Rabu

CPL Flebotomi

Infografis: Jembatan Kompetensi TLM

Menjembatani Kesenjangan

Dari "Tahu" (Pendidikan) Menjadi "Mampu" (Kompetensi)

Tantangan di Dunia Nyata

10,28%

Kegagalan Flebotomi

Studi di RS Santo Borromeus Bandung menunjukkan angka kegagalan oleh ATLM (95,6% D3). Ini masalah konsistensi nyata.

46-77%

Kesalahan Pra-Analitik

Riset global konsisten menunjukkan tahap pra-analitik (yang berpusat di flebotomi) adalah sumber kesalahan terbesar di laboratorium.

Menjembatani Dua Pilar

Pilar 1: Pendidikan D3

Memberi Anda pengetahuan dasar dan teoritis.

"Saya tahu cara melakukannya"

Pelatihan Ini

Adalah jembatan yang mengubah pengetahuan menjadi kompetensi terstandar.

Pilar 2: Tuntutan Kerja

Menuntut kompetensi terukur, aman, dan konsisten.

"Saya mampu melakukannya"

Tujuan Integrasi Pelatihan

Mengaktivasi CPL

Mengaktifkan CPL D3 TLM Anda terkait flebotomi, QA, dan patient safety.

Mengontekstualisasikan SKKNI

Menghubungkan CPL dengan tuntutan legal SKKNI (Kepmenaker 170/2018).

Mengintegrasikan Standar Global

Menerapkan standar mutu CLSI & WHO untuk memitigasi kesalahan pra-analitik.




Infografis: Pilar 1 - CPL vs Kompetensi

Pilar Pertama: Aktivasi CPL Anda

Fondasi Pengetahuan vs. Realita Kompetensi

Fondasi Anda: Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL)

Pengetahuan (P1)

"Menguasai... quality assurance, komunikasi dan patient safety."

Keterampilan Khusus (KKx)

"Mampu melakukan tindakan pencegahan terjadinya kesalahan... meliputi tahap pra analitik..."

Keterampilan Khusus (KKx)

"Menguasai konsep pencegahan terjadinya kesalahan... melalui konfirmasi kesesuaian proses dengan standar..."

Paradoks di Dunia Nyata: Studi Kasus Bandung

Hasil Observasi (Simulasi)

88,9%

Memiliki "Pengetahuan Flebotomi Baik"

100%

Memiliki "Sikap & Keterampilan Baik"

Hasil Penilaian Kompetensi

11,1%

Tetap dinilai "Tidak Kompeten"

Ini adalah bukti nyata dari kesenjangan antara 'tahu' dan 'mampu' dalam praktik sehari-hari.

Kesenjangan & Variabel yang Hilang

"Pengetahuan baik" (simulasi) TIDAK SAMA DENGAN "Kompeten" (praktik nyata).

Variabel yang Hilang: Penerapan standar mutu yang kaku dan pengambilan keputusan kritis di bawah tekanan.




Infografis Kewajiban Profesional SKKNI

Sub-Modul 1.2

Pilar Kedua: Kewajiban Profesional (SKKNI)

SKKNI adalah kontrak profesional Anda yang menuntut kompetensi yang konsisten, aman, dan benar.

Dasar Hukum & Tujuan

Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia


KEPMENAKER NO. 170 TAHUN 2018 Standar ini adalah dasar untuk **sertifikasi kompetensi** Anda. Organisasi profesi (PATELKI) dan LSP menggunakannya untuk menentukan apakah Anda 'Kompeten' atau 'Belum Kompeten'.

Fokus Unit Kompetensi

Kontrak Profesional Anda


KODE: Q.86TLM00.005.1 Melakukan Flebotomi Vena dan Kapiler
Ini bukan hanya janji akademis, tetapi tuntutan industri bahwa Anda dapat bekerja dengan benar dan aman setiap saat.

3 Elemen Kritis Unit Kompetensi

1. Mempersiapkan Tindakan

Termasuk **verifikasi berlapis** (identifikasi pasien, form, dll.) dan **persiapan alat** yang sesuai standar.

2. Melakukan Flebotomi

Termasuk **manajemen pasien** (kenyamanan, keamanan) dan **komunikasi efektif** selama prosedur.

3. Menangani Spesimen

Termasuk **pencampuran** yang benar, **pelabelan** di sisi tempat tidur, dan **transportasi** yang memenuhi standar.

Tuntutan SKKNI: Bukan Hanya 'Bisa', tapi **'Kompeten'**

Artinya: Mampu melakukannya dengan **benar, aman, dan konsisten setiap saat**.

Infografis Kewajiban Profesional | Sumber Data: SKKNI Kepmenaker No. 170 Tahun 2018




Infografis: Standar Emas Mutu Global

Pilar Ketiga: Standar Emas Mutu Global

Sub-Modul 1.3: WHO & CLSI

SKKNI memberi tahu 'APA', Standar Global memberi tahu 'BAGAIMANA'

Standar global adalah inti dari mutu, memberi tahu kita 'BAGAIMANA' melakukannya dengan standar tertinggi, terutama setelah pembaruan besar pasca-2015.

WHO (Global Framework)

Best Practices in Phlebotomy16

Menekankan flebotomi sebagai sistem mutu yang utuh, bukan hanya prosedur teknis.

  • KUNCI UTAMA: Planning Ahead
    (Fobia jarum, pengencer darah, vena rapuh).
  • Quality Control
  • Patient Cooperation
  • Appropriate Training

CLSI (The "How-To" Bible)

Clinical and Laboratory Standards Institute18

Bintang utama yang merilis dua dokumen krusial di Tahun 2017:

  • GP41-Ed719:
    Collection of Diagnostic Venous Blood Specimens (Untuk Praktik Harian).
  • GP48-Ed120:
    Essential Elements of a Phlebotomy Training Program (Untuk Desain Kursus).
149 BARU!

Pembaruan Besar: CLSI GP41-Ed719

Bukan pembaruan kecil! Dibuat berdasarkan tinjauan 400+ artikel ilmiah.

Implikasi Besar Bagi Anda:

SOP di tempat kerja atau kurikulum D3 Anda yang lama, SANGAT MUNGKIN belum mengadopsi semua 149 persyaratan wajib baru ini.

Fokus Pelatihan Kritis & Berisiko Tinggi

Pelatihan ini berfokus pada persyaratan baru untuk skenario paling menantang:

Pasien Obesitas Lansia Pediatrik Fobia Jarum Proksimal dari Infus IV

Referensi: 16. WHO (2010). | 18. CLSI. | 19. CLSI GP41-Ed7 (2017). | 20. CLSI GP48-Ed1 (2017).

Infografis ini dibuat untuk tujuan ilustrasi pendidikan.




Infografis Standar Emas Flebotomi: CLSI GP41-A7

Standar Emas (Gold Standard) Flebotomi

Mengapa Pedoman Pasca-2015 Wajib Menjadi Rujukan Anda

STANDAR EMAS GLOBAL

CLSI GP41-EDISI 7 (2017)

Pedoman untuk Pengambilan Spesimen Darah Vena Diagnostik.

Berbasis Bukti Ilmiah

Bukan sekadar pembaruan minor.

HASIL DARI TINJAUAN LITERATUR:

> 400

Artikel Ilmiah & Studi

Pesan yang Jelas

Praktik lama tidak lagi memadai.

CLSI MENAMBAHKAN:

+149

Persyaratan Wajib BARU

Ini membuktikan 'cara lama' kini definitif substandar.

Peringatan Keras

Oleh Dennis Ernst, Ketua Komite CLSI.

"Fasilitas mana pun yang tidak menggunakan [GP41]... menempatkan diri mereka pada risiko beroperasi di bawah standar perawatan (standard of care)."

Selaras Secara Global

CLSI tidak berdiri sendiri.

Pedoman ini selaras dengan panduan global modern lainnya:

  • Pedoman WHO tentang Pengambilan Darah
  • Rekomendasi EFLM (Eropa)
  • Rekomendasi COLABIOCLI (Amerika Latin)

Semua Bermuara Pada Satu Kata:

STANDARISASI





Infografis Tanggung Jawab Hukum & Profesional ATLM

Tanggung Jawab Hukum & Profesional ATLM

Kepatuhan Flebotomi Sebagai Inti Kompetensi, Kewenangan, dan Legalitas

Integrasi Tiga Pilar Mandat Profesional

1. PATELKI

(Struktur Profesional)

Menyediakan struktur melalui pelatihan & sertifikasi untuk legalitas dan kompetensi.

  • Etika Profesi
  • Aspek Hukum
  • Quality Assurance (QA)

2. SKKNI

(Mandat Legal)

Menyediakan mandat profesional. Fungsi Kunci: "Pengendalian Mutu Laboratorium Klinik".

  • Pengendalian Ketidaksesuaian
  • Problem Solving
  • Menyusun Instruksi Kerja

3. CLSI GP41

(Standar Teknis)

Menyediakan standar teknis berbasis bukti ilmiah (Evidence-Based).

  • Standar "Apa yang harus dilakukan"
  • Dasar untuk Instruksi Kerja
  • Alat untuk memenuhi SKKNI

Kepatuhan Bukan Pilihan. Ini Mandat.

Implementasi flebotomi terstandar adalah pemenuhan langsung dari mandat profesional dan hukum kita sebagai ATLM.

Ketidakpatuhan bukan hanya kesalahan mutu; itu adalah KEGAGALAN PROFESIONAL.





Infografis Mandat Profesional Flebotomi D3 TLM

Flebotomi: Mandat Profesional Inti D3 TLM

Membedah Koneksi Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) & SKKNI

MANDAT #1: CPL - Pengetahuan (P1)

Menguasai Konsep Pra-Analitik

Lulusan D3 TLM wajib menguasai konsep teoritis dari seluruh ekosistem pra-analitik:

  • Teknik Pengambilan Darah: Kapiler, Vena, dan Arteri.
  • Manajemen Risiko: Komplikasi flebotomi & penanganan pasien.
  • Penjaminan Mutu (QA): Penanganan spesimen & Patient Safety.

MANDAT #2: CPL - Keterampilan (KK)

Mencegah Kesalahan Pra-Analitik

Mandat tidak berhenti di tahu, tapi harus 'mampu'. CPL Keterampilan Khusus menuntut Anda untuk:

  • Melakukan Pengambilan Spesimen: Sesuai prosedur standar, aman, dan nyaman.
  • Mendapatkan Spesimen Representatif: Sampel yang valid untuk diagnosis.
  • MENCEGAH KESALAHAN pada tahap Pra-Analitik untuk hasil berkualitas.

MANDAT #3: PENGAKUAN NASIONAL

Standar Kompetensi (SKKNI)

Mandat CPL Anda diperkuat dan diakui secara formal oleh negara melalui:

SKKNI No 170 Tahun 2018 (ATLM)

Unit Kompetensi Kunci:

Q.86TLM00.005.1: Melakukan Flebotomi Vena dan Kapiler.

Ini adalah kualifikasi formal yang membedakan Anda sebagai ahli yang ditunjuk secara legal.

KESIMPULAN

Anda Adalah Ahli Pra-Analitik!

CPL dan SKKNI menegaskan bahwa D3 TLM adalah ahli yang ditunjuk secara profesional dan legal untuk area pra-analitik.

Pekerjaan Anda bukan 'hanya' menusuk vena. Pekerjaan Anda adalah MENJAMIN MUTU dan MENCEGAH KESALAHAN demi keselamatan pasien.

Ini Adalah Mandat Anda.

Pelatihan ini adalah alat bagi Anda untuk memenuhi mandat CPL dan SKKNI, memberdayakan Anda sebagai benteng terakhir mutu laboratorium di fase pra-analitik.




Infografis Pedoman Flebotomi CLSI GP41-A7

Flebotomi Terstandar: Pedoman CLSI GP41

Dari Kebiasaan Menjadi Praktik Berbasis Bukti Ilmiah (Evidence-Based)

STANDAR EMAS GLOBAL

CLSI GP41-Edisi 7 (2017)

Standar ini juga diadopsi oleh Kemenkes RI untuk lokakarya flebotomi.

6 Poin Kritis CLSI GP41 yang Sering Salah di Lapangan

1. Identifikasi Pasien

❌ KESALAHAN UMUM:

"Apakah Anda Bpk. Budi?" (Pertanyaan tertutup).

✅ STANDAR EMAS (CLSI):

Gunakan min. 2-3 identifier (Nama, Tgl. Lahir, No. RM) & pertanyaan TERBUKA: "Silakan sebutkan nama dan tanggal lahir Anda."

2. Kebersihan Tangan & APD

❌ KESALAHAN UMUM:

Menggunakan 1 pasang sarung tangan untuk beberapa pasien (hemat biaya).

✅ STANDAR EMAS (CLSI):

Cuci tangan (sebelum & sesudah) dan gunakan sarung tangan BARU untuk SETIAP pasien. Mencegah kontaminasi silang (mis. MRSA).

3. Manajemen Tourniquet

❌ KESALAHAN UMUM:

Terpasang > 1 menit saat mencari vena. Biang kerok hemolisis!

✅ STANDAR EMAS (CLSI):

Lepas dalam 1 MENIT. Jika lebih, lepas tourniquet, tunggu 2 menit, lalu pasang lagi. Jangan pasang sebelum alat siap.

4. Urutan Pengisian Tabung

❌ KESALAHAN UMUM:

Urutan acak (mis. EDTA/Ungu sebelum Sitrat/Biru) -> Kontaminasi Kalium.

✅ STANDAR EMAS (CLSI):

MUTLAK & tidak bisa ditawar. Mencegah kontaminasi aditif. (Umum: Kultur, Sitrat, Serum, Heparin, EDTA, Glukosa).

5. Homogenisasi (Inversi)

❌ KESALAHAN UMUM:

Mengocok tabung (sebabkan hemolisis) atau tidak dibalik sama sekali (sebabkan mikrogumpalan).

✅ STANDAR EMAS (CLSI):

Inversi (dibalik 180°) secara LEMBUT dan perlahan. 8-10 kali untuk tabung aditif (biru, ungu, hijau).

6. Pelabelan (Aturan Emas)

❌ KESALAHAN UMUM:

Memberi label di meja lab (jauh dari pasien) atau memberi label sebelum darah diambil.

✅ STANDAR EMAS (CLSI):

HARUS dilakukan di sisi pasien (bedside) SETELAH spesimen diambil. 100% dapat mencegah kesalahan fatal.

Standar Global Bukan Pilihan, Tapi Kewajiban.

Kuasai 6 poin kritis ini untuk beralih dari 'kebiasaan' ke 'praktik berbasis bukti' demi keselamatan pasien.




Infografis Flebotomi: CLSI GP41 vs. Praktik Berisiko

Flebotomi: CLSI GP41-A7 vs. Praktik Umum Berisiko

Perbandingan Kritis untuk Mutu dan Keselamatan Pasien

PEDOMAN CLSI GP41-A7 (2017)

Standar Global untuk Pengambilan Spesimen Darah Vena Diagnostik

❌ IDENTIFIKASI PASIEN (BERISIKO)

Mengajukan pertanyaan tertutup: "Apakah Anda Bpk. Budi?"

Risiko: Pasien mengiyakan walau salah identitas. Konsekuensi fatal!

✅ CLSI GP41-A7 (STANDAR EMAS)

Gunakan minimal 2-3 identifier & pertanyaan terbuka: "Sebutkan nama & tanggal lahir Anda."

Mencegah salah pasien, salah diagnosis, & transfusi tidak cocok.

❌ MANAJEMEN TOURNIQUET (BERISIKO)

Tourniquet terpasang > 1 menit ("sambil cari vena").

Risiko: Hemokonsentrasi. Peningkatan palsu K+, Protein, Enzim, Koagulasi.

✅ CLSI GP41-A7 (STANDAR EMAS)

Aplikasi tourniquet kurang dari 1 menit.

Jika lebih, lepas, tunggu 2 menit, baru pasang lagi. Hindari artefak hasil.

❌ HOMOGENISASI SAMPEL (BERISIKO)

Mengocok tabung terlalu kuat atau lupa diinversi.

Risiko: Hemolisis (kocok kuat), Mikrogumpalan (tidak diinversi).

✅ CLSI GP41-A7 (STANDAR EMAS)

Inversi lembut 180°, 8-10 kali untuk tabung beraditif.

Memastikan aditif tercampur rata & mencegah hemolisis/gumpalan.

❌ PELABELAN TABUNG (BERISIKO)

Melabel di meja lab sebelum darah diambil.

Risiko: Tertukar sampel, kesalahan fatal akibat salah identitas.

✅ CLSI GP41-A7 (STANDAR EMAS)

Dilakukan di sisi pasien, SETELAH darah selesai diambil.

Mencegah 100% kesalahan identitas sampel.

Dampak Pelatihan: Mengatasi Kesenjangan Pengetahuan

Studi Aslan et al. (2017) menunjukkan:

  • Tingkat jawaban benar kuesioner naik dari 59.1% menjadi 92.2% setelah pelatihan.
  • Pengetahuan "Urutan Tabung" naik dari 10% menjadi 80% pada lulusan vokasi.
  • Terjadi penurunan signifikan kesalahan pra-analitik 2-3 kali lipat di lapangan setelah edukasi.

Ini membuktikan: Human error dapat diatasi dengan pendidikan berkelanjutan!




Infografis Mikro-Error Flebotomi

Sub-Modul 2.2

Studi Kasus: Kesalahan yang 'Tak Terlihat' (Mikro-Error)

Kesalahan kecil pada teknik flebotomi dapat memicu cedera iatrogenik serius.

Kasus 1: Pemasangan Torniket Terlalu Lama

Skenario: ATLM memasang torniket selama 90 detik karena vena sulit ditemukan. (Batas aman CLSI: ≤ 60 detik)

Dampak Kimia Klinis

Torniket > 60 detik (Stasis Vena) 24:

Peningkatan Kalium (K+) +2,5%
Peningkatan Total Kolesterol +5%

Implikasi Klinis Fatal

Contoh Kasus K+: Nilai Asli Pasien: 5.0 mmol/L (Batas Atas Normal)

5.125 mmol/L NILAI KRITIS / HIPERKALEMIA PALSU

Mikro-error ini memicu terapi yang tidak perlu (cedera iatrogenik).

ATURAN CLSI GP41 19:

Lepaskan torniket jika vena tidak ditemukan dalam 1 menit. Biarkan aliran darah pulih selama 2 menit, lalu coba lagi.

Kasus 2: Urutan Pengambilan (Order of Draw) Salah

Skenario Salah: Mengambil tabung Serum (Merah/Clot Activator) SEBELUM tabung Koagulasi (Biru/Sitrat).

Dampak Kontaminasi Silang

Sisa mikroskopis Clot Activator dari tabung Merah...

...Masuk ke dalam tabung Sitrat (Biru).


Hasil:

Waktu Pembekuan (PT/APTT) Memendek Palsu

Implikasi Klinis Fatal

Dokter melihat hasil 'normal' palsu dan mungkin melanjutkan operasi...

RISIKO PENDARAHAN HEBAT Pada pasien yang sebenarnya memiliki masalah pembekuan darah.

ATURAN CLSI 2024: Urutan Pengambilan WAJIB 21

1. Kultur Darah

2. Sitrat (Biru)

3. Serum (Merah/Gold)

4. Heparin (Hijau)

5. EDTA (Ungu)

6. Inhibitor Glikolitik

Infografis Mikro-Error | Sumber Data: Sub-Modul 2.2




Infografis: Studi Kasus 2 - Kesalahan Kontaminasi

Studi Kasus 2: Kesalahan Kontaminasi

Sub-Modul 2.3: Makro-Error (ASCLS Case Four24)

Situasi: Pengambilan Berisiko

Pasien terpasang infus Dextrose di lengan kanan. ATLM kesulitan di lengan kiri, sehingga mengambil darah dari vena yang sama dengan infus di lengan kanan.

Hasil Lab Pagi: Gambaran Klinis Mustahil!

1.9
WBC
↓ Sangat Rendah

(Leukopenia Kritis)

4.4 g/dl
HGB
↓ Sangat Rendah

(Anemia Kritis)

225.230*
GLU (mg/dL)
↑ Sangat Tinggi

(Hiperglikemia Masif)

"Kondisi klinis pasien tidak sesuai. Pasien tidak tampak anemia kritis atau syok."

*Nilai glukosa tercatat sesuai data sumber, menunjukkan hasil yang sangat tinggi dan tidak logis.

Akar Masalah 1: Pengenceran

Cairan infus (Dextrose) mengencerkan sampel darah.

Hasil → WBC & HGB Rendah Palsu

Akar Masalah 2: Kontaminasi

Dextrose (isi infus) masuk ke dalam tabung sampel.

Hasil → Glukosa Tinggi Palsu

Solusi & Prosedur WAJIB (CLSI GP41-Ed719)

Pengambilan dari lengan terpasang infus adalah PILIHAN TERAKHIR! Jika terpaksa, JANGAN ambil di atas (proksimal) infus.

Prosedur Wajib Jika TERPAKSA Ambil Proksimal:

  1. Minta perawat MENGHENTIKAN INFUS (min. 2-5 menit).
  2. Lakukan flebotomi, tarik DARAH BUANGAN (5 mL).
  3. Baru kumpulkan tabung spesimen (koagulasi, EDTA, dst).
  4. DOKUMENTASIKAN bahwa spesimen diambil dari lengan infus.

Ini Adalah Kompetensi Lanjutan

Ini adalah Problem Solving13. Ini adalah cara CPL ("menguasai penanganan spesimen"1) diintegrasikan dengan standar global untuk menyelamatkan pasien dari diagnosis dan terapi yang salah.

Referensi: 1. CPL | 13. Problem Solving | 19. CLSI GP41-Ed7 (2017) | 24. ASCLS.

Infografis ini dibuat untuk tujuan ilustrasi pendidikan.




Infografis: Mengelola Variabilitas Pasien Sulit

Mengelola Variabilitas Pasien

Sub-Modul 2.4: Pasien Sulit (CLSI GP41-Ed719)

"Standar Mutu tidak boleh turun hanya karena pasiennya sulit."

Panduan CLSI GP41-Ed719 untuk Kondisi Khusus

Pasien Obesitas

  • Tantangan: Sulit menemukan vena.
  • Teknik: Palpasi ganda, jangan 'menusuk buta'.
  • Risiko: Hemolisis tinggi.

Pasien Lansia

  • Tantangan: Vena rapuh, tidak terfiksasi (sering 'rolling').
  • Teknik: Sudut landai, fiksasi vena, winged-set, torniket longgar.
  • Risiko: Vena kolaps / Hematoma.

Pasien Fobia Jarum

  • Tantangan: Panik, takut.
  • Teknik: Baringkan pasien21, alihkan perhatian, komunikasi empatik1.
  • Risiko: Sinkop (pingsan) tinggi21.

Pasien Pediatrik

  • Tantangan: Isu volume darah maksimum.
  • Teknik: Micro-collection, pemahaman K33 & patient safety khusus.
  • Risiko: Anemia Iatrogenik19.

Perbedaan Kunci: Pelaksana vs. Profesional

Pelaksana (Dasar)

  • Mengeluh atau menyerah
  • Menusuk buta / berulang kali
  • Panik saat pasien takut
  • Mengandalkan 'kebiasaan'

Profesional (Mutu)

  • Menerapkan Problem Solving13
  • Menguasai Teknik CLSI19 (palpasi, sudut, fiksasi)
  • Manajemen risiko & Komunikasi1, 21
  • Mengandalkan Standar Mutu

Kunci Penguasaan Mutu

"Anda tidak bisa mengontrol pasien yang datang, tapi Anda 100% bisa mengontrol proses dan standar yang Anda terapkan."

Referensi: 1. CPL | 3. K3 | 13. SKKNI | 19. CLSI GP41-Ed7 (2017) | 21. Risiko Sinkop.

Infografis ini dibuat untuk tujuan ilustrasi pendidikan.




Infografis: Sintesis Akhir - Manajer Mutu

Sintesis Akhir Pelatihan

Sub-Modul 3.1: Perjalanan 120 Menit Anda

Tiga Pilar Profesionalisme Anda

CPL D3 TLM1

Fondasi Pengetahuan Anda.

SKKNI (Q.86TLM...)15

Tuntutan Kompetensi & Legal Anda.5

CLSI19 & WHO16

Panduan Mutu Global (Pasca-2015).

Pelajaran Kunci dari Studi Kasus24

Mikro-Error

Torniket > 90 detik → Hiperkalemia Palsu.

Makro-Error

Kontaminasi IV → Hasil Klinis Mustahil.

Standar global19 memiliki jawaban spesifik untuk semua masalah ini.

Transformasi Identitas Profesional Anda

Identitas Lama

"Tukang Ambil Darah"

Identitas Profesional BARU

Manajer Mutu Pra-Analitik

Tujuan & Misi Baru Anda

Tujuan: Zero Pre-Analytical Errors.

"Tugas Anda bukan mengambil darah. Tugas Anda adalah melindungi integritas spesimen dari vena pasien hingga ke alat analitik."

Referensi: 1. CPL | 5. Kepmenaker 170 (2018) | 15. SKKNI Q.86TLM00.005.1 | 16. WHO | 19. CLSI GP41-Ed7 | 24. ASCLS.

Infografis ini dibuat untuk tujuan ilustrasi pendidikan.




Infaq Imam Ahmad Rahimahullah

Widget Komik Sedekah ...