Edisi Muharram 1447
Materi Ajar: Analisis Kritis Artefak Histologi untuk Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik
Judul: Memahami dan Mengatasi Artefak Jaringan Akibat Kesalahan Prosesing: Studi Kasus Jaringan Rapuh dan Kehilangan Detail Seluler
Pendahuluan
Seorang Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) memiliki tanggung jawab fundamental untuk menghasilkan sediaan histologis berkualitas tinggi. Sediaan yang optimal adalah kunci bagi patolog untuk menegakkan diagnosis yang akurat. Namun, dalam proses pembuatan sediaan yang kompleks, sering kali muncul artefak—cacat pada sediaan yang bukan merupakan gambaran asli dari kondisi biologis jaringan, melainkan hasil dari kesalahan teknis. Kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami penyebab, dan mengatasi artefak ini adalah kompetensi esensial yang membedakan seorang ATLM yang kompeten.
Materi ini akan membahas secara mendalam satu kasus spesifik yang sering dijumpai di laboratorium, sebagaimana dideskripsikan dalam soal berikut:
Studi Kasus: "Hasil dari suatu sediaan terlihat ada lekukan pada salah satu sisi. Setelah diamati lebih detail, inti sel sudah banyak menghilang dan batasan sel satu dengan lain tidak terlihat sama sekali."
Kita akan membedah fenomena ini dari sudut pandang teknis untuk menjawab pertanyaan HOTS (Higher-Order Thinking Skills): Apa yang harus dilakukan oleh seorang ATLM untuk mengatasi kondisi tersebut?
1. Identifikasi dan Deskripsi Artefak
Langkah pertama dalam pemecahan masalah adalah menguraikan temuan secara sistematis. Deskripsi dalam kasus ini memberikan dua petunjuk utama:
Gambaran Makroskopik/Mikroskopik Resolusi Rendah: Adanya "lekukan pada salah satu sisi" sediaan. Ini sering disebut sebagai nicks, chatter, atau efek venetian blind minor. Lekukan ini mengindikasikan bahwa blok parafin jaringan bersifat terlalu keras atau rapuh. Saat pisau mikrotom memotongnya, jaringan tidak teriris dengan mulus melainkan retak atau pecah pada titik-titik tertentu (Rolls & Home, 2024).
Gambaran Mikroskopik Resolusi Tinggi:
Inti sel banyak menghilang: Istilah teknis untuk ini bisa merujuk pada karyolysis (pelarutan inti) atau pyknosis (pengerutan inti hingga tampak seperti titik gelap kecil) yang ekstrem, membuatnya sulit diidentifikasi.
Batasan sel tidak terlihat sama sekali: Detail membran sel hilang, menyebabkan sel-sel tampak menyatu dan arsitektur jaringan menjadi kabur.
Gabungan dari semua gejala ini—jaringan yang rapuh, pengerutan seluler yang parah, hilangnya detail inti, dan membran sel yang kabur—secara klasik menunjuk pada satu penyebab utama dalam tahap prosesing jaringan: dehidrasi yang berlebihan.
2. Analisis Penyebab Utama: Dehidrasi Berlebihan (Over-dehydration)
Dehidrasi adalah tahap krusial dalam prosesing jaringan yang bertujuan untuk menghilangkan seluruh air dari dalam jaringan. Air harus dihilangkan karena tidak dapat bercampur dengan media pembeningan (misalnya, xilena) dan media infiltrasi (parafin). Agen dehidrasi yang paling umum digunakan adalah alkohol dengan konsentrasi bertingkat (misalnya, 70%, 95%, 100%).
Bagaimana Dehidrasi Berlebihan Menyebabkan Artefak?
Alkohol bersifat sangat higroskopis (menarik air). Jika jaringan direndam terlalu lama dalam larutan alkohol, terutama alkohol absolut (100%), maka proses penarikan air akan terjadi secara berlebihan.
Menyebabkan Kerapuhan: Alkohol tidak hanya menarik air bebas (free water) tetapi juga air terikat (bound water) yang merupakan komponen integral dari molekul protein di dalam sel. Kehilangan air terikat ini menyebabkan protein menjadi kaku dan jaringan secara keseluruhan menjadi sangat keras dan rapuh (brittle). Jaringan yang rapuh inilah yang menyebabkan "lekukan" saat dipotong dengan mikrotom (Carson & Hladik, 2009).
Menyebabkan Pengerutan Seluler: Proses penarikan air yang ekstrem menyebabkan sitoplasma dan nukleus mengerut secara signifikan. Pengerutan ini merusak struktur internal sel. Inti sel kehilangan morfologi normalnya (menghilang atau menjadi piknotik), dan membran sel yang tegang menjadi rusak atau tertarik begitu rapat sehingga batas antar sel tidak lagi dapat dibedakan (Suvarna et al., 2019).
Proses ini diperparah pada jaringan yang tipis atau kecil (seperti biopsi jarum), yang secara alami memerlukan waktu dehidrasi yang lebih singkat dibandingkan jaringan yang besar dan padat.
3. Evaluasi Kritis Pilihan Jawaban (Analisis HOTS)
Sekarang, mari kita analisis pilihan jawaban dari soal HOTS berdasarkan pemahaman kita tentang akar masalah.
A. Memberikan catatan bahwa ada kelainan pada sediaan: Ini adalah tindakan pasif dan tidak memecahkan masalah. Seorang ATLM diharapkan melakukan kontrol kualitas proaktif. Mencatat kelainan tanpa memberikan solusi atau melakukan tindakan korektif bukanlah praktik terbaik.
B. Menggunakan pinset yang panas pada saat embedding: Pinset panas digunakan untuk meratakan atau mengorientasikan jaringan di dalam cetakan parafin sesaat sebelum pendinginan. Tindakan ini tidak ada hubungannya dengan kualitas internal jaringan yang sudah rusak pada tahap prosesing sebelumnya (dehidrasi).
C. Mempercepat proses infiltrasi: Infiltrasi parafin terjadi setelah dehidrasi dan pembeningan. Mempercepat tahap ini tidak akan memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi akibat dehidrasi berlebihan. Justru, infiltrasi yang terlalu cepat dapat menyebabkan artefak lain, yaitu infiltrasi parafin yang tidak sempurna.
D. Melaporkan kepada dokter penanggung jawab (Patolog): Meskipun komunikasi dengan patolog penting, melaporkan sediaan berkualitas buruk yang disebabkan oleh kesalahan teknis adalah langkah sekunder. Tanggung jawab utama ATLM adalah mengidentifikasi kesalahan teknis dan memperbaikinya. Patolog mengharapkan sediaan terbaik; tugas ATLM adalah menyediakannya.
E. Mengurangi waktu dehidrasi: Ini adalah jawaban yang paling tepat. Berdasarkan analisis kita, akar masalahnya adalah dehidrasi yang berlebihan. Dengan mengurangi durasi perendaman jaringan dalam agen dehidrasi (terutama pada konsentrasi alkohol yang tinggi), kita dapat mencegah penarikan air yang berlebihan. Hal ini akan menjaga elastisitas jaringan sehingga tidak rapuh saat dipotong, serta mempertahankan integritas struktur seluler, termasuk detail inti dan batasan sel. Tindakan ini bersifat preventif dan korektif untuk proses kerja selanjutnya.
4. Kesimpulan dan Implikasi Praktis bagi ATLM
Kasus ini menyoroti pentingnya pemahaman mendalam tentang setiap langkah dalam prosesing jaringan. Seorang ATLM tidak boleh hanya menjadi operator mesin atau pelaksana SOP secara buta. Mereka harus menjadi pemecah masalah yang mampu menghubungkan artefak yang terlihat di bawah mikroskop dengan kemungkinan kesalahan pada tahap pra-analitik.
Tindakan Korektif dan Preventif:
Audit Protokol: Tinjau kembali jadwal dan waktu pada tissue processor. Pastikan durasi dehidrasi sesuai dengan jenis dan ukuran jaringan. Jaringan biopsi kecil membutuhkan waktu yang jauh lebih singkat daripada spesimen reseksi yang besar.
Manajemen Reagen: Pastikan konsentrasi alkohol akurat dan reagen diganti secara berkala untuk menjaga kualitas.
Dokumentasi: Catat setiap penyesuaian protokol dan amati hasilnya pada batch berikutnya sebagai bagian dari siklus peningkatan kualitas berkelanjutan (Continuous Quality Improvement).
Dengan memahami hubungan sebab-akibat antara dehidrasi berlebihan dan artefak yang dihasilkannya, seorang mahasiswa TLM dipersiapkan untuk berpikir kritis dan mengambil tindakan yang tepat, memastikan bahwa setiap sediaan yang dihasilkan dapat memberikan informasi diagnostik yang maksimal.
Daftar Pustaka (APA 7th Edition)
Carson, F. L., & Hladik, C. (2009). Histotechnology: A self-instructional text (3rd ed.). ASCP Press.
Rolls, G., & Home, I. (Eds.). (2024). Bancroft's theory and practice of histological techniques (9th ed.). Elsevier.
Suvarna, S. K., Layton, C., & Bancroft, J. D. (2019). Bancroft's theory and practice of histological techniques (8th ed.). Elsevier.
Materi Ajar: Analisis Kritis Artefak Pewarnaan untuk Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik
Judul: Pemecahan Masalah dalam Pewarnaan Papanicolaou: Studi Kasus Kegagalan Pewarnaan Sitoplasma Sel Basalis
Pendahuluan
Pewarnaan Papanicolaou (Pap stain) adalah metode pewarnaan polikromatik fundamental dalam bidang sitologi, khususnya untuk deteksi dini kanker serviks. Kemampuan metode ini untuk menampilkan diferensiasi seluler yang luar biasa—terutama melalui transparansi inti dan pewarnaan sitoplasma yang berbeda-beda—menjadikannya gold standard. Seorang Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) harus menguasai teknik ini dan, yang lebih penting, mampu melakukan pemecahan masalah (troubleshooting) ketika hasil pewarnaan tidak sesuai standar. Hasil yang suboptimal dapat mengaburkan detail morfologi sel dan berpotensi menyebabkan kesalahan interpretasi.
Materi ini akan membahas secara kritis sebuah skenario kegagalan pewarnaan yang umum:
Studi Kasus: "ATLM sedang melakukan pewarnaan rutin pada sediaan sitologik servik dan hasilnya tidak terlihat warna hijau pada sel basalis secara mikroskopis. Seharusnya, hasilnya terlihat hijau."
Kita akan mengurai penyebab teknis dari masalah ini untuk menjawab pertanyaan HOTS: Apa penyebab terjadinya hasil pada kasus tersebut?
1. Identifikasi dan Deskripsi Masalah
Masalah yang teridentifikasi sangat spesifik: tidak adanya warna hijau pada sitoplasma sel basalis/parabasalis. Dalam pewarnaan Pap yang berhasil, kita mengharapkan hasil sebagai berikut:
Inti Sel: Biru hingga ungu gelap (diwarnai oleh Hematoxylin).
Sitoplasma Sel Superifisial: Oranye hingga merah muda (diwarnai oleh Orange G/OG-6).
Sitoplasma Sel Intermediet & Basalis/Parabasalis: Biru kehijauan (diwarnai oleh EA).
Kegagalan spesifik pada pewarnaan hijau menunjukkan adanya masalah yang terlokalisasi pada salah satu komponen dalam proses pewarnaan, bukan kegagalan total. Sel-sel basalis adalah sel yang belum matang dan aktif secara metabolik, dan warna hijau pada sitoplasmanya adalah penanda kunci.
2. Analisis Penyebab Utama: Komponen Pewarnaan Papanicolaou
Untuk memahami akar masalah, kita harus memahami peran setiap reagen utama dalam metode Pap:
Hematoxylin: Pewarna inti (nuclear stain) yang memberikan warna biru/ungu pada kromatin di dalam inti sel. Kualitasnya memengaruhi kejelasan detail inti.
Orange G (OG-6): Pewarna sitoplasma monokromatik yang bersifat asam. OG-6 secara spesifik mewarnai keratin yang terdapat dalam sitoplasma sel skuamosa superfisial yang matang, memberikan warna oranye atau merah muda kekuningan.
Eosin Azure (EA): Ini adalah pewarna sitoplasma polikromatik (campuran beberapa zat warna) yang menjadi kunci dalam kasus ini. EA umumnya terdiri dari tiga komponen (Koss & Melamed, 2006):
Eosin Y: Memberikan warna merah muda atau merah pada sitoplasma sel superfisial, nukleoli, dan silia.
Light Green SF Yellowish: Memberikan warna biru kehijauan pada sitoplasma sel yang aktif secara metabolik dan belum matang, seperti sel parabasalis, basalis, dan intermediet.
Bismarck Brown Y: Fungsi pastinya sering diperdebatkan, namun diyakini membantu menetralkan warna dan menstabilkan larutan.
Dari komposisi di atas, jelas bahwa komponen yang bertanggung jawab untuk memberikan warna hijau pada sel basalis adalah Light Green SF. Jika sel basalis tidak berwarna hijau, maka kecurigaan utama harus langsung diarahkan pada kualitas atau efektivitas komponen Light Green di dalam larutan EA. Paparan cahaya yang berlebihan atau usia larutan yang sudah lama dapat menyebabkan fotodegradasi (kerusakan akibat cahaya) pada Light Green, sehingga zat warna ini kehilangan kemampuannya untuk berikatan dengan sitoplasma (Carson & Hladik, 2009).
3. Evaluasi Kritis Pilihan Jawaban (Analisis HOTS)
Dengan pemahaman ini, mari kita evaluasi setiap pilihan jawaban:
A. Zat warna OG sudah mulai kurang baik: Jika OG-6 yang rusak, maka masalah akan terlihat pada sel superfisial yang seharusnya berwarna oranye. Kasus ini spesifik pada sel basalis yang tidak berwarna hijau. Maka, pilihan ini salah.
B. Light Green tidak baik dalam larutan pewarna: Ini adalah penyebab yang paling logis dan langsung. Jika komponen Light Green SF dalam larutan EA telah terdegradasi, kehilangan potensinya, atau mengendap, maka ia tidak akan bisa mewarnai sitoplasma sel basalis dan intermediet. Sel-sel tersebut mungkin tampak pucat atau hanya mengambil warna Eosin (merah muda). Pilihan ini benar.
C. Pembuatan sel yang kurang baik khususnya difiksasi: Fiksasi yang buruk (misalnya, sediaan mengering sebelum difiksasi) adalah masalah umum yang serius. Namun, artefak utamanya adalah hilangnya transparansi inti, perubahan morfologi sel, dan munculnya warna merah/oranye dominan pada semua sel karena Eosin lebih mudah masuk. Ini adalah masalah umum, bukan kegagalan spesifik pewarnaan hijau. Maka, pilihan ini kurang tepat untuk menjelaskan masalah yang sangat spesifik ini.
D. Hematoxylin yang bersifat asam: Hematoxylin adalah pewarna inti. Masalah pada hematoxylin (baik terlalu asam maupun basa) akan memengaruhi pewarnaan inti (misalnya, inti terlalu pucat atau terlalu gelap), bukan warna sitoplasma. Maka, pilihan ini salah.
E. Perendaman di EA terlalu lama: Perendaman yang terlalu lama di EA justru akan menghasilkan pewarnaan sitoplasma yang terlalu gelap atau pekat, bukan tidak berwarna. Sel basalis bisa tampak hijau gelap atau bahkan kebiruan, bukan tidak berwarna sama sekali. Maka, pilihan ini salah.
4. Kesimpulan dan Implikasi Praktis bagi ATLM
Kasus ini menggarisbawahi pentingnya manajemen reagen di laboratorium sitologi. Kualitas setiap komponen pewarna sangat memengaruhi hasil akhir dan validitas diagnostik.
Tindakan Korektif dan Preventif:
Kontrol Kualitas Reagen: Selalu periksa tanggal kedaluwarsa larutan pewarna. Simpan larutan EA, terutama Light Green, di dalam botol berwarna gelap dan jauhkan dari paparan cahaya langsung untuk mencegah fotodegradasi.
Filtrasi Rutin: Saring larutan pewarna secara berkala untuk menghilangkan endapan zat warna yang dapat mengurangi kualitas pewarnaan.
Ganti Larutan: Jika hasil pewarnaan hijau mulai memudar secara konsisten, segera ganti larutan EA dengan yang baru. Jangan menunggu sampai pewarnaan gagal total.
Seorang ATLM yang profesional tidak hanya menjalankan prosedur, tetapi juga memahami kimia di baliknya. Kemampuan untuk mengidentifikasi kegagalan spesifik seperti hilangnya warna hijau pada sel basalis dan menghubungkannya langsung dengan degradasi Light Green adalah contoh nyata penerapan HOTS dalam praktik laboratorium sehari-hari.
Daftar Pustaka (APA 7th Edition)
Carson, F. L., & Hladik, C. (2009). Histotechnology: A self-instructional text (3rd ed.). ASCP Press.
Koss, L. G., & Melamed, M. R. (Eds.). (2006). Koss' diagnostic cytology and its histopathologic bases (5th ed.). Lippincott Williams & Wilkins.
Materi Ajar: Analisis Kritis Tahap Fundamental Prosesing Jaringan untuk Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik
Judul: Memahami Kegagalan Sediaan Histologis: Studi Kasus Kerusakan Jaringan Akibat Autolisis Enzimatik
Pendahuluan
Proses pembuatan sediaan histologis adalah serangkaian langkah yang saling bergantung, di mana keberhasilan setiap tahap ditentukan oleh kesempurnaan tahap sebelumnya. Ibarat sebuah rantai, kekuatan keseluruhannya ditentukan oleh mata rantai yang paling lemah. Seorang Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) harus memahami bahwa di antara semua langkah—mulai dari penerimaan sampel hingga pewarnaan—ada satu langkah yang paling fundamental dan kritis yang tidak dapat ditawar: pengawetan jaringan sesegera mungkin.
Materi ini akan mengupas sebuah skenario kegagalan yang fatal namun sering menjadi dasar pertanyaan untuk menguji pemahaman fundamental mahasiswa:
Studi Kasus: "Seorang ATLM di sebuah rumah sakit menerima sampel organ dari seorang pasien atas permintaan dokter. Setelah selesai pembuatan sediaan jaringan, didapatkan hasil yang kurang baik, yaitu terjadi perubahan struktur fisik jaringan tersebut akibat adanya autolisis enzim pada jaringan tersebut."
Melalui analisis kasus ini, kita akan menjawab pertanyaan HOTS (Higher-Order Thinking Skills): Apa kesalahan yang terjadi pada kasus tersebut?
1. Identifikasi Masalah: Autolisis Enzimatik sebagai Akar Kegagalan
Kata kunci dalam kasus ini adalah "autolisis enzim". Ini adalah petunjuk diagnostik yang paling penting untuk mengidentifikasi sumber kesalahan.
Definisi Autolisis: Secara harfiah berarti "penghancuran diri". Ini adalah proses dekomposisi jaringan oleh enzim-enzim yang berasal dari dalam sel itu sendiri (enzim endogen), terutama yang dilepaskan oleh lisosom setelah kematian sel. Proses ini dimulai segera setelah jaringan terputus dari suplai darah dan oksigen (iskemia) (Rolls & Home, 2024).
Gambaran Mikroskopis: Jaringan yang mengalami autolisis menunjukkan gambaran yang khas, antara lain:
Kehilangan detail inti sel (inti tampak kabur, memudar, atau "kosong").
Sitoplasma menjadi lebih eosinofilik (berwarna merah muda pekat) dan bergranul.
Hilangnya batas-batas sel yang jelas, sehingga sel-sel tampak menyatu.
Arsitektur jaringan secara keseluruhan menjadi tidak teratur dan rusak.
Deskripsi "perubahan struktur fisik jaringan" dalam soal secara langsung merujuk pada manifestasi mikroskopis dari autolisis ini. Penting untuk dipahami bahwa ini bukan artefak yang disebabkan oleh kesalahan mekanis (seperti goresan pisau), melainkan kegagalan biologis akibat pembusukan yang tidak terkendali.
2. Analisis Penyebab Utama: Peran Fiksasi yang Tak Tergantikan
Jika autolisis adalah masalahnya, maka kita harus mencari langkah mana dalam prosesing jaringan yang bertujuan untuk mencegahnya. Jawabannya tunggal dan mutlak: Fiksasi.
Fiksasi adalah proses pengawetan jaringan menggunakan zat kimia (fiksatif) yang merupakan langkah pertama dan paling krusial setelah pengambilan sampel dari tubuh.
Tujuan Utama Fiksasi:
Menghentikan Autolisis dan Putrefaksi: Ini adalah fungsi terpenting. Fiksatif seperti formalin bekerja dengan cara membentuk ikatan silang antar protein (protein cross-linking). Proses ini secara permanen menonaktifkan (mendenaturasi) enzim-enzim, termasuk enzim lisosom yang menyebabkan autolisis, sehingga proses pembusukan berhenti (Carson & Hladik, 2009).
Mengawetkan Morfologi: Menjaga struktur fisik dan hubungan spasial antar sel dan komponen ekstraseluler agar semirip mungkin dengan kondisi saat masih hidup.
Mengeraskan Jaringan: Memberikan konsistensi yang lebih kokoh pada jaringan lunak sehingga lebih mudah ditangani dan dipotong pada tahap selanjutnya.
Jika langkah fiksasi dilewatkan, ditunda, atau dilakukan secara tidak memadai (misalnya, volume fiksatif kurang), maka tidak ada yang bisa menghentikan proses autolisis. Kerusakan akan terus berlanjut hingga seluruh arsitektur seluler hancur.
3. Evaluasi Kritis Pilihan Jawaban (Analisis HOTS)
Dengan memahami bahwa autolisis hanya dapat dicegah oleh fiksasi, mari kita evaluasi setiap pilihan jawaban:
A. Tidak ada proses dehidrasi: Dehidrasi (penghilangan air) adalah langkah setelah fiksasi. Jika dilewatkan, parafin tidak akan bisa masuk ke jaringan. Hasilnya adalah blok yang lunak dan tidak bisa dipotong dengan baik. Ini adalah artefak infiltrasi, bukan penyebab autolisis.
B. Proses embedding terlewat: Embedding adalah proses menanam jaringan dalam blok parafin untuk memberikan dukungan saat dipotong. Melewatkannya membuat pemotongan menjadi mustahil. Ini adalah kesalahan prosedural di akhir, tidak berhubungan dengan autolisis.
C. Pewarnaan tidak dilakukan: Pewarnaan adalah langkah terakhir untuk memvisualisasikan struktur. Jika terlewat, sediaan akan tampak bening di bawah mikroskop. Ini tidak menyebabkan perubahan struktur fisik akibat enzim.
D. Tanpa fiksasi: Ini adalah jawaban yang paling tepat. Seperti yang telah dianalisis, ketiadaan fiksasi secara langsung menyebabkan enzim-enzim perusak di dalam jaringan tetap aktif, yang mengakibatkan autolisis dan penghancuran struktur fisik jaringan. Temuan pada kasus ini adalah konsekuensi langsung dari kegagalan ini.
E. Clearing diabaikan: Clearing (penjernihan) adalah langkah antara dehidrasi dan infiltrasi. Jika diabaikan, jaringan akan gagal diinfiltrasi oleh parafin. Ini menyebabkan artefak pemotongan, bukan autolisis.
4. Kesimpulan dan Implikasi Praktis bagi ATLM
Kasus ini menegaskan sebuah prinsip fundamental dalam teknologi laboratorium medik: "Garbage in, garbage out." Jika spesimen di awal sudah rusak karena kegagalan fiksasi, tidak ada teknologi secanggih apapun di tahap selanjutnya yang dapat memperbaikinya.
Implikasi Praktis:
Prioritas Utama: ATLM harus memastikan bahwa setiap sampel jaringan yang diterima segera dimasukkan ke dalam wadah berisi fiksatif dengan volume yang cukup (rasio ideal 1:10 hingga 1:20 spesimen:fiksatif).
Pencatatan Waktu: Waktu spesimen diambil dari tubuh (waktu nol) dan waktu spesimen dimasukkan ke dalam fiksatif harus selalu dicatat. Penundaan (waktu iskemia dingin) harus diminimalkan dan didokumentasikan.
Komunikasi: Jika menerima sampel segar (tanpa fiksatif) dari ruang operasi atau klinik, ATLM harus segera melakukan fiksasi dan berkomunikasi dengan patolog mengenai potensi adanya artefak autolisis akibat penundaan.
Pemahaman bahwa autolisis adalah akibat langsung dari kegagalan fiksasi adalah pengetahuan dasar yang membedakan seorang praktisi yang hanya mengikuti langkah dengan seorang profesional yang memahami prinsip di balik setiap tindakannya.
Daftar Pustaka (APA 7th Edition)
Carson, F. L., & Hladik, C. (2009). Histotechnology: A self-instructional text (3rd ed.). ASCP Press.
Rolls, G., & Home, I. (Eds.). (2024). Bancroft's theory and practice of histological techniques (9th ed.). Elsevier.
Materi Ajar: Prinsip Kontrol Kualitas dalam Histokimia untuk Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik
Judul: Analisis Kritis dan Troubleshooting pada Kegagalan Pewarnaan Periodic Acid Schiff (PAS)
Histokimia adalah cabang ilmu di laboratorium patologi anatomi yang memungkinkan visualisasi komponen kimia spesifik di dalam jaringan, jauh melampaui apa yang dapat ditunjukkan oleh pewarnaan rutin seperti Hematoxylin dan Eosin. Pewarnaan Periodic Acid Schiff (PAS) adalah salah satu teknik histokimia yang paling fundamental, digunakan untuk mendeteksi glikogen, membran basalis, dan berbagai musin. Mengingat sifatnya yang berbasis reaksi kimia, presisi dan kontrol kualitas menjadi sangat penting. Hasil yang salah tidak hanya membingungkan, tetapi juga bisa berakibat fatal pada interpretasi diagnostik.
Materi ini akan mengupas skenario kegagalan pewarnaan PAS untuk melatih kemampuan troubleshooting dan berpikir kritis mahasiswa:
Studi Kasus: "Seorang ATLM melakukan pewarnaan histokimia yaitu pewarnaan Periodic Acid Schiff (PAS). Hasil sediaan pada pewarnaan PAS menunjukkan tidak ada warna magenta pada sel target."
Berdasarkan kasus ini, kita akan menjawab pertanyaan HOTS: Apa yang harus dilakukan oleh ATLM tersebut?
1. Identifikasi Masalah: Kegagalan Total Reaksi Pewarnaan PAS
Masalah yang dihadapi sangat jelas: tidak adanya warna magenta yang merupakan sinyal positif dari reaksi PAS. Ini bukan sekadar pewarnaan yang lemah atau pucat, melainkan kegagalan total. Dalam konteks histokimia, ini menandakan adanya masalah fundamental pada salah satu dari tiga kemungkinan area:
Reagen: Salah satu atau kedua reagen kunci (Periodat Asam atau Reagen Schiff) telah kehilangan reaktivitasnya.
Prosedur: Ada kesalahan langkah dalam pelaksanaan pewarnaan.
Spesimen: Jaringan pasien yang diuji memang benar-benar tidak mengandung substansi PAS-positif (hasil negatif sejati).
Tugas pertama seorang ATLM bukanlah menebak-nebak, melainkan melakukan langkah sistematis untuk mengidentifikasi di area mana letak kesalahannya.
2. Analisis Mekanisme Kimia PAS dan Potensi Kegagalan
Untuk melakukan troubleshooting yang efektif, kita harus memahami dasar reaksi PAS:
Langkah 1: Oksidasi. Larutan Periodat Asam (Periodic Acid) mengoksidasi gugus 1,2-glikol yang ada pada karbohidrat (misalnya glikogen) untuk menciptakan gugus aldehid. Langkah ini tidak menghasilkan warna.
Langkah 2: Pewarnaan. Reagen Schiff (larutan Fuchsin basa yang warnanya dihilangkan oleh asam sulfur) kemudian bereaksi dengan gugus aldehid yang baru terbentuk. Reaksi ini mengembalikan struktur kuinoid pada Fuchsin, menghasilkan warna magenta terang yang stabil dan tidak larut.
Kegagalan total (tidak ada warna magenta) bisa terjadi karena:
Periodat Asam sudah kedaluwarsa/lemah sehingga tidak mampu menciptakan gugus aldehid.
Reagen Schiff sudah rusak (teroksidasi oleh udara atau paparan cahaya) sehingga tidak lagi reaktif terhadap gugus aldehid.
Tidak ada gugus 1,2-glikol pada jaringan untuk dioksidasi sejak awal.
3. Evaluasi Kritis Pilihan Jawaban: Langkah Troubleshooting yang Sistematis
Pertanyaan ini menanyakan "Apa yang harus dilakukan?", yang menuntut jawaban berupa proses atau tindakan paling tepat dan profesional.
A. Melakukan pewarnaan terhadap kontrol negatif dan positif: Ini adalah prinsip emas dalam kontrol kualitas untuk semua pewarnaan spesial, termasuk histokimia dan imunohistokimia.
Kontrol Positif: Menggunakan sediaan dari jaringan yang sudah pasti mengandung substansi target (misalnya, potongan hati atau ginjal untuk PAS) yang diwarnai bersamaan dengan sediaan pasien. Jika kontrol positif juga gagal menghasilkan warna magenta, ini membuktikan bahwa masalah terletak pada reagen atau prosedur, bukan pada sediaan pasien.
Kontrol Negatif: Menggunakan sediaan yang substansi targetnya sudah dihilangkan (misalnya, potongan hati yang diinkubasi dengan enzim diastase untuk menghilangkan glikogen sebelum diwarnai PAS). Ini memastikan bahwa reaksi yang terjadi memang spesifik.
Langkah ini adalah cara paling komprehensif dan definitif untuk memvalidasi seluruh proses pewarnaan. Ini adalah jawaban yang paling benar secara prosedural.B. Melanjutkan dengan pewarnaan alcian blue: Alcian Blue adalah pewarnaan untuk mendeteksi musin asam, sedangkan PAS untuk musin netral dan glikogen. Mengganti pewarnaan tidak memecahkan masalah mengapa pewarnaan PAS gagal. Ini adalah tindakan yang tidak relevan.
C. Mengecek pewarnaan Schiff: Ini adalah tindakan yang baik dan merupakan bagian dari troubleshooting. Cara cepatnya adalah dengan meneteskan beberapa tetes formalin ke dalam sedikit Reagen Schiff; reagen yang baik akan segera berubah menjadi ungu/magenta. Namun, tindakan ini hanya menguji satu komponen (Reagen Schiff) saja. Ini tidak menguji reaktivitas Periodat Asam atau validitas langkah-langkah lainnya. Oleh karena itu, langkah ini kurang komprehensif dibandingkan menjalankan kontrol positif yang menguji seluruh sistem.
D. Tidak mencuci dengan alkohol: Proses dehidrasi dengan alkohol setelah pewarnaan adalah langkah standar untuk menghilangkan air sebelum penutupan dengan media mounting. Melewatkan langkah ini akan menghasilkan sediaan yang buruk kualitasnya dan tidak akan memperbaiki masalah ketiadaan warna.
E. Melihat larutan fiksasi yang digunakan mengandung glutaraldehid: Ini adalah poin yang sangat spesifik. Fiksatif glutaraldehid memiliki gugus aldehid bebas yang dapat bereaksi langsung dengan Reagen Schiff, menyebabkan pewarnaan latar belakang positif palsu, bukan negatif palsu (tidak ada warna). Jadi, jika ini masalahnya, hasilnya akan menjadi terlalu banyak warna magenta di tempat yang tidak semestinya, bukan tidak ada warna sama sekali.
4. Kesimpulan dan Implikasi Praktis bagi ATLM
Kegagalan pewarnaan PAS adalah masalah umum yang solusinya terletak pada praktik laboratorium yang baik dan sistematis. Jawaban yang paling tepat adalah A. Melakukan pewarnaan terhadap kontrol negatif dan positif.
Alur Kerja Profesional Seorang ATLM:
Selalu Gunakan Kontrol: Setiap kali melakukan pewarnaan spesial, sertakan slide kontrol positif dan (jika perlu) negatif dalam batch yang sama dengan slide pasien.
Validasi Hasil: Lihat hasil pada slide kontrol terlebih dahulu.
Jika kontrol positif berhasil dan pasien negatif, maka hasilnya valid. Pasien memang tidak memiliki substansi PAS-positif.
Jika kontrol positif gagal (seperti pada kasus ini), maka hasil pada slide pasien tidak dapat dipercaya. Seluruh proses pewarnaan harus diulang.
Troubleshooting Bertahap: Setelah kegagalan divalidasi oleh kontrol, mulailah troubleshooting reagen:
Periksa Reagen Schiff (dengan tes formalin).
Periksa tanggal kedaluwarsa dan kondisi penyimpanan Periodat Asam.
Siapkan reagen baru jika perlu.
Ulangi Proses: Lakukan kembali pewarnaan pada slide pasien dan slide kontrol dengan reagen yang sudah dipastikan kualitasnya.
Daftar Pustaka (APA 7th Edition)
Bancroft, J. D., & Gamble, M. (Eds.). (2008). Theory and practice of histological techniques (6th ed.). Churchill Livingstone Elsevier.
Carson, F. L., & Hladik, C. (2009). Histotechnology: A self-instructional text (3rd ed.). ASCP Press.
Materi Ajar: Analisis Kritis Variabel Prosesing Jaringan Keras untuk Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik
Judul: Optimalisasi Proses Dekalsifikasi: Keseimbangan Kritis Antara Kecepatan dan Kualitas Jaringan
Pendahuluan
Penanganan jaringan keras seperti tulang dan gigi merupakan salah satu tantangan teknis terbesar di laboratorium patologi anatomi. Kekerasan inheren dari matriks mineral (kalsium fosfat) membuat pemotongan dengan mikrotom menjadi mustahil. Oleh karena itu, diperlukan langkah intervensi khusus yang disebut dekalsifikasi, yaitu proses penghilangan kalsium secara kimiawi. Keberhasilan tahap ini sangat menentukan kualitas sediaan akhir. Seorang Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) harus menguasai tidak hanya pemilihan reagen dekalsifikasi, tetapi juga variabel-variabel proses yang memengaruhinya, terutama suhu.
Materi ini akan membahas secara mendalam salah satu variabel paling kritis dalam dekalsifikasi melalui studi kasus berikut:
Studi Kasus: "Seorang ATLM menerima sebuah jaringan tulang dari ruang operasi. Tulang memiliki konsistensi keras yang memerlukan pemrosesan khusus untuk dapat dijadikan sampel yang dapat dibaca secara mikroskopis ataupun dapat diwarnai dengan pewarnaan khusus. Sebelum tulang diproses, maka harus menghilangkan unsur calsium yang disebut proses dekalsifikasi."
Kita akan menganalisis faktor suhu untuk menjawab pertanyaan HOTS: Berapa suhu yang ideal dalam proses dekalsifikasi yang harus dilakukan ATLM pada kasus tersebut?
1. Identifikasi Masalah: Dilema Fundamental dalam Dekalsifikasi
Inti dari proses dekalsifikasi adalah sebuah dilema: kecepatan versus preservasi.
Kecepatan: Proses dekalsifikasi yang cepat sangat diinginkan untuk memenuhi turnaround time (TAT) diagnostik yang cepat.
Preservasi: Proses penghilangan kalsium, terutama yang menggunakan asam kuat, berpotensi merusak komponen organik jaringan, termasuk sel, serat kolagen, dan yang terpenting, antigenisitas untuk pewarnaan imunohistokimia (IHC) serta integritas asam nukleat untuk studi molekuler.
Suhu adalah variabel yang paling kuat dalam memengaruhi keseimbangan ini. Sebagai aturan umum dalam reaksi kimia, peningkatan suhu akan mempercepat laju reaksi. Namun, dalam konteks histologi, "lebih cepat" tidak selalu berarti "lebih baik".
2. Analisis Pengaruh Suhu terhadap Jaringan Selama Dekalsifikasi
Mari kita analisis dampak berbagai rentang suhu pada jaringan tulang:
Suhu Tinggi (>30°C, terutama 37°C atau lebih): Pada suhu ini, laju penghilangan kalsium meningkat secara dramatis. Namun, efek merusaknya juga meningkat secara eksponensial. Suhu tinggi akan:
Mempercepat autolisis dan maserasi (perusakan) jaringan.
Menyebabkan pembengkakan (swelling) pada serat kolagen.
Secara signifikan merusak atau menghancurkan epitop antigen, membuat pewarnaan IHC menjadi tidak valid.
Mendegradasi DNA dan RNA, menghalangi analisis molekuler.
Oleh karena itu, suhu inkubator (37°C) umumnya dihindari untuk dekalsifikasi rutin karena risiko kerusakan jaringan yang tidak dapat diterima (Bancroft & Gamble, 2008).Suhu Rendah (Suhu Kulkas, 4°C - 8°C): Suhu dingin akan memperlambat laju reaksi secara signifikan. Meskipun memberikan preservasi morfologi dan molekuler yang sangat baik, prosesnya menjadi sangat lambat dan tidak praktis untuk kebutuhan diagnostik rutin yang menuntut kecepatan.
Suhu Ruang (Room Temperature): Ini adalah standar emas dan kompromi terbaik untuk dekalsifikasi rutin. Suhu ruang memberikan keseimbangan yang optimal antara kecepatan proses yang wajar dan minimalisasi kerusakan jaringan. "Suhu ruang" di lingkungan laboratorium biasanya berkisar antara 18°C hingga 30°C.
3. Evaluasi Kritis Pilihan Jawaban (Analisis HOTS)
Dengan memahami prinsip keseimbangan ini, mari kita evaluasi pilihan jawaban:
A. 4° - 8°C: Suhu ini akan menjaga kualitas jaringan dengan sangat baik tetapi prosesnya akan memakan waktu yang sangat lama, tidak sesuai untuk kebutuhan diagnostik klinis yang cepat.
B. 9° - 17°C: Lebih cepat dari suhu kulkas, tetapi masih tergolong lambat untuk praktik rutin.
C. 18° - 30°C: Rentang ini secara akurat mendefinisikan "suhu ruang" di sebagian besar laboratorium di seluruh dunia. Ini adalah rentang suhu yang direkomendasikan dalam berbagai literatur histoteknik sebagai kompromi ideal antara kecepatan dekalsifikasi dan pelestarian detail morfologis serta antigenisitas jaringan (Carson & Hladik, 2009). Ini adalah jawaban yang paling tepat.
D. 25° - 30°C: Rentang ini termasuk dalam kategori suhu ruang yang lebih hangat dan dapat diterima, tetapi rentang pada pilihan C (18° - 30°C) lebih inklusif dan lebih akurat mewakili standar global "suhu ruang".
E. 30° - 37°C: Rentang ini sudah memasuki zona berbahaya. Suhu di atas 30°C, dan terutama pada 37°C, secara signifikan meningkatkan risiko kerusakan jaringan yang tidak dapat diperbaiki.
4. Kesimpulan dan Implikasi Praktis bagi ATLM
Pemilihan suhu untuk dekalsifikasi bukanlah keputusan sepele, melainkan sebuah tindakan penyeimbangan yang didasarkan pada pemahaman ilmiah yang mendalam. Seorang ATLM yang kompeten memahami bahwa tujuan akhirnya bukanlah sekadar menghilangkan kalsium, tetapi menghasilkan sediaan yang representatif dan dapat didiagnosis.
Praktik Terbaik:
Gunakan Suhu Ruang: Lakukan proses dekalsifikasi pada suhu ruang (18° - 30°C) untuk semua kasus rutin.
Hindari Pemanasan: Jangan pernah menggunakan inkubator atau pemanas untuk mempercepat dekalsifikasi rutin karena risiko kerusakan jaringan yang tinggi.
Dokumentasi: Catat semua parameter proses, termasuk suhu, jenis dan volume fiksatif, serta durasi, sebagai bagian dari kontrol kualitas laboratorium.
Dengan memilih suhu yang tepat, ATLM secara langsung berkontribusi pada kualitas diagnosis, memastikan bahwa patolog menerima sediaan terbaik untuk diinterpretasikan.
Daftar Pustaka (APA 7th Edition)
Bancroft, J. D., & Gamble, M. (Eds.). (2008). Theory and practice of histological techniques (6th ed.). Churchill Livingstone Elsevier.
Carson, F. L., & Hladik, C. (2009). Histotechnology: A self-instructional text (3rd ed.). ASCP Press.
Materi Ajar: Kesesuaian Fiksatif dan Pewarnaan dalam Preparasi Sitologi
Judul: Analisis Kritis Pemilihan Fiksatif untuk Pewarnaan Giemsa pada Sampel Sitologi Cairan
Pendahuluan
Dalam laboratorium sitologi, pemilihan metode fiksasi bukanlah satu prosedur yang cocok untuk semua. Metode fiksasi yang dipilih secara langsung dipengaruhi oleh jenis pewarnaan yang akan digunakan. Kesalahan dalam memilih fiksatif dapat secara drastis menurunkan kualitas pewarnaan dan, akibatnya, nilai diagnostik sediaan. Seorang Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) harus memahami hubungan fundamental antara fiksatif dan pewarnaan untuk menghasilkan preparat yang optimal.
Materi ini akan membahas skenario spesifik untuk mempertajam pemahaman tentang prinsip ini:
Studi Kasus: "Seorang ATLM yang bekerja di laboratorium sedang melakukan pembuatan preparat sitologi dengan pewarnaan Giemsa dari sampel cairan pleura. Setelah dibuat apusan maka selanjutnya dilakukan tahap fiksasi."
Berdasarkan kasus tersebut, kita akan menjawab pertanyaan HOTS (Higher-Order Thinking Skills): Apa larutan fiksasi yang tepat untuk kasus tersebut?
Identifikasi Masalah: Kompatibilitas Fiksatif untuk Pewarnaan Romanowsky
Inti dari pertanyaan ini adalah pemahaman tentang kebutuhan spesifik dari pewarnaan Giemsa. Giemsa termasuk dalam keluarga pewarnaan Romanowsky, yang juga mencakup pewarnaan Wright dan Leishman. Pewarnaan jenis ini sangat populer di hematologi dan juga sering digunakan dalam sitologi (terutama untuk cairan tubuh dan sediaan Fine Needle Aspiration) karena kemampuannya yang luar biasa dalam menampilkan detail sitoplasma dan morfologi sel-sel radang serta sel hematopoietik.
Kunci untuk mendapatkan hasil pewarnaan Romanowsky yang cemerlang terletak pada metode preparasi apusan yang khas: pengeringan cepat di udara (rapid air-drying) diikuti dengan fiksasi menggunakan metanol absolut.
Analisis Prinsip Fiksasi untuk Pewarnaan Sitologi
Ada dua jalur utama fiksasi dalam sitologi, dan seorang ATLM harus tahu kapan menggunakan masing-masing:
Fiksasi Basah (Wet Fixation)
Metode: Apusan yang baru dibuat segera direndam dalam larutan fiksatif (selagi masih basah).
Fiksatif Utama: Alkohol (Etanol) 95%.
Tujuan Pewarnaan: Metode ini adalah standar emas untuk Pewarnaan Papanicolaou (Pap Stain). Tujuannya adalah untuk menghasilkan transparansi inti yang luar biasa, yang krusial untuk evaluasi keganasan sel epitel.
Fiksasi Kering (Dry Fixation)
Metode: Apusan dibiarkan mengering secepat mungkin di udara untuk meminimalkan artefak pengerutan sel. Setelah kering, apusan direndam dalam fiksatif.
Fiksatif Utama: Metanol absolut.
Tujuan Pewarnaan: Metode ini adalah standar untuk Pewarnaan Romanowsky (Giemsa, Wright). Tujuannya adalah untuk mendapatkan detail sitoplasma, granula, dan latar belakang yang sangat baik, yang ideal untuk identifikasi sel radang, sel mesotelial, dan sel ganas pada cairan tubuh. Metanol dengan cepat mendehidrasi dan mengawetkan protein tanpa menyebabkan ikatan silang seperti formalin, sehingga memungkinkan komponen pewarna (Azure B dan Eosin Y) berpenetrasi dan berikatan dengan baik.
Evaluasi Kritis Pilihan Jawaban (Analisis HOTS)
Dengan memahami dua jalur fiksasi tersebut, kita dapat mengevaluasi setiap pilihan:
A. Alkohol 95 % & E. Alkohol 70 %: Ini adalah fiksatif untuk metode fiksasi basah yang ditujukan untuk pewarnaan Pap. Jika digunakan untuk Giemsa, hasilnya akan suboptimal, sering kali menghasilkan warna yang keruh dan detail sel yang buruk.
B. Parafin cair 70 %: Ini bukan larutan fiksatif. Parafin adalah media untuk proses embedding pada sediaan histologi (jaringan), bukan untuk fiksasi apusan sitologi. Pilihan ini secara fundamental salah.
C. Metanol: ✅ Ini adalah jawaban yang benar. Metanol adalah fiksatif standar dan pilihan utama untuk apusan kering-udara yang akan diwarnai dengan Giemsa atau pewarnaan Romanowsky lainnya untuk mencapai kualitas pewarnaan yang optimal.
D. Formalin buffer 10 %: Formalin adalah fiksatif cross-linking yang sangat baik untuk histologi. Namun, untuk sediaan apusan yang akan diwarnai Giemsa, formalin akan mengeraskan sel secara berlebihan, menghalangi penetrasi zat warna, dan menghasilkan gambaran biru monoton tanpa diferensiasi warna yang baik.
Kesimpulan dan Implikasi Praktis bagi ATLM
Prinsip yang paling penting untuk diingat adalah: Jenis pewarnaan menentukan metode fiksasi. Seorang ATLM harus selalu bertanya, "Pewarnaan apa yang akan digunakan pada sediaan ini?" sebelum memutuskan metode fiksasi.
Jika tujuannya Pewarnaan Pap ➡️ Gunakan Fiksasi Basah dengan Alkohol 95%.
Jika tujuannya Pewarnaan Giemsa/Romanowsky ➡️ Gunakan Fiksasi Kering dengan Metanol.
Kemampuan untuk memilih jalur yang benar adalah kompetensi dasar yang memastikan sediaan sitologi yang dihasilkan memiliki kualitas diagnostik tertinggi.
Daftar Pustaka
Bibbo, M., & Wilbur, D. C. (Eds.). (2015). Comprehensive cytopathology (4th ed.). Elsevier Saunders.
Koss, L. G., & Melamed, M. R. (Eds.). (2006). Koss' diagnostic cytology and its histopathologic bases (5th ed.). Lippincott Williams & Wilkins.
Materi Ajar: Indikator Visual pada Tahapan Kritis Prosesing Jaringan
Judul: Memahami Titik Akhir (Endpoint) Tahap Penjernihan (Clearing): Dari Jaringan Opak menjadi Transparan
Pendahuluan
Prosesing jaringan (pematangan jaringan) adalah sebuah perjalanan transformatif di mana jaringan biologis yang basah dan rapuh diubah menjadi blok parafin yang stabil dan dapat diiris tipis. Setiap langkah dalam perjalanan ini—fiksasi, dehidrasi, penjernihan (clearing), dan infiltrasi—memiliki tujuan dan indikator keberhasilan yang spesifik. Seorang Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) yang terampil tidak hanya mengikuti jadwal pada mesin, tetapi juga mampu mengenali secara visual apakah setiap tahap telah selesai dengan sempurna.
Materi ini akan fokus pada salah satu tahap paling transformatif secara visual, yaitu clearing, melalui studi kasus berikut:
Studi Kasus: "Seorang ATLM menerima sampel hati dari ruang operasi untuk dibuat preparat. Selama proses pematangan jaringan, ATLM tersebut melakukan tahapan clearing dengan menggunakan xylol."
Kita akan menjawab pertanyaan HOTS (Higher-Order Thinking Skills) yang sangat praktis ini: Bagaimana menentukan bahwa hasil tersebut berhasil?
Identifikasi Masalah: Menentukan Titik Akhir Proses Penjernihan
Pertanyaan ini menuntut pemahaman tentang tujuan fundamental dari tahap clearing dan bagaimana tujuan tersebut bermanifestasi dalam perubahan fisik pada jaringan. Tahap clearing berfungsi sebagai jembatan kimiawi antara tahap dehidrasi yang berbasis alkohol dan tahap infiltrasi yang berbasis parafin (lilin/minyak). Alkohol dan parafin tidak dapat bercampur, sehingga diperlukan agen perantara (agen penjernih) yang dapat bercampur dengan keduanya. Xylol (Xilena) adalah agen penjernih yang paling umum digunakan.
Fungsi utama clearing adalah menggantikan sepenuhnya alkohol dehidran dari dalam jaringan dengan agen penjernih (xylol). Pertanyaannya adalah, bagaimana kita tahu kapan penggantian ini sudah tuntas?
Analisis Prinsip Fisika di Balik "Clearing"
Istilah "clearing" (penjernihan) merujuk pada perubahan properti optik jaringan selama proses tersebut.
Indeks Bias (Refractive Index): Setiap substansi memiliki indeks bias, yaitu kemampuan untuk membelokkan cahaya.
Jaringan Sebelum Clearing: Setelah dehidrasi, jaringan terisi penuh oleh alkohol. Alkohol memiliki indeks bias yang rendah (sekitar 1.36), yang sangat berbeda dari indeks bias protein dalam jaringan (sekitar 1.54). Perbedaan besar ini menyebabkan banyak cahaya yang tersebar saat melewati jaringan, sehingga jaringan tampak opak dan berwarna keputihan.
Proses Clearing: Agen penjernih seperti xylol memiliki indeks bias yang tinggi (sekitar 1.50), yang sangat mendekati indeks bias protein jaringan.
Jaringan Setelah Clearing Sempurna: Ketika xylol telah sepenuhnya menggantikan alkohol di dalam jaringan, perbedaan indeks bias antara komponen jaringan dan cairan di sekitarnya menjadi sangat kecil. Akibatnya, cahaya dapat melewati jaringan dengan sedikit sekali hamburan atau pembelokan. Secara visual, ini membuat jaringan kehilangan opasitasnya dan tampak transparan, bening, atau translusen (Bancroft & Gamble, 2008).
Perubahan dari opak menjadi transparan inilah indikator visual utama bahwa tahap clearing telah berhasil dan tuntas.
Evaluasi Kritis Pilihan Jawaban (Analisis HOTS)
Berdasarkan prinsip fisika optik di atas, mari kita evaluasi setiap pilihan:
A. Jaringan bening dan transparan: ✅ Ini adalah jawaban yang paling tepat. Penampilan yang bening dan transparan adalah bukti fisik dan optik bahwa alkohol telah berhasil digantikan oleh xylol, sesuai dengan prinsip kerja tahap clearing.
B. Jaringan terasa kenyal saat dipegang: Tekstur "kenyal" bukanlah indikator keberhasilan clearing. Justru sebaliknya, paparan xylol yang terlalu lama (over-clearing) dapat membuat jaringan menjadi keras dan rapuh, yang akan menyulitkan proses pemotongan.
C. Jaringan berwarna coklat dan bertekstur kenyal: Perubahan warna menjadi coklat bukanlah ciri khas dari proses clearing yang berhasil dan tekstur kenyal juga bukan indikator yang tepat.
D. Jaringan terlihat putih bersih: Tampilan putih bersih dan opak adalah ciri khas jaringan yang belum selesai di-clearing atau bahkan belum terdehidrasi dengan sempurna. Ini menunjukkan bahwa alkohol masih mendominasi di dalam jaringan.
E. Jaringan terasa sedikit lembek saat dipegang: Tekstur yang lembek atau lunak biasanya menandakan kegagalan pada tahap fiksasi atau dehidrasi, bukan keberhasilan clearing. Ini adalah tanda sediaan yang berkualitas buruk.
Kesimpulan dan Implikasi Praktis bagi ATLM
Seorang ATLM yang andal menggunakan pengetahuan ilmiahnya untuk membuat penilaian praktis di laboratorium. Dalam kasus clearing, pemahaman tentang konsep indeks bias memungkinkan ATLM untuk menggunakan matanya sebagai alat kontrol kualitas.
Poin Kunci untuk Diingat:
Indikator Utama: Jaringan yang opak/putih (setelah dehidrasi) berubah menjadi transparan/bening saat clearing selesai.
Risiko: Meskipun transparan adalah tujuannya, proses clearing harus diatur waktunya dengan cermat. Paparan xylol yang berlebihan akan membuat jaringan menjadi keras dan rapuh, sehingga sulit untuk dipotong.
Kemampuan untuk mengenali titik akhir clearing secara visual memastikan bahwa jaringan siap untuk tahap selanjutnya (infiltrasi parafin) dan pada akhirnya akan menghasilkan sediaan mikroskopis berkualitas tinggi.
Daftar Pustaka
Bancroft, J. D., & Gamble, M. (Eds.). (2008). Theory and practice of histological techniques (6th ed.). Churchill Livingstone Elsevier.
Carson, F. L., & Hladik, C. (2009). Histotechnology: A self-instructional text (3rd ed.). ASCP Press.
Materi Ajar: Pemilihan Pewarna Inti dalam Sitopatologi
Judul: Memahami Karakteristik Pewarna Hematoxylin untuk Visualisasi Detail Nukleus
Pendahuluan
Dalam sitopatologi diagnostik, evaluasi morfologi inti sel (nukleus) adalah hal yang paling utama. Detail seperti distribusi kromatin, bentuk membran inti, dan visualisasi anak inti (nukleolus) memberikan petunjuk krusial bagi patolog untuk membedakan antara sel jinak, atipik, dan ganas. Oleh karena itu, pemilihan dan penggunaan pewarna inti yang tepat adalah keterampilan fundamental bagi seorang Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM).
Materi ini akan membahas permintaan spesifik dari seorang patolog untuk menonjolkan detail inti, seperti yang digambarkan dalam skenario berikut:
Studi Kasus: "ATLM diminta dokter PA untuk membuat pewarnaan rutin pada sediaan sitologik sputum. Dokter meminta ATLM menggunakan pewarna agar anak inti terwarnai dengan jelas."
Kita akan menganalisis karakteristik pewarna yang diperlukan untuk memenuhi permintaan ini dan menjawab pertanyaan HOTS: Apa karakteristik dari pewarnaan tersebut?
Identifikasi Masalah: Kebutuhan akan Pewarnaan Inti yang Presisi
Permintaan dokter sangat spesifik: anak inti (nukleolus) harus terwarnai dengan jelas. Nukleolus adalah struktur di dalam inti yang kaya akan RNA dan protein, dan ukurannya sering kali membesar pada sel-sel yang aktif secara metabolik atau sel ganas. Untuk dapat mewarnainya dengan jelas, diperlukan pewarna inti yang memiliki sifat kimia tertentu.
Dalam pewarnaan sitologi rutin (seperti Papanicolaou/Pap Stain), pewarna yang bertanggung jawab untuk mewarnai inti dan komponennya adalah Hematoxylin. Hematoxylin bukanlah pewarna dalam bentuk aktifnya. Ia harus dioksidasi terlebih dahulu menjadi hematein dan kemudian dikombinasikan dengan sebuah mordant (garam logam, biasanya aluminium atau besi) untuk membentuk sebuah "danau pewarna" (dye lake). Kompleks danau pewarna inilah yang memiliki muatan positif dan mampu berikatan dengan komponen sel yang bermuatan negatif.
Analisis Prinsip Kimia Pewarnaan Hematoxylin
Kunci untuk menjawab pertanyaan ini terletak pada pemahaman tentang sifat kimia dari target pewarnaan dan pewarna itu sendiri.
Target Pewarnaan (Komponen Inti): Inti sel, termasuk kromatin (yang mengandung DNA) dan anak inti (yang mengandung rRNA), kaya akan asam fosfat. Gugus fosfat ini memberikan muatan negatif yang kuat pada komponen-komponen tersebut. Karena sifatnya yang asam (mampu mendonorkan proton), komponen ini disebut basofilik (suka basa).
Pewarna yang Dibutuhkan: Untuk dapat berikatan kuat dengan target yang bermuatan negatif dan bersifat asam, pewarna yang dibutuhkan harus memiliki karakteristik sebaliknya. Kompleks danau pewarna hematein-mordant memiliki muatan positif yang kuat. Pewarna dengan sifat ini, yang mampu mewarnai struktur asam, disebut sebagai pewarna basa atau alkalin.
Sifat alkalin dari kompleks Hematoxylin inilah yang memungkinkannya berikatan secara efektif dengan asam nukleat di dalam inti dan anak inti, menghasilkan warna biru hingga ungu yang tajam dan jelas.
Evaluasi Kritis Pilihan Jawaban (Analisis HOTS)
Berdasarkan prinsip kimia "asam berikatan dengan basa", mari kita evaluasi setiap pilihan:
A. Warnanya tidak sama dengan wright: Pewarnaan Wright adalah jenis pewarnaan Romanowsky yang menghasilkan spektrum warna berbeda (inti ungu, sitoplasma biru, granula eosinofil merah). Menyatakan warnanya tidak sama adalah sebuah fakta, tetapi ini adalah deskripsi hasil, bukan karakteristik kimia intrinsik dari pewarna inti itu sendiri.
B. Mudah menguap: Sifat fisik seperti volatilitas (mudah menguap) tidak berhubungan dengan kemampuan pewarna untuk berikatan dengan anak inti.
C. Alkalin: ✅ Ini adalah jawaban yang paling tepat. Seperti yang telah dianalisis, karakteristik kimia fundamental dari pewarna inti seperti Hematoxylin yang mampu mewarnai struktur asam (basofilik) seperti anak inti adalah sifatnya yang basa atau alkalin (dalam bentuk kompleks danau pewarnanya).
D. Kental: Viskositas (kekentalan) adalah sifat fisik yang tidak menentukan spesifisitas pewarnaan pada level molekuler.
E. Berbau: Bau adalah sifat fisik lain yang tidak memiliki relevansi dengan mekanisme kerja pewarnaan inti.
Kesimpulan dan Implikasi Praktis bagi ATLM
Pemahaman tentang prinsip kimia dasar pewarnaan adalah hal yang membedakan seorang teknisi dari seorang teknolog profesional. Seorang ATLM harus memahami mengapa suatu pewarna bekerja, bukan hanya bagaimana menggunakannya.
Poin Kunci untuk Diingat:
Asam ↔️ Basa: Struktur sel yang bersifat asam (basofilik), seperti inti dan anak inti, akan diwarnai oleh pewarna yang bersifat basa/alkalin.
Basa ↔️ Asam: Struktur sel yang bersifat basa (asidofilik/eosinofilik), seperti sitoplasma dan kolagen, akan diwarnai oleh pewarna yang bersifat asam (misalnya, Eosin).
Memilih dan melakukan troubleshooting pada prosedur pewarnaan untuk memenuhi permintaan spesifik dari patolog pada akhirnya berkontribusi pada diagnosis pasien yang akurat.
Daftar Pustaka
Carson, F. L., & Hladik, C. (2009). Histotechnology: A self-instructional text (3rd ed.). ASCP Press.
Koss, L. G., & Melamed, M. R. (Eds.). (2006). Koss' diagnostic cytology and its histopathologic bases (5th ed.). Lippincott Williams & Wilkins.
Materi Ajar: Analisis Kritis Artefak dalam Pewarnaan Histologi
Judul: Mengidentifikasi Penyebab Pewarnaan Tidak Merata: Analisis Artefak "Batasan Tegas"
Pendahuluan
Pewarnaan Hematoxylin & Eosin (H&E) adalah pilar utama dalam laboratorium patologi anatomi. Kemampuannya untuk menampilkan struktur inti (biru/ungu) dan sitoplasma (merah muda) menjadikannya standar emas untuk diagnosis histologis. Namun, seperti proses multi-langkah lainnya, pewarnaan H&E rentan terhadap berbagai artefak. Kemampuan seorang Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) untuk mengenali, menganalisis, dan memecahkan masalah artefak ini adalah kompetensi krusial yang menjamin kualitas dan keandalan diagnostik.
Materi ini akan membahas sebuah skenario artefak pewarnaan yang sangat spesifik dan sering dijumpai:
Studi Kasus: "Hasil dari sediaan yang diwarnai dengan Hematoxylin Eosin menunjukkan ada bagian-bagian dari sediaan tidak terwarnai dengan baik. Ciri-ciri hasil pewarnaan menunjukkan ada bagian yang berwarna tebal dan tipis. Kondisi tebal tipisnya pewarnaan terlihat jelas dengan adanya batasan yang tegas."
Kita akan membedah petunjuk dalam kasus ini untuk menjawab pertanyaan HOTS: Apa yang memungkinkan hal itu terjadi?
1. Identifikasi Masalah: Menerjemahkan Petunjuk Kunci "Batasan yang Tegas"
Deskripsi dalam kasus ini memberikan beberapa petunjuk, namun ada satu yang paling penting untuk mengarahkan diagnosis masalah: "adanya batasan yang tegas".
Dalam analisis artefak, bentuk dan karakteristik batas sebuah masalah memberikan informasi yang sangat berharga:
Batas yang Difus/Gradual: Sering kali menunjukkan masalah yang bersifat kimiawi atau biologis, seperti fiksasi yang lambat meresap ke tengah jaringan atau reagen yang terkontaminasi secara perlahan.
Batas yang Tajam/Tegas dan Linear: Hampir selalu menunjukkan penyebab yang bersifat fisik atau mekanis. Ini mengindikasikan bahwa ada sebuah intervensi fisik yang memisahkan satu area dari area lainnya.
Bayangkan sebuah garis air pada dinding setelah banjir. Garis tersebut tajam dan horizontal. "Batasan yang tegas" pada sediaan mikroskopis sering kali disebabkan oleh fenomena serupa: level cairan.
2. Analisis Penyebab Utama: Level Cairan Reagen yang Tidak Adekuat
Proses pewarnaan, baik manual maupun otomatis, melibatkan perendaman sediaan secara berurutan ke dalam serangkaian wadah (jar atau chamber) yang berisi berbagai reagen: Hematoxylin, Eosin, alkohol bertingkat, air, dan Xylol.
Jika volume salah satu larutan di dalam wadah ini tidak mencukupi (terlalu rendah), maka sediaan yang tercelup di dalamnya tidak akan terendam sepenuhnya. Bagian jaringan yang berada di atas permukaan cairan akan melewatkan langkah tersebut. Hal ini akan menciptakan sebuah artefak dengan garis batas horizontal yang sangat tajam, yang memisahkan area yang terendam (terproses dengan benar) dari area yang tidak terendam (tidak terproses).
Contoh Skenario: Jika level Eosin terlalu rendah, maka bagian bawah sediaan akan terwarnai merah muda, sementara bagian atasnya (yang tidak tercelup) hanya akan menampilkan warna biru dari Hematoxylin pada inti. Batas antara area merah muda dan area biru akan sangat tegas, sesuai dengan level cairan Eosin di dalam wadah.
3. Evaluasi Kritis Pilihan Jawaban (Analisis HOTS)
Dengan memahami bahwa "batasan tegas" menunjuk pada masalah level cairan, mari kita evaluasi setiap pilihan:
A. Zat warna yang tidak homogen ketika digunakan: Reagen yang tidak homogen atau memiliki endapan akan menyebabkan pewarnaan yang bernoda, berbintik, atau tidak merata secara acak di seluruh sediaan, bukan sebuah garis batas yang tegas.
B. Pemotongan di mikrotom yang tidak rata: Ini adalah penyebab umum pewarnaan yang terlihat "tebal dan tipis". Namun, artefak ini biasanya muncul sebagai guratan paralel, getaran (chatter), atau lipatan, yang polanya tidak membentuk satu garis batas tunggal yang tegas memisahkan dua area besar.
C. Tahap fiksasi yang tidak sempurna: Fiksasi yang tidak merata (misalnya, pada spesimen besar) menyebabkan bagian tengah jaringan menjadi pucat dan sulit diwarnai. Namun, batas antara area yang terfiksasi baik dan buruk biasanya mengikuti kontur biologis jaringan dan bersifat difus, bukan garis lurus yang arbitrer.
D. Pewarnaan HE tidak penuh di rak pewarnaan: ✅ Ini adalah jawaban yang paling tepat. Frasa ini secara langsung mendeskripsikan kondisi di mana larutan pewarna (atau larutan lain dalam seri pewarnaan) tidak cukup tinggi untuk merendam seluruh sediaan. Ini adalah satu-satunya penyebab yang secara konsisten menghasilkan artefak "tebal-tipis" atau "terwarnai-tidak terwarnai" dengan batasan yang tegas dan lurus.
E. Pencucian yang tidak baik dalam pewarnaan: Pencucian yang tidak adekuat (misalnya, setelah Hematoxylin) biasanya menyebabkan sisa zat warna biru menodai komponen lain, menghasilkan latar belakang yang kebiruan atau pewarnaan yang "kotor". Ini tidak akan menciptakan garis batas yang tegas kecuali jika air cucian itu sendiri levelnya terlalu rendah, yang pada dasarnya adalah masalah yang sama dengan pilihan D.
4. Kesimpulan dan Implikasi Praktis bagi ATLM
Analisis artefak adalah keterampilan investigatif. Dengan memperhatikan detail seperti bentuk dan ketajaman batas masalah, seorang ATLM dapat menyimpulkan penyebab yang paling mungkin.
Praktik Terbaik dan Solusi:
Kontrol Volume Reagen: Sebelum memulai proses pewarnaan, selalu periksa level cairan di setiap wadah. Pastikan cukup tinggi untuk merendam seluruh bagian sediaan pada slide.
Top-Up Secara Berkala: Reagen dapat berkurang volumenya karena penguapan dan terbawa oleh rak sediaan (carry-over). Lakukan penambahan reagen secara berkala untuk menjaga volume yang adekuat.
Penempatan Sediaan: Pastikan rak sediaan ditempatkan dengan benar dan tercelup sepenuhnya di dalam wadah selama durasi yang ditentukan.
Dengan perhatian yang cermat terhadap detail operasional yang tampaknya sepele seperti volume reagen, seorang ATLM dapat mencegah artefak yang membingungkan dan secara konsisten menghasilkan sediaan H&E berkualitas tinggi yang siap untuk didiagnosis.
Daftar Pustaka
Carson, F. L., & Hladik, C. (2009). Histotechnology: A self-instructional text (3rd ed.). ASCP Press.
Suvarna, S. K., Layton, C., & Bancroft, J. D. (2019). Bancroft's theory and practice of histological techniques (8th ed.). Elsevier.
Materi Ajar: Analisis Kritis Prosedur Pra-Analitik untuk Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik
Judul: Prinsip Fiksasi pada Spesimen Sitologi Cairan vs. Jaringan Padat: Studi Kasus Pengawetan Sampel Urin
Pendahuluan
Tahap pra-analitik, yang mencakup penanganan dan pengawetan spesimen, adalah fondasi dari diagnosis yang akurat di laboratorium patologi anatomi. Kesalahan pada tahap awal ini tidak dapat diperbaiki pada tahap selanjutnya dan dapat mengorbankan kualitas spesimen. Seorang Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) harus memiliki pemahaman mendalam tentang prinsip fiksasi dan mampu menerapkannya secara tepat sesuai dengan jenis spesimen yang dihadapi. Hal ini menjadi sangat krusial ketika spesimen perlu ditransportasikan dalam waktu lama.
Materi ini akan mengupas sebuah skenario pra-analitik yang menuntut pemikiran kritis:
Studi Kasus: "Seorang ATLM yang bekerja di laboratorium Patologi Anatomi Rumah Sakit X menerima sampel urin dari pasien terdiagnosa Ca vesica urinaria. Laboratorium tersebut belum dapat melakukan pemeriksaan yang dimaksud, sehingga sampel harus dikirim ke RS yang lebih besar. Diperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk pengiriman sampel lebih dari 12 jam, sehingga perlu dilakukan fiksasi."
Kita akan menganalisis kasus ini untuk menjawab pertanyaan HOTS: Berapa perbandingan volume yang dibutuhkan pada proses fiksasi tersebut?
1. Identifikasi Masalah dan Konteks Klinis
Jenis Spesimen: Urin, yang merupakan spesimen sitologi cair (liquid-based cytology). Sel-sel diagnostik (dalam kasus ini, sel kanker kandung kemih) berada dalam kondisi lepas (tidak terikat dalam sebuah arsitektur jaringan) dan tersuspensi di dalam matriks cairan.
Tantangan Logistik: Transportasi memerlukan waktu >12 jam. Tanpa fiksasi, sel-sel di dalam urin akan mengalami degenerasi atau autolisis akibat enzim, pH yang tidak stabil, dan kontaminasi bakteri. Hal ini akan merusak morfologi sel dan membuat diagnosis menjadi tidak mungkin.
Tujuan Fiksasi: Mengawetkan sel-sel dalam kondisi life-like, menjaga detail morfologi inti dan sitoplasma, serta mencegah dekomposisi selama transportasi.
2. Analisis Kritis: Membedakan Prinsip Fiksasi Histologi vs. Sitologi
Ini adalah inti dari pemecahan masalah. Banyak mahasiswa keliru menerapkan satu prinsip fiksasi untuk semua jenis spesimen. Padahal, fiksasi untuk jaringan padat (histologi) dan sel lepas (sitologi) sangat berbeda.
Prinsip Fiksasi Histologi (Jaringan Padat)
Tujuan utamanya adalah penetrasi zat fiksatif ke seluruh ketebalan jaringan. Untuk memastikan fiksasi berjalan sempurna dan mencegah kelelahan fiksatif (di mana fiksatif menjadi terlalu encer oleh cairan jaringan), dibutuhkan volume fiksatif yang jauh lebih besar daripada volume jaringan. Rasio volume spesimen terhadap fiksatif yang umum digunakan adalah 1:10 hingga 1:20 (Suvarna et al., 2019). Rasio besar ini memastikan bahwa konsentrasi fiksatif tetap efektif di seluruh proses. Pilihan jawaban A, B, C, D, dan E dalam soal mencerminkan prinsip ini.Prinsip Fiksasi Sitologi (Spesimen Cairan)
Tujuannya berbeda. Sel-sel sudah terpapar langsung dengan medium cair, sehingga tidak ada isu "penetrasi". Tujuannya adalah untuk mencapai konsentrasi akhir fiksatif yang efektif di dalam campuran spesimen dan fiksatif. Metode standar untuk mengawetkan spesimen sitologi cair seperti urin adalah dengan menambahkan fiksatif berbasis alkohol (misalnya, Etanol 50-70%) ke dalam sampel. Praktik yang paling umum dan direkomendasikan adalah menambahkan volume fiksatif yang sama dengan volume spesimen. Ini menghasilkan perbandingan volume spesimen terhadap fiksatif sebesar 1:1 (Koss & Melamed, 2006; Bibbo & Wilbur, 2015). Contohnya, 50 mL urin ditambahkan 50 mL Etanol 50%.
3. Evaluasi Kritis Pilihan Jawaban (Analisis HOTS)
Sekarang, mari kita evaluasi pilihan jawaban dengan menggunakan pemahaman yang benar tentang fiksasi sitologi.
A. 1: 5
B. 1: 10
C. 1: 15
D. 1: 20
E. 1: 25
Analisis Kritis: Semua pilihan jawaban yang diberikan (1:5, 1:10, dst.) adalah rasio yang digunakan untuk fiksasi jaringan histologis, bukan untuk spesimen sitologi cair seperti urin.
Mengapa menggunakan rasio ini salah untuk urin?
Mari kita bayangkan kita menerapkan rasio 1:10 (pilihan B) pada 50 mL sampel urin. Ini berarti kita harus menambahkan 500 mL fiksatif. Konsekuensinya adalah:
Pengenceran Ekstrem: Sampel sel menjadi sangat encer. Akan sangat sulit dan tidak efisien untuk mengumpulkan sel dalam jumlah yang cukup saat pemrosesan nanti (misalnya, saat sentrifugasi atau pembuatan sediaan LBC/Liquid-Based Cytology).
Tidak Praktis: Membutuhkan wadah yang sangat besar dan boros reagen tanpa memberikan manfaat tambahan untuk pengawetan sel.
Dengan demikian, tidak ada satupun dari pilihan A hingga E yang mewakili praktik terbaik (best practice) atau prosedur standar untuk fiksasi spesimen sitologi urin.
4. Kesimpulan dan Jawaban yang Tepat Berdasarkan Prinsip Keilmuan
Pertanyaan HOTS ini dirancang untuk menguji apakah mahasiswa dapat:
Mengidentifikasi jenis spesimen dengan benar (sitologi cair).
Membedakan prinsip fiksasi untuk berbagai jenis spesimen.
Mengenali bahwa pilihan yang diberikan tidak sesuai dengan konteks spesimen.
Jawaban yang Seharusnya:
Prosedur yang benar untuk fiksasi sampel urin untuk transportasi adalah dengan menambahkan fiksatif berbasis alkohol (seperti Etanol 50%) dengan perbandingan volume 1:1 (satu bagian urin dan satu bagian fiksatif).
Implikasi bagi ATLM:
Seorang ATLM yang kritis tidak akan langsung memilih salah satu jawaban yang tersedia. Mereka akan menyadari bahwa pertanyaan ini menjebak dengan menyajikan pilihan yang valid untuk konteks yang salah (histologi). Dalam situasi nyata, ATLM harus mengikuti protap laboratorium yang benar, yaitu menggunakan perbandingan 1:1 untuk fiksasi urin. Pemahaman fundamental ini jauh lebih penting daripada sekadar menghafal angka, dan inilah esensi dari Higher-Order Thinking Skills.
Daftar Pustaka (APA 7th Edition)
Bibbo, M., & Wilbur, D. C. (Eds.). (2015). Comprehensive cytopathology (4th ed.). Elsevier Saunders.
Koss, L. G., & Melamed, M. R. (Eds.). (2006). Koss' diagnostic cytology and its histopathologic bases (5th ed.). Lippincott Williams & Wilkins.
Suvarna, S. K., Layton, C., & Bancroft, J. D. (2019). Bancroft's theory and practice of histological techniques (8th ed.). Elsevier.