad Rahimahullah

Widget Komik Sedekah ...