KISAH 11 WANITA
Sebuah studi karakter suami dalam bingkai sastra Arab klasik yang penuh metafora mendalam.
Mukadimah
Kesetiaan masing-masing pasangan suami istri kepada pasangannya serta pergaulan yang baik di antara keduanya termasuk akhlak Islam yang agung yang dianjurkan oleh Islam dan diterapkan oleh Rasulullah ﷺ.
Kehidupan beliau ﷺ adalah teladan paling indah dalam hal ini.
Dalam hadis ini, Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan kisah sebelas wanita yang berkumpul dalam satu majelis. Mereka "berjanji dan bersumpah setia" (تَعَاهَدْنَ وَتَعَاقَدْنَ) untuk tidak menyembunyikan sedikit pun perihal suami-suami mereka.
Wanita Pertama
- Analogi Fisik: Daging unta kurus (tidak selera).
- Lokasi: Puncak gunung terjal (sulit dijangkau).
"Suamiku ibarat daging unta yang kurus," maksudnya: dia seperti daging unta yang sangat kurus kering, "yang berada di puncak gunung," dan gunung ini "tidak mudah didaki," karena banyak bebatuan.
Dan daging itu pun tidak "gemuk sehingga layak dipindahkan," maksudnya: tidak layak seseorang menanggung kesulitan untuk memindahkannya.
Analisis Karakter: Wanita ini tidak ridha terhadap suaminya karena buruknya akhlak dan kasarnya tabiat sang suami. Dia mengumpamakan suaminya dengan daging unta yang dijijikkan oleh jiwa, dan mengumpamakan buruknya akhlak suami dengan gunung yang terjal.
Wanita Kedua
"Suamiku, aku tidak akan menyebarkan beritanya," maksudnya: aku tidak akan mengungkap dan menyiarkan kabar serta sifatnya, "sesungguhnya aku takut tidak akan menyisakan apapun."
Maksudnya: aku khawatir jika aku mulai menyebutkan sifat dan kabarnya, aku tidak akan menyisakan sedikitpun dari kabarnya; saking panjang dan banyaknya aib dan keburukannya.
"Jika aku menyebutnya, aku akan menyebut 'ujar-nya dan bujar-nya."
Istilah Medis Arab:
- Al-'Ujar: Pembengkakan urat di leher (Aib Tampak).
- Al-Bujar: Pembengkakan pusar (Aib Tersembunyi).
Metafora cacat lahir dan batin yang kompleks.
Wanita Ketiga
Wanita ketiga berkata: "Suamiku adalah Al-'Asyannaq," yaitu pria yang tinggi, maknanya: tidak ada padanya selain badan yang tinggi tanpa manfaat.
"Jika aku bicara, aku dicerai; jika aku diam, aku digantung."
Dilema Istri:
Wanita Keempat
Wanita keempat berkata: "Suamiku seperti malam di Tihamah." Maksudnya suaminya tidak menyakitkan, justru memberikan kenyamanan dan kenikmatan hidup seperti malam di Tihamah; nikmat dan sejuk, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.
Tihamah adalah dataran pantai Laut Merah di sisi Asia.
"Tidak ada rasa takut dan tidak ada kebosanan."
Maksudnya: Aku tidak takut kepadanya karena kemuliaan akhlaknya, dia tidak bosan kepadaku dan tidak merasa berat denganku sehingga jemu mendampingiku.
KISAH UMMU ZAR'
5 Si Macan & Singa
وَقَالَتِ الْمَرْأَةُ الْخَامِسَةُ: «زَوْجِي إِنْ دَخَلَ فَهِدَ، وَإِنْ خَرَجَ أَسِدَ، وَلَا يَسْأَلُ عَمَّا عَهِدَ»
Karakter Maksudnya: jika masuk rumah dia seperti macan tutul dalam hal banyak tidurnya. Dia bermaksud bahwa suaminya tidur (pura-pura tidak tahu) dan mengabaikan kekurangan rumah yang menjadi kewajibanku untuk memperbaikinya.
Atau dia lalai memeriksa harta benda yang hilang atau tersisa di rumahnya, sehingga dia tidak memperhitungkan hal-hal kecil maupun besar.
Namun jika berada di luar rumah, dia bagaikan singa dalam keberanian, kekuatan, dan amarahnya. Maksudnya dia bersikap lembut kepada istrinya, namun di luar rumah dia pemberani, kuat, dan garang.
Makna "tidak menanyakan apa yang dia ketahui": dia tidak menanyakan harta atau semacamnya yang dia tinggalkan di rumah karena kesempurnaan kedermawanannya.
6 Si Rakus & Cuek
وَقَالَتِ الْمَرْأَةُ السَّادِسَةُ: «زَوْجِي إِنْ أَكَلَ لَفَّ، وَإِنْ شَرِبَ اشْتَفَّ، وَإِذَا نَامَ الْتَفَّ، وَلَا يُولِجُ الْكَفَّ لِيَعْلَمَ الْبَثَّ»
Makan & Minum Maksudnya: dia makan dengan rakus dan tidak menyisakan makanan sedikit pun. Al-Laff bermakna memperbanyak makan dengan mencampur berbagai jenisnya hingga tak bersisa. Begitu juga Isytifaf (dari as-syufafah), yaitu orang yang tidak menyisakan sedikit pun di wadah.
Hubungan Jika tidur dia berselimut dengan pakaiannya di sudut rumah dan menjauh, sehingga istrinya bersedih.
Maksud "tidak menyulurkan telapak tangan": dia tidak memasukkan tangannya ke dalam pakaianku untuk mengetahui kesedihan yang aku rasakan; karena ketidakpedulian dan ketidakdekatan suami darinya. Dia tidak menyentuhnya, tidak merayunya, tidak mengajaknya bercengkrama, tidak memuaskan hajatnya.
7 Si Kasar & Bodoh
وَقَالَتِ الْمَرْأَةُ السَّابِعَةُ: «زَوْجِي غَيَايَاءُ أَوْ عَيَايَاءُ طَبَاقَاءُ، كُلُّ دَاءٍ لَهُ دَاءٌ، شَجَّكِ أَوْ فَلَّكِ أَوْ جَمَعَ كُلًّا لَكِ»
Mental & Fisik Ghayaya': dia tertutup oleh kebodohannya (kegagalan). 'Ayaya': lemah atau impoten ('innin) yang tidak mampu menggauli wanita. Thabaqa': bodoh, dungu, atau orang yang tidak mampu bicara (bibir tertutup rapat).
"Setiap penyakit adalah penyakitnya" berarti setiap aib yang tersebar pada orang-orang berkumpul pada dirinya.
Kekerasan Maknanya: jika istri bercanda dengannya, dia melukai kepalanya (syajj); jika istri membuatnya marah, dia mematahkan salah satu anggota tubuhnya atau menyobek kulitnya; atau dia mengumpulkan semua itu mulai dari pukulan, luka, dan ucapan yang menyakitkan.
8 Si Lembut & Harum
وَقَالَتِ الْمَرْأَةُ الثَّامِنَةُ: «زَوْجِي الْمَسُّ مَسُّ أَرْنَبٍ، وَالرِّيحُ رِيحُ زَرْنَبٍ»
Kelembutan Dia menyifatinya berkulit halus seperti halusnya bulu kelinci. Pendapat lain mengatakan: "sentuhan kelinci" bermakna kelembutan sikap dan kemuliaan akhlak.
Aroma Dia memiliki keringat yang harum karena kebersihannya dan pemakaian wewangian. Zarnab adalah sejenis wewangian atau pohon yang beraroma wangi.
9 Si Mulia & Pemimpin
وَقَالَتِ الْمَرْأَةُ التَّاسِعَةُ: «زَوْجِي رَفِيعُ الْعِمَادِ، طَوِيلُ النِّجَادِ، عَظِيمُ الرَّمَادِ، قَرِيبُ الْبَيْتِ مِنَ النَّادِ»
Tinggi Tiang (Rafi' al-'imad): Rumahnya memiliki tiang tinggi agar terlihat oleh tamu. Ini simbol sifat kemuliaan dan kedudukan nasab yang tinggi.
Panjang Sarung Pedang (Thawil an-nijad): Berperawakan tinggi.
Banyak Abu ('Azhim ar-ramad): Karena apinya tidak pernah padam agar para tamu dapat menemukannya. Ini menunjukkan kedermawanannya.
Dekat Ruang Pertemuan (An-Nad): Jika kaumnya bermusyawarah, mereka bergantung pada pendapatnya. Dia memiliki sifat kepemimpinan. Orang pelit biasanya menjauh dari balai pertemuan.
SERIAL HADITS: KISAH 11 WANITA
WANITA KE-10 & UMMU ZAR'
Sebuah ilustrasi visual mendalam tentang pujian, kekayaan, dan dinamika rumah tangga dalam bingkai sastra Arab klasik.
WANITA KESEPULUH: MALIK
Wanita kesepuluh berkata: "Suamiku adalah Malik, siapakah Malik?! Malik lebih baik dari itu semua." Ini adalah pengagungan untuk suaminya yang bernama Malik, dan bahwa dia lebih baik dari sifat yang akan dia sebutkan.
-
"Dia memiliki unta yang banyak tempat menderumnya (mabarik)," maksudnya: memiliki unta yang banyak kandangnya (sering di rumah).
-
"Sedikit tempat penggembalaannya (masarih)," maksudnya: dia tidak sering mengirim unta-untanya ke padang rumput karena persiapannya menyambut tamu, agar dia bisa segera menyembelih untuk mereka jika datang. Ini menunjukkan kedermawanannya.
-
"Jika unta-unta itu mendengar suara al-mizhar (alat musik), mereka yakin bahwa mereka akan binasa." Maksudnya: jika unta mendengar suara musik karena kegembiraan suami menyambut tamu, unta-unta itu tahu bahwa mereka akan binasa (disembelih) untuk makanan tamu.
Al-Mizhar adalah salah satu alat musik/hiburan. Dia bermaksud bahwa suaminya membiasakan untanya: jika tamu singgah, dia menyembelih unta untuk mereka dan menghibur mereka dengan musik.
WANITA KE-11: UMMU ZAR'
Wanita kesebelas—yaitu Ummu Zar', Atikah binti Ukaimil bin Sa'idah Al-Yamaniyah—berkata: "Suamiku adalah Abu Zar', siapakah Abu Zar'?!" Dia bermaksud mengagungkannya.
"Dia memberatkan telingaku dengan perhiasan," maksudnya: dia memenuhi telingaku dengan perhiasan.
"Dan dia memenyuhi lengan atasku dengan lemak." Al-'Adhud adalah bagian antara siku dan bahu. Maknanya: dia membuatku gemuk dan memenuhi tubuhku dengan lemak dan daging karena (banyaknya) makanan. Dia tidak bermaksud mengkhususkan lengan atas saja, tapi jika lengan atas gemuk, bagian lain pun gemuk.
"Dia memuliakanku (bajjahani) sehingga aku merasa bangga pada diriku," maksudnya: dia mengagungkan diriku hingga aku merasa agung.
-
"Lalu dia menjadikanku berada di tengah (pemilik) suara ringkikan (shahil) dan suara rintihan unta (athith)." Shahil adalah suara kuda, dan Athith adalah suara unta. Maknanya: dia menjadikannya termasuk pemilik kuda dan unta.
-
"Serta pemilik pengirik (da'is) dan pembersih biji-bijian (munaqqin)." Maksudnya: yang mengirik tanaman untuk mengeluarkan biji dari bulirnya dan membersihkan makanan dengan membuang kulit dan sejenisnya. Maknanya: dia memindahkannya dari kehidupan yang keras dan susah menuju kekayaan yang luas berupa kuda, unta, dan tanaman pertanian.
-
"Di sisinya aku bicara dan tidak dicela (uqabbah)," maksudnya: dia tidak menganggap buruk ucapanku dan tidak menolaknya.
-
"Aku tidur hingga pagi hari (atashabbah)," maksudnya: aku tidur sampai pagi; karena dia memiliki pembantu yang mengerjakan pekerjaan rumah menggantikannya.
-
"Dan aku minum hingga puas (ataqannah)," maksudnya: aku minum sampai aku meninggalkan minuman itu karena sangat puas, tidak ada yang memutus minumku sedikit pun.
KELUARGA ABU ZAR
1. IBU ABU ZAR
Kemudian wanita itu memuji ibu suaminya, Abu Zar', katanya: "Ibu Abu Zar', siapakah ibu Abu Zar'?! Tas-tas penyimpanannya ('ukum) besar (radah)," maksudnya: wadah tempat menyimpan barang-barang besar. "Dan rumahnya luas (fasah)," maksudnya: rumahnya lapang dan besar.
2. PUTRA ABU ZAR
Kemudian dia memuji putra Abu Zar', katanya: "Tempat tidurnya seperti pedang yang ditarik dari sarungnya (masalli syathbah)." Maksudnya: tempat tidurnya sempit seperti pelepah yang dikupas, dia bermaksud bahwa perawakan putranya seperti pedang dalam kelangsingan dan keringanannya.
"Dan dia kenyang dengan lengan anak kambing (jafrah)." Jafrah adalah anak kambing betina umur empat bulan. Maksudnya dia sedikit makan, dan orang Arab memuji hal tersebut.
3. PUTRI ABU ZAR
Kemudian dia memuji putri Abu Zar', katanya: "Taat kepada ayahnya, dan taat kepada ibunya," maksudnya: patuh dan tidak membangkang perintah keduanya. "Memenuhi pakaiannya," maksudnya: dia mengisi penuh bajunya karena gemuk (sehat). "Dan membuat marah tetangga (madu)nya," maksudnya: dia membuat marah madunya (istri lain suaminya) karena kecantikan, kesopanan, dan kehormatannya.
4. PEMBANTU ABU ZAR
Kemudian dia memuji pembantu Abu Zar', katanya: "Dia tidak menyebarkan pembicaraan kami (tabtsitsa)," maksudnya: tidak mengumbar dan membocorkan obrolan dan rahasia mereka.
"Tidak merusak persediaan makanan kami (tanqitsa)," maksudnya: tidak merusak makanan, tidak memboroskan atau membawanya pergi (mencuri); tujuannya adalah menyifatinya dengan amanah.
"Dan tidak membiarkan rumah kami penuh sampah (ta'syisya)," maksudnya: tidak membiarkan sampah berserakan di rumah seperti sarang burung, melainkan dia merapikan rumah dan menjaga kebersihannya.
Kisah Ummu Zar'
Bagian 2: Perpisahan & Kehidupan Baru
Infografis Detail & Mendalam
Terjemahan: Kemudian Ummu Zar' menyebutkan perubahan yang terjadi dalam hidupnya bersama Abu Zar' ketika dia melihat wanita lain lalu menikahinya dan menceraikan Ummu Zar'. Dia berkata: "Abu Zar' keluar saat wadah-wadah susu (awthab) sedang diguncang (tumkhad)."
Analisis Makna
- Awthab: Wadah susu yang digerakkan untuk mengeluarkan mentega.
- Waktu Kejadian: Masa subur dan indahnya musim semi, atau pagi hari (Ghudwah).
- Kondisi Ekonomi: Mereka memiliki banyak kebaikan (susu melimpah) hingga bisa dibuat mentega.
- Pemicu Konflik: Ini adalah setting suasana sebelum Abu Zar' melihat wanita lain yang sedang kelelahan mengguncang susu lalu berbaring.
Terjemahan: Dia berkata: "Lalu dia bertemu seorang wanita yang membawa dua anaknya seperti dua ekor macan tutul." Sebab penyebutan bagusnya kedua anak wanita itu adalah untuk mengingatkan sebab Abu Zar' menikahinya; karena orang Arab menyukai anak-anak dari wanita yang unggul dalam fisik dan akhlak.
"Keduanya bermain di bawah pinggangnya dengan dua buah delima." Maksudnya: kedua anak itu bergerak di bawah pinggangnya dan bermain dengan dua payudara wanita itu yang kecil dan indah seperti buah delima. Lalu dia (Abu Zar') menceraikanku dan menikahi wanita itu.
Tafsir Lain (Hipersensitivitas Bahasa):
Ada pendapat lain mengatakan: Maksud ucapan "bermain di bawah pinggangnya dengan dua buah delima" adalah bahwa wanita itu memiliki pinggul yang besar, sehingga jika dia berbaring telentang, pinggulnya mengangkat tubuhnya dari tanah hingga terbentuk celah di bawahnya yang bisa dilewati buah delima.
Dia berkata: "Lalu aku menikah setelahnya dengan pria yang luhur (sariyyan)."
- Sariyyan: Pria terhormat.
- Syariyyan: Kuda pilihan (dia melaju sungguh-sungguh tanpa henti).
- Khatthiy: Tombak dari Yaman.
- Tsariyyan: Membawa banyak harta/unta.
"Dan dia memberiku sepasang dari setiap ternak yang pulang kandang." (Unta, sapi, kambing, budak).
"Makanlah wahai Ummu Zar', dan berilah makan keluargamu (miri)."
Maksudnya: sambunglah silaturahmi dengan keluargamu, berbuat baiklah, dan lapangkanlah makanan bagi mereka.
Ummu Zar' berkata: "Seandainya aku kumpulkan semua yang dia (suami kedua) berikan kepadaku, itu tidak akan mencapai (ukuran) wadah terkecil milik Abu Zar'."
Setelah Ummul Mukminin Aisyah bercerita, Nabi ﷺ bersabda:
"Aku bagimu seperti Abu Zar' bagi Ummu Zar'."
Maksudnya: Perjalananku bersamamu dalam hal pemuliaan dan cinta adalah seperti Abu Zar', namun tanpa perceraian. Ini bentuk kerendahan hati (tawadhu) beliau.