Kamis

Memaknai Kaidah Penulisan: Sebuah Adab di Jalan Ilmu

Karakter:

  • Zidun: Seorang santri di tingkat perguruan tinggi, pemikir yang mendalam. Ia tidak menolak aturan, namun senantiasa mencari hikmah (kebijaksanaan) di balik setiap kaidah (aturan) yang ada.

  • Syafaq: Sahabat Zidun, juga seorang santri. Ia tekun dan gemar melakukan tadabbur (kontemplasi) terhadap berbagai hal, termasuk metodologi dalam menuntut ilmu.

Latar: Serambi masjid di sebuah perguruan tinggi pesantren, setelah salat Asar. Suasana tenang dan sejuk, beberapa santri lain sedang muraja'ah kitab di sudut-sudut lain.

Durasi: Sekitar 20 Menit


Skenario Obrolan

(Awal: 0-4 Menit) - Sebuah Perenungan Awal

Zidun: (Memandang lurus ke halaman masjid yang lengang, dengan suara pelan) "Aku sedang merenung, Syafaq. Terkadang hati ini gelisah memikirkan kaidah-kaidah penulisan ilmiah seperti Gaya APA ini. Aku sama sekali tidak menolaknya, hanya saja aku bertanya-tanya, apa hikmah terdalam di balik semua ini? Mengapa jalan ilmu harus diatur sedemikian rinci?"

Syafaq: (Tersenyum lembut, membenarkan posisi duduknya) "Pertanyaanmu itu dalam, Zidun. Itu pertanyaan seorang pencari hakikat, bukan sekadar pembelajar. Memang benar, penerapan gaya penulisan standar seringkali dianggap sebagai tugas yang memberatkan. 1Namun, aku meyakini, di balik setiap aturan yang tampak kaku, tersembunyi sebuah rasionalitas yang kuat dan tujuan yang mendasar." 2

Zidun: "Aku pun meyakini itu. Hanya saja, aku ingin bisa merasakannya di dalam hati. Agar saat mengerjakannya, yang kurasakan bukanlah beban, melainkan sebuah bentuk adab dalam menuntut ilmu."

Syafaq: "Mungkin kita bisa mengibaratkannya, Akhi. Anggaplah seluruh khazanah ilmu pengetahuan ini adalah sebuah perjalanan intelektual (ar-rihlah al-fiqriyyah) yang panjang, yang telah dan akan terus dilalui oleh para ulama dan sarjana. Dan setiap karya tulis kita adalah wasilah atau kendaraan kita dalam perjalanan itu."

(Menit 4-9) - Rasionalitas Pertama: Manhaj yang Jelas demi Kemudahan Komunikasi

Zidun: "Sebuah perjalanan... perumpamaan yang indah. Lalu, di mana posisi kaidah penulisan itu?"

Syafaq: "Kaidah itu adalah manhaj atau metodologi penulisan yang disepakati, laksana rambu-rambu penunjuk jalan yang seragam. Sumber yang kita kaji menyebutkan, standarisasi ini bertujuan memfasilitasi komunikasi yang efisien dan efektif. 3Dengan adanya format yang seragam, seorang pembaca—baik itu dosen kita, peninjau, maupun peneliti lain—bisa langsung fokus pada substansi dan mutiara hikmah yang kita tawarkan, tanpa teralihkan oleh bentuk penyajian yang asing." 4

Zidun: "Memahami... Jadi, agar orang tidak tersesat dalam memahami gagasan kita. Struktur yang dapat diprediksi ini laksana sebuah peta jalan." 5

Syafaq: "Benar. Pembaca bisa dengan cepat menemukan di mana letak rumusan masalah, bagaimana metodologi kita, apa temuan utama kita, dan ke mana saja sumber-sumber rujukan kita. 6Ini adalah bentuk kemudahan, sebuah tashil bagi para penuntut ilmu yang harus mengkaji banyak literatur dalam waktu yang terbatas." 7

(Menit 9-14) - Rasionalitas Kedua: Amanah Ilmiah dan Profesionalisme

Zidun: "Aku mulai menangkap benang merahnya. Selain kemudahan, adakah hikmah lain?"

Syafaq: "Ada, dan ini menyangkut amanah ilmiah kita. Kepatuhan pada kaidah penulisan ini berfungsi sebagai penanda profesionalisme dan kredibilitas kita sebagai penulis. 8Ketika kita menyerahkan sebuah karya yang tertata rapi sesuai standar, kita menunjukkan perhatian terhadap detail, pemahaman mendalam terhadap konvensi akademik, dan yang terpenting, rasa hormat kita kepada jama'ah ilmiah (komunitas ilmiah) yang kita masuki." 9

Zidun: (Mengangguk perlahan) "Sebuah cerminan dari keseriusan kita."

Syafaq: "Tepat. Ini mengkomunikasikan bahwa kita telah melakukan riset dengan cermat dan bersungguh-sungguh dalam menyajikan temuan kita. 10Sebaliknya, karya yang kaidahnya berantakan bisa menciptakan kesan seolah kita ceroboh. 11Hal itu dapat mengurangi kepercayaan orang pada argumen kita, sekalipun substansinya mungkin kuat." 12 Ini soal menjaga amanah dari awal hingga akhir."

(Menit 14-18) - Rasionalitas Ketiga: Membangun Ukhuwah Ilmiah Global

Zidun: "Subhanallah. Jadi ini bukan hanya soal teknis, tapi soal sikap batin. Masih adakah yang lain, Syafaq?"

Syafaq: "Ada yang terakhir, dan ini menyangkut ukhuwah ilmiah secara global. Standarisasi memungkinkan generalisasi dan meta-analisis yang lebih mudah di berbagai belahan dunia. 13Ketika para peneliti dari berbagai institusi dan negara melaporkan hasil mereka menggunakan standar yang serupa, akan lebih mudah bagi kita untuk membandingkan dan mensintesis temuan-temuan tersebut." 14

Zidun: "Sehingga bangunan ilmu bisa tersusun lebih cepat dan kokoh secara kolektif." 15

Syafaq: "Persis. Ini mempercepat kemajuan ilmu pengetahuan secara bersama-sama. 16 Dengan begitu, pada akhirnya, Gaya APA ini bukanlah tujuan itu sendiri. Ia hanyalah sebuah alat untuk mencapai tujuan yang lebih agung: yaitu terwujudnya komunikasi ilmiah yang jelas, tepat, dan beretika." 17

(Menit 18-20) - Kesimpulan: Belajar Berkomunikasi sebagai Seorang Sarjana

Zidun: (Menarik napas dalam-dalam, tampak lebih lega dan tercerahkan) "Alhamdulillah. Sekarang aku paham. Selama ini aku hanya melihatnya sebagai aturan, bukan sebagai adab. Dengan menguasai gaya ini, kita sejatinya tidak hanya belajar cara memformat makalah..."

Syafaq: "...tetapi juga belajar cara berpikir dan berkomunikasi sebagai seorang sarjana." 18Dan setiap pembaruan yang ada, seperti ke edisi 7, itu pun cerminan dari pergeseran paradigma agar tetap relevan, misalnya dengan adanya ekosistem digital dan dorongan menuju sains yang lebih terbuka dan inklusif." 19191919

Zidun: "Terima kasih, Akhi. Perbincangan ini memberiku semangat baru. Mari kita lanjutkan pekerjaan kita, dengan niat untuk menjaga amanah dan adab di jalan ilmu ini."

Syafaq: (Tersenyum) "Aamiin. Mari, Bismillah."

Infaq Imam Ahmad Rahimahullah

Widget Komik Sedekah ...