LAPORAN STRATEGIS
2025 FISCAL REVIEW
6.1 Realisasi Penyerapan Anggaran
Total anggaran yang terserap adalah Rp332.736.000.
Pola penyerapan mengikuti kurva volume layanan:
-
Q1 (Jan-Mar): Rp98.676.000 (29,6% dari total tahunan). Penyerapan sangat tinggi di awal tahun akibat wabah DBD.
-
Q2 (Apr-Jun): Rp86.976.000 (26,1%).
-
Q3 (Jul-Sep): Rp80.616.000 (24,2%).
-
Q4 (Okt-Des): Rp66.468.000 (20,0%).
Analisis
Terjadi tren penurunan penyerapan anggaran dari kuartal ke kuartal.
Hal ini positif dari sisi penghematan anggaran daerah menjelang akhir tahun fiskal,
namun perlu diwaspadai apakah penurunan volume di Q4 (terutama November) disebabkan oleh
penurunan kebutuhan medis riil atau karena kehabisan kuota anggaran subsidi?
Jika November mencatat volume terendah (964 labu), ada kemungkinan
pagu anggaran mulai menipis sehingga rumah sakit
memperketat kriteria pasien yang bisa klaim subsidi,
atau memang terjadi penurunan kasus penyakit secara alami di akhir tahun.
6.2 Efisiensi Biaya Satuan
Dengan subsidi tetap Rp24.000, pemerintah daerah mendapatkan
kepastian biaya (fixed unit cost). Risiko fluktuasi harga reagen
sepenuhnya ditanggung oleh Rumah Sakit.
Dalam situasi inflasi ekonomi tahun 2025, model subsidi
fixed rate ini sangat menguntungkan bagi pemberi subsidi (Pemkot)
namun memberatkan bagi penerima (RS) jika biaya operasional riil
meningkat melebihi margin efisiensi.